Kesehatan kerja

Penyebab Keracunan di Hulu Migas : Salmonella

Seri Bahaya Biologi : Karakteristik dan Strategi Pencegahan (bag 1)

Kegiatan industri migas adalah sebuah rangakaian proses industri yang kompleks. Terdapat sedikitnya lima tahapan yang harus dilakukan yakni:

  • tahap eksplorasi
  • produksi
  • pengolahan
  • transportasi
  • pemasaran.

Kelima tahapan proses industri ini dibagi menjadi 2 tahapan besar yakni kegiatan hulu (upstream) dan kegiatan hilir (downstream). Bekerja di sektor hulu migas (offshore) misalnya mempunyai risiko yang tidak kecil. Bahaya yang mungkin terjadi seperti bahaya ergonomis, bahaya kimia, bahaya radioaktif,bahaya biologi  dan bahaya fisika.

Bahaya Biologi
Bahaya Biologi

Bahaya Biologi

Kontrol dan pengawasan yang kurang bagus khususnya terkait makanan untuk pekerja dapat menjadi faktor risiko penyabab terjadinya keracunan makanan. Selain itu hygiene dan sanitasi para pekerja di offshore yang kurang baik bisa memicu munculnya bahaya biologi ini.

Tingkat keparahan dan gejala klinis tergantung dari jenis bakteri ataupun virus, parasit dan toksin yang mengkontaminasi bahan makanan tersebut. Beberapa gejala klinis yang sering muncul antara lain muntah, diare, nausea, perut terasa sakit.  Bahkan, risiko terhadap kematian akibat keracunan makanan dapat muncul. Kita memerlukan manajemen risiko yang baik untuk mengontrol kesehatan pekerja dari bahaya biologi seperti kontaminasi Legionella sp dari saluran pipa, termasuk instalasi AC atapun shower.

Selain itu, salah satu bahaya biologi yang mempunyai potensi merugikan kepada para pekerja di bidang migas (hulu migas) adalah adanya keracunan makanan (food poisoning) yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.  Sebagai seorang professional K3, terutama ahli Industrial Hygienist di Perusahaan Migas terkadang kita harus melakukan investigasi keracunan makanan (food poisoning) terhadap pekerja.

Keracunan Makanan
Keracunan makanan
Sumber: https://www.industryglobalnews24.com/leftover-food-left-out-for-too-long-can-cause-food-poisoning-cdc-says

Kita harus mampu memahami titik kritis di setiap tahapan rantai pasokan pangan ke pekerja, sehingga kita bisa menemukan sumber penyebab kontaminasi bahan pangan tersebut. Setelah itu, kita harus melakukan langkah-langkah preventif ataupun pengendalian ataupun penangan kasus yang sudah terjadi untuk tindakan koreksi ke depan.

Pada tulisan kali ini kita akan membicarakan terkait profile atau karakteristik dari bahaya biologis tersebut (Bakteri Salmonella sp) serta bagaimana pengendalian dan pencegahannya secara umum. Berikut diuraikan terkait profile bahaya biologis tersebut.

Karakteristik Salmonella

Sampai ke pertengahan abad 20, istilah umum Bacterium atau Bacillus digunakan untuk mendeskripsikan grup besar gram negatif dan tidak berspora ketika berada di dalam saluran pencernaan hewan dan manusia, di dalam tubuh tanaman, dan di dalam tanah, serta berperan sebagai salah satu dari bakteri saprofit, komensalis, atau patogen. Salmonella sp. masuk ke dalam grup ini.  Di 1960-an, nama Salmonella sp. diterima luas sebagai salah satu genus yang spesifik dari family Enterobacteriaceae.  Salmonella sp. masuk ke dalam Approved List of Bacterial Names Published pada tahun 1980 (Bell dan Kyriakides 2002).

Salmonella sp. dapat diklasifikasikan berdasarkan somatik (O), flagela (H), dan kapsula (Vi) dari pola antigenik mereka.  Terdapat 2463 serotipe Salmonella sp.  dan saat ini diketahui ada dua spesies yaitu Salmonella enterica dan Salmonella bongori. 

Salmonella enterica terdiri dari enam subspesies, yaitu: enterica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae, dan indica.  Genus bakteri ini mempunyai struktur antigen yang tidak stabil dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu. Selain itu, bakteri ini pada suatu saat dapat membentuk variasi baru secara tiba-tiba (Bhunia 2008; Todar 2011).  Berdasarkan struktur antigennya subspesies dibagi menjadi serovar/serotipe.  Penulisan nama spesies dicetak miring dengan huruf kapital pada awal kata pertama, sedangkan awal kata kedua tidak menggunakan huruf kapital (contoh: Salmonella enterica).  Kata pertama menunjukkan genus dan kata kedua menunjukkan spesies.  Penuliskan nama subspesies dengan cara kata pertama diawali huruf kapital dan dicetak miring (menunjukkan genus), sedangkan  pada kata kedua tidak diawali huruf kapital dan tidak dicetak miring (Salmonella enterica subspesies salamae).

