Budaya K3: Harga Mati Untuk Indonesia!

*) Oleh Permana Eka Satria Kesehatan  dan  keselamatan  kerja  (K3)  merupakan  salah satu  persyaratan  untuk  meningkatkan  produktivitas  kerja karyawan, di samping itu K3 adalah hak asasi setiap tenaga kerja. Di era globalisasi  dan  untuk  memenangkan  persaingan  bebas, ternyata kesehatan dan keselamatan kerja juga menjadi salah satu persyaratan  yang  harus  dipenuhi  oleh  industri  di  Indonesia (Sutjana, 2006). Perkembangan industri di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang merupakan usaha jangka panjang untuk merombak struktur perekonomian nasional (Fauza,…

"Budaya K3: Harga Mati Untuk Indonesia!"

5 Langkah Meningkatkan Keamanan dan Keselamatan Lingkungan

Pada 12 Juni 2017 lalu, seorang koas dokter gigi yang baru lulus kuliah, Italia Chandra Kirana Putri, mendapati seorang pencuri sedang mencoba membawa kabur motornya. Italia kemudian menyerang pelaku dengan lemparan sapu. Namun, pelaku justru membalasnya dengan tembakan senjata api yang akhirnya membunuh Italia. Beruntungnya, kejadian tersebut terekam dalam kamera CCTV tetangganya sehingga pelaku bisa ditangkap.

Kejadian di atas merupakan salah satu potret buruk tentang keamanan dan keselamatan lingkungan di Indonesia. Sepanjang 2015, Biro Pusat Statistik mencatat 25.712 kasus pencurian dengan kekerasan yang dialami dalam rumah tangga dari 1.405.562 kasus pencurian dalam rumah tangga di Indonesia. Jumlah kasus pencurian ini mengalami kenaikan sebesar 11% dibandingkan tahun 2014.

pencurian rumah

Ilustrasi Pencurian Rumah

Sumber: http://www.strategiesonline.net/security-measures-for-home/

Selain kasus pencurian, kasus-kasus kebakaran juga menjadi masalah terkait dengan keamanan dan keselamatan lingkungan. Pada 26 Agustus 2017 lalu, ledakan akibat kebocoran gas telah menewaskan bayi berusia 7 bulan dan melukai 3 orang lainnya di Kabupaten Bandung Barat. Di Jakarta saja, 1139 kasus kebakaran telah terjadi di sepanjang tahun 2016.

Kasus-kasus di atas meyakinkan kita akan pentingnya kesadaran menjaga keamanan dan keselamatan lingkungan. Katigaku.top merangkum 5 langkah untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan lingkungan:

Identifikasi Risiko Keamanan Lingkungan

Identifikasi risiko keamanan dan keselamatan lingkungan merupakan hal yang paling dasar untuk membuat program-program terkait dengan keamanan dan keselamatan lingkungan. Identifikasi risiko ini meliputi identifikasi risiko-risiko spesifik dan lokasi-lokasi di mana risiko-risiko tersebut bisa muncul. Identifikasi risiko ini pun sebaiknya dilakukan oleh tim yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai keahlian.

keamanan rumah

Illustrasi keamanan rumah

Sumber: http://locksmithswinchester.org.uk/uncategorized/home-security-locksmith-winchester/

Contoh identifikasi risiko keamanan dan keselamatan lingkungan misalnya ada sebuah perumahan yang memang setiap orang bebas keluar masuk dengan pengawasan yang sedikit maka risiko yang muncul adalah pencurian. Contoh lain, sebuah area dilewati dengan jalur pipa gas maka risiko yang muncul adalah risiko ledakan gas.

Perencanaan Pengendalian Risiko Keamanan

Setelah melakukan identifikasi risiko keamanan dan keselamatan lingkungan, maka masyarakat bisa merencanakan pengendalian. Dalam memilih pengendalian terhadap risiko, hendaknya dipertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi. Efektifitas terkait dengan kemampuan rencana pengendalian untuk benar-benar menghilangkan risiko yang ada. Sedangkan efisiensi terkait dengan sumber daya, termasuk uang, yang kita habiskan untuk mendapatkan rencana pengendalian tersebut.

