Aspek OrganisasiBudaya Selamat (Safety Culture)

Budaya K3 & Iklim K3 : Definisi, Sejarah dan Penerapan

Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terminiologi “budaya K3 (keselamatan dan kesehatan kerja)” pertama kali muncul pada laporan bencana Nuklir Chernobyl tahun 1986 yang diterbitkan oleh International Nuclear Safety Advisory Group (INSAG). Pada laporan tersebut, “budaya K3” didefinisikan sebagai “… rangkaian karakteristik dan sikap dari organisasi serta individu yang menjadikan prioritas utama terkait dengan isu-isu keselamatan instalasi nuklir untuk mendapatkan perhatian yang dijamin secara signifikan”

…assembly of characteristics and attitudes in organizations and individuals with established that, as an overriding priority, nuclear plant safety issues receive the attention warranted by their significance ’ ( INSAG, 1991 )

Bencana Chernobyl merupakan kejadian kebocoran nuklir yang disebabkan oleh kegagalan dalam uji keselamatan sehingga mengakibatkan 31 orang meninggal langsung dan 15 orang meninggal setelah kejadian. Bencana Chernobyl mengakibatkan penduduk dalam radius 30 KM harus melakukan evakuasi.

Definisi Budaya K3 dan Iklim K3

Beberapa definisi ekspilisit dan implisit dari budaya keselamatan dan kesehatan kerja telah disebutkan dalam literatur. Definisi yang diberikan oleh Advisory Committee on the Safety of Nuclear Installations (ACSNI) tahun 1993 telah diadopsi oleh Health and Safety Executive dan dinilai paling “eksplisit” dalam buku Lee’s Process Safety Esential. Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja didefinisikan sebagai:

“Budaya K3 adalah sebuah produk dari nilai dalam individu dan kelompok, sikap, persepsi, kompetensi dan pola perilaku yang menentukan komitmen untuk melakukan sesuatu, serta gaya dan profisiensi dari manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dari sebuah organisasi. “

Selain definisi dari Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja, penting juga bagi kita untuk membedakan antara budaya Keselamatan dan kesehatan kerja serta iklim K3. Berdasarkan pendapat Cooper (2000), terminologi budaya keselamatan dan kesehatan kerja dapat digunakan untuk mengacu pada budaya dalam segala aspeknya seperti tindakan-tindakan yang pekerja lakukan serta mengacu juga pada aspeks situasional dalam perusahaaan seperti “apa yang organisasi miliki”. Ikilm K3 harus digunakan untuk mengacu pada karakter psikologis dari pekerja seperti “apa yang pekerja rasakan”, didampingi oleh nilai-nilai, sikap serta persepsi dari pekerja terkait keselamatan dalam sebuah organisasi. Budaya dapat dipandang sebagai sebuah  latar belakang (background) pengaruh dalam sebuah organisasi, sedangkan iklim lebih terlihat di depan (foreground). Sehingga, iklim K3 berganti lebih cepat dan siap dibandingkan dengan budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Sejarah Budaya K3

Seperti yang telah disebutkan di awal, budaya k3 pertama kali muncul pada laporan bencana nuklir di Chernobyl pada tahun 1986. Semenjak itu, banyak penelitian-penelitian muncul terkait dengan budaya Keselamatan dan kesehata kerja.

Pada tahun 1999, sebuah kecelakaan kereta api terjadi Landbroke Grove London yang menewaskan 31 orang dan melukai lebih dari 258 orang. Kecelakaan itu menghasilkan “Laporan Cullen” yang mendefinisikan budaya K3 sebagai sebuah “Cara untuk melakukan sesuatu yang biasa kita sering lakukan”.

budaya k3Budaya K3 harus diterapkan dimanapun

Tidak ada laporan resmi yang bisa ditemukan tentang kapan pertama kali istilah budaya K3 digunakan di Indonesia. Namun, setidaknya  Komite Nasional Keselamatan Transportasi telah menyebutkan “budaya K3” pada Laporan Investigasi Kecelakaan Kereta Api tabrakan antara Rangkaian Kereta Api KA146 Empu Jaya dengan KA153 Gaya Baru Malam Selatan di tahun 2003. International Labor Organization telah menggunakan terminology “safety culture” pada Working Paper 9 tahun 2004 yang berjudul Occupational Health and Safety Indonesia. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional telah membuat target untuk membuat keselamatan dan kesehatan kerja sebagai budaya guna mendukung Indonesia Sehat tahun 2010. Kementerian Tenaga Kerja pun pernah membuat target Indonesia Berbudaya K3 tahun 2015.

Menerapkan Budaya K3

Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (safety culture) dapat diterapkan dengan menggunakan bantuan dari model budaya K3. Berikut adalah beberapa model budaya keselamatan dan kesehata yang dikutip dalam Lees Process Safety Esentials:

Model Budaya K3 HSE

Health and Safety Executive (HSE) merupakan regulator K3 dari Inggris. Mereka membuat model budaya K3 yang terdiri dari 5 tahapan. Tahapan pertama menunjukkan bahwa perusahaan melaksanakan K3 hanya untuk menghindari hukuman baik dari pemerintah, pekerja atau masyarakat. Tahap kedua menunnjukkan bahwa K3 lebih penting namun pelaksanaan lebih ke reaktif daripada preventif sehingga manajemen percaya bahwa problem K3 disebabkan oleh kesalahan dari pekerja. Pada tahap ketiga, kecelakaan kerja sudah lebih rendah dan manajemen menyadari bahwa pekerja merupakan bagian untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja ke depannya. Tahap keempat merupakan tahap di mana seluruh elemen pekerja menyadari pentingnya K3 dan manajemen serta pekerja memiliki kontribusinya masing-masing dalam budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Pada tahap kelima, K3 di perusahaan dianggap sudah matang dengan investasi yang bagus dalam meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Gambar Model Budaya K3 versi HSE UK

Model Budaya K3 Hati dan Pikiran dari Shell (Shell’s Heart and Safety Model)

Pada model budaya keselamatan dan kesehatan kerja hati dan pikiran dari Shell juga menggunakan 5 tahap sebagaimana model budaya keselamatan dan kesehatan kerja HSE. Pada tahap patologikal, isu K3 menjadi bahan manajemen untuk menyalahkan pekerja, manajemen tidak peduli isu K3 kecuali mereka sedang disorot. Tahap reaktif menunjukkan bahwa K3 lebih penting namun masih bersifiat mentah karena K3 hanya ada setelah kecelakaan. Pada kategori kalkulatif, K3 sangat berdasarkan data sehingga apapun yang dibilang oleh data analisis akan diikuti secara membabi buta. Pada kategori proaktif, K3 diikuti oleh organisasi secara serius oleh manajemen dan pekerja lapangan. Kategori generative menunjukkan bahwa budaya keselamatan dan kesehatan kerja telah meningkat lebih jauh sehingga K3 terintegrasi dalam berbagai macam aspek bisnis dari perusahaan.

budaya k3 model Shell heart and mindGambar Model Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Hati dan Pikiran Shell

Model Budaya K3 dari Dupont

Penjelasan lebih lengkap dari model budaya keselamatan dan kesehatan kerja dupont dapat dilihat pada tulisan Identifikasi Tingkat Budaya K3 (Safety Culture) Menggunakan Kurva Bradley.

budaya k3 model bradley

Referensi:

Mannan, Sam. 2014. Lee’s Process Safety Esentials. Oxford: Elsevier.

 

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Saya berharap Anda selalu selamat

Komentar Anda?

Close
Close