Penulisan nama serovar dengan kata pertama dan kedua diawali huruf kapital, dan hanya huruf pada kata pertama yang dicetak miring (contoh: Salmonella Enteritidis) (Murray 1991).  Menurut Pui et al (2011), dosis infektif Salmonella sp. tergantung pada serovar, strain bakteri, kondisi pertumbuhan, dan kesesuaian inang.  Dosis infektif Salmonella sp. dari 1-109 cfu/gram.  Akan tetapi, pada kelompok YOPI (young, old, pregnant, dan immunosupressive) dapat terinfeksi dengan dosis sangat rendah sekalipun.

Salmonella sp. merupakan salah satu bakteri gram negatif yang berbentuk batang dengan ukuran 0.7-1.5 x 2.0-5.0 µm, bergerak motil dengan flagela peritrik (Bell dan Kyriakides 2002), kecuali pada Salmonella Gallinarum dan Salmonella Pullorum (Bhunia 2008).  Salmonella sp. mempunyai waktu regenerasi 40 menit.  Salmonella sp. tumbuh optimum pada suhu 37 ºC (98.6 ºF), namun Salmonella sp. juga mempunyai kemampuan tumbuh pada suhu suboptimum, yaitu pada suhu 6-46 ºC (43-115 ºF).

Bakteri salmonella
Bakteri Salmonella

Oleh karena itu, Salmonella sp. Termasuk ke dalam golongan bakteri mesofilik. Hal tersebut menyebabkan Salmonella sp. dapat tumbuh secara oportunis.  Salmonella sp. dapat bertahan pada pH 4.1-9.0 dengan pH optimum 6.5-7.5 untuk melakukan pertumbuhan.  Salmonella sp. membutuhkan nutrisi untuk melakukan pertumbuhan dan membelah diri.

Salmonella sp. membutuhkan glukosa yang siap digunakan seperti yang terdapat pada tubuh manusia.  Pada laboratorium, terdapat tiga nutrisi utama yang sering digunakan sebagai media untuk pertumbuhan, yaitu ekstrak ragi yang mengandung banyak nutrisi, tripton yang merupakan protein susu, dan NaCl. Salmonella sp. tidak membutuhkan oksigen untuk tumbuh atau bersifat anaerob fakultatif (Brands 2006). Struktur sel bakteri Salmonella sp. terdiri atas membran luar (somatik), flagela peritrik, dan kapsul seperti yang terlihat pada gambar 1.

Pada laboratorium, terdapat tiga nutrisi utama yang sering digunakan sebagai media untuk pertumbuhan, yaitu ekstrak ragi yang mengandung banyak nutrisi, tripton yang merupakan protein susu, dan NaCl. Salmonella sp. tidak membutuhkan oksigen untuk tumbuh atau bersifat anaerob fakultatif (Brands 2006). Struktur sel bakteri Salmonella sp. terdiri atas membran luar (somatik), flagela peritrik, dan kapsul seperti yang terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Bakteri Salmonella sp. di bawah Transmission Electron Micrograph (TEM).  Struktur serabut panjang yang menjulur disebut flagela, yang digunakan bakteri untuk berpindah (Brands 2006).

Salmonella sp. dapat memfermentasi glukosa, tapi tidak dapat memfermentasi laktosa. Selain itu, Salmonella sp. menghasilkan reaksi positif terhadap uji katalase, menghasilkan H2S pada agar TSI, positif penggunaan sitrat sebagai sumber karbon, lisin dekarboksilase, dan ornitin karboksilase. Karakteristik biokimia bakteri Salmonella sp. dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik biokimia bakteri Salmonella sp. (Bell dan Kyriakides 2002)

Karakteristik Reaksi
Katalase +
Oksidase
Asam yang diproduksi dari laktosa
Gas yang diproduksi dengan glukosa +
Indol
Produksi urease
Produksi H2S dari agar TSI +
Penggunaan sitrat sebagai sumber karbon +
Methyl red +
Voges-Proskauer
Lisin dekarboksilase +
Ornitin dekarboksilase +