Pada perumahan yang sedikit pengawasan, kita bisa merencanakan pemasangan CCTV ataupun membayar jasa tim keamanan. Pada area di mana risiko kebakaran dapat muncul, kita dapat mencoba untuk memasang APAR. Gunnebo menjadi penyedia CCTV dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang sudah terkenal secara nasional dan internasional.

Gambar Dipslay CCTV dari Gunnebo

APAR gunnebo

Gambar APAR Gunnebo

Memantau Rencana secara Konsisten

Pengendalian risiko keamanan dan keselamatan lingkungan harus dipantau secara regular untuk memastikan rencana pengendalian tersebut berfungsi dengan optimal. Lakukanlah perawatan rutin terhadap barang-barang yang digunakan untuk mengendalikan risiko.

Contohnya, kita bisa meminta teknisi CCTV untuk mengecek sebulan sekali terkait dengan wiring CCTV dan performa CCTV. Kita juga bisa membuat checklist serta pengecekan secara rutin untuk APAR.

Kepeduliaan Keamanan Bersama

Rasa keamanan bersama harus ditumbuhkan dalam masyarakat. Hal ini diperlukan mengingat tidak semua pemilik rumah bisa mengatasi masalah keamanan dan keselamatan sendirian, mutlak diperlukan juga kerjasama dengan tetangga. Masyarakat yang sudah tumbuh rasa keamanan bersama maka akan bahu membahu untuk mengawasi lingkungan untuk membuat keamanan yang lebih baik.

Dalam penumbuhan rasa keamanan dalam masyarakat, kita bisa memulainya dengan membuat grup whatsapp di mana kita bisa mengkomunikasikan tips serta info keamanan di lingkungan. Grup whatsapp juga bisa menjadi sarana untuk pelaporan jika ada hal yang mencurigakan. Para tamu dan pendatang baru juga harus melapor kepada pengurus lingkungan. Selain itu, pelatihan bersama misalnya tentang penggunaan APAR juga bisa dilakukan untuk meningkatkan keamanan serta keselamatan lingkungan.

Kesiapan Gawat Darurat

Meskipun rencana keamanan dan keselamatan lingkungan telah kita buat secara matang, namun kadang masih saja ada insiden-insiden terkait dengan keamanan dan keselamatan bisa muncul seperti pencurian dan kebakaran. Jika insiden muncul, maka kita harus melakukan investigasi secara menyeluruh agar mengetahui penyebabnya apa sehingga kita bisa membuat perencanaan untuk mencegah agar kejadian yang sama berulang.

Kita juga harus menyiapkan nomor-nomor darurat sehingga jikalau terjadi kejadian gawat darurat kita bisa meminta bantuan kepada pihak yang tepat dan cepat. Nomor-nomor darurat yang bisa dicatat meliputi nomor pemadam kebakaran dan klinik terdekat.

Penutup

Sebagian besar hidup kita atau orang yang kita sayang dihabiskan di rumah sehingga kita menginginkan keamanan dan keselamatan di rumah kita dan di lingkungan kita. 5 tahap di atas: identifikasi risiko, perencanaan pengendalian, memantau rencana konsisten, menumbuhkan kepedulian keamanan bersama serta kesiapsiagaan terhadap kejadian gawat darurat merupakan tahap yang bisa diambil untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan di lingkungan kita.

*) Tulisan di atas ditujukan untuk “Kompetisi Karya Tulis Jurnalistik” yang disponsori oleh Gunnebo

REFERENSI

B., Adi Haryanto. 2017. “Tabung Gas Meledak, Bayi Tewas dan 4 Korban Luka Ditimpa Bangunan.” Sindonews. Ags 26. Accessed Nov 29, 2017. https://daerah.sindonews.com/read/1234054/21/tabung-gas-meledak-bayi-tewas-dan-4-korban-luka-ditimpa-bangunan-1503731396.

Badan Pusat Statistik. 2015. “Statistik Kriminal 2014.” Bappenas. Accessed Nov 29, 2017. https://www.bappenas.go.id/files/data/Politik_Hukum_Pertahanan_dan_Keamanan/Statistik%20Kriminal%202014.pdf.

—. 2016. “Statistik Kriminal 2016.” Accessed Nov 29, 2017. https://media.neliti.com/media/publications/48283-ID-statistik-kriminal-2016.pdf.

Sands, Laura M. n.d. 17 Simple Tips For Better Neighborhood Security. Accessed Nov 29, 2017. http://saferesidence.com/17-simple-tips-better-neighborhood-security/9/.

Sukarno, Puput Adi. 2016. Sepanjang 2016, di DKI Terjadi 1.139 Kasus Kebakaran. Dec 24. Accessed Nov 29, 2017. http://jakarta.bisnis.com/read/20161224/77/614774/sepanjang-2016-di-dki-terjadi-1.139-kasus-kebakaran.

 

Kecelakaan Fatality pada Pekerjaan Ruang Terbatas Sumur Sukamandi

Sumur Sukamandi 2 (SKD-02) berada dalam wilayah kerja Lapangan Jatibarang. Pada tanggal 31 Mei 2010, sumur tersebut sedang dalam proses pemeliharaan dengan melakukan kegiatan work over & acid fracturing dengan maksud untuk meningkatkan produktivitas sumur. Pekerjaan dilaksanakan oleh beberapa kontraktor untuk pekerjaan tertentu. Salah satu di antaranya pekerjaan menangani bahan kimia, termasuk penyediaan tanki penampungan yang berukuran panjang 6,65,m x lebar 2,43 m; tinggi 2,88 m; kapasitas 220 bbl; dan ukuran lubang man hole 46 x 49 cm.

Pekerjaan  perawatan  sumur  tersebut sedang dalam tahap  unloading fluida dari sumur dengan menginjeksikan N2 dan  flow back ditampung dalam tanki penampung. Pada hari tersebut, para pekerja melakukan kegiatan antara lain memasukkan coil tubing sambil melakukan unloading Nitrogen yang ditampung di tangki penampungan dengan nitrogen rate 300 scfm dan tekanan 1200 psi sampai 1.869,29 m.

Peta kecelakaan ruang terbatas di sumur sukamandiGambar 1. Layout sumur Sukamandi

Tiba-tiba sekitar jam 15.00 WIB, pekerja di lapangan mendengar suara teriakan minta tolong dari pekerja kontraktor. Pekerja di sekitar kemudian memberikan pertolongan. Ternyata ditemukan 5 (lima) orang pekerja berada di dalam tangki penampungan. Kemudian, para korban diberi pertolongan dan dibawa ke rumah sakit terdekat dalam kondisi tidak sadar. Empat orang dinyatakan meninggal dunia dan satu orang mengalami cidera dan berhasil diselamatkan.

Gambar 2. Manhole tangki penampungan

Dari korban yang selamat diperoleh informasi bahwa pada saat kejadian yang bersangkutan mendengar teriakan minta tolong dari dalam tangki. Ketika diperiksa, ada 3 orang sedang berada di dalam dengan kondisi tidak sadar. Kemudian, yang bersangkutan dengan satu orang lainnya juga mencoba masuk untuk memberikan bantuan. Namun, keduanya juga tidak tahan dan mengalami sesak nafas. Korban berteriak minta tolong dan akhirnya dievakuasi.

Dari keterangan pengawas, tidak ada penugasan untuk masuk ke dalam tangki dan tidak ada izin dari petugas yang berwenang. Data-data tanki penampungan sebagai berikut:

Gambar 3. Data tangki penampungan

Analisa Penyebab

Penyebab langsung

Kecelakaan  ini  terjadi  dalam  ruang  tertutup (confined space ). Di dalam ruang tertutup, biasanya terdapat potensi bahaya, yaitu kekurangan Oksigen (oxygen deficiency ) dan bahaya gas beracun.

Gambar 4. Ilustrasi Ruang Terbatas (confined space)

Sumber gambar: http://www.impactsafetygroup.com.au/product/confined-space-training-course-3-day-package-tasmania/

Ruangan  tanki  mengandung  berbagai  jenis  gas seperti H2S atau CO2 yang dapat mengakibatkan keracunan.  Disamping itu kadar oksigen di dalam tangki sangat kurang.

Semua pekerja yang masuk ke dalam tanki tidak menggunakan alat keselamatan yang memadai.

Pada saat kejadian berlangsung, tidak ada perintah dari pengawas perusahaan