Keterangan: (+) reaksi positif; (-) reaksi negatif

 Salmonella sp. dapat ditemukan di semua jenis mamalia, burung, reptil dan amfibi.  Ikan dan invertebrata juga dapat terinfeksi Salmonella sp.  Infeksi Salmonella sp. terutama terjadi di unggas, babi dan reptil.  Infeksi ditemukan pada kelompok reptil seperti penyu, kura-kura, ular dan kadal (termasuk bunglon dan iguana).  Sebagian besar isolat yang menyebabkan penyakit pada manusia dan mamalia adalah Salmonella enterica subspesies enterica.  Serotipe lain yang patogen pada manusia adalah Salmonella Typhi, Salmonella Paratyphi, dan Salmonella Hirschfeldii.  Salmonella sp. tersebut berpindah dari tubuh seseorang ke orang lain dan tidak mempunyai reservoar khusus (OIE 2005).  Tikus, lalat, kecoa, dan serangga lain juga merupakan penular yang potensial bagi manusia dan ternak.  Kejadian salmonelosis dapat terjadi melalui keracunan makanan lewat produk restoran atau jasa katering (Soeharsono 2005).

Keracunan salmonella
Ilustrasi keracunan makanan

Penelitian tentang variasi antigen Salmonella sp. sudah dimulai sejak 100 tahun yang lalu, yaitu sekitar tahun 1920-an.  Penelitian tersebut berdasarkan pada perbedaan antigen pada permukaan sel bakteri, yaitu O untuk antigen somatik atau membran sel luar, H untuk antigen flagela, dimana pada beberapa Salmonella sp. yang ditumbuhkan menunjukkan pergantian fase pada dua tipe antigen yang berbeda, yaitu H1 dan H2, dan beberapa Salmonella sp. memproduksi Vi untuk antigen kapsul.  Kombinasi antigen yang disebut formula antigen pada masing-masing serotipe Salmonella sp. bersifat unik.

Pada akhir periode 1920-an, sekitar 20 serotipe telah diidentifikasi dan nama dari masing-masing jenis Salmonella sp. diberikan berdasarkan penyakit yang muncul pada inang saat diisolasi.  Jumlah serotipe Salmonella sp. terus bertambah dari tahun ke tahun.  Ada 2463 serotipe Salmonella sp. yang sudah dikenal, tetapi tidak dapat dibedakan dengan tes biokimia.

Pemisahan serotipe Salmonella sp. berdasarkan pada perbedaan formula serotipe.  Memisahkan tipe phage (makan) adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membedakan strain dari serotipe Salmonella sp.  Salmonella Typhi adalah serotipe Salmonella sp. pertama yang diidentifikasi dengan metode ini.  Tipe memakan ditentukan dari sensitifitas sel untuk aktivitas melitik atau menghancurkan dari bakteriofag terseleksi.  Metode ini juga dipakai untuk serotipe Salmonella sp. yang lain, terutama yang terpenting untuk kesehatan manusia termasuk S. Paratyphi, S. Typhimurium, S. Enteritidis, S. Agona, S.Hadar, dan S. Virchow (Bell dan Kyriakides 2002).

 Bersambung……………………………………

REFERENSI

  •  Brands D.  2006.  Deadly Disease and Epidemics Salmonella.  Philadelpia: Chealsea House Publishers
  • Bhunia A.  2008.  Foodborne Microbial Pathogens: Mechanisms and Pathogenesis.  New York: Springer Science
  • Pui CF, Wong WC, Chai LC, Tunung R, Jeyaletchumi P, Hidayah N, Ubong A, Farinazleen MG, Cheah YK, Son R.  2011.  Salmonella a foodborne pathogen. J Int Food Research 18:465-473
  • Bell C, Kyriakides A.  2002.  Salmonella a Practical Approach to the Organism and Its Control in Foods.  USA: Iowa State University Pr.
  • Lukman DW, Sudarwanto M, Sanjaya AW, Purnawarman T, Latif H, Soejoedono RR.  2009.  Higiene Pangan.  Bogor: FKH IPB.
  • Murray CJ.  1991.  Salmonella carriege rate amongs school children.  Asian J  Trop Med Public Health 22:357-361.
  • New L.  2003.  Salmonella, Facts for the Health of You and Your Pet.  Alberta: University of Alberta.
  • Soeharsono.  2005.  Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia.  Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
  • Todar  K.  2011.  Salmonella and salmonellosis. http://www.teksbooksofbacteriology.net/salmonella.htm/.
  • https://www.hse.gov.uk/offshore/biological-hazards.htm
  • https://oges.info/question/138268/what-are-the-health-hazards-in-petroleum-industry

Tampilan Penuh

David Kusmawan

Dosen Prodi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jambi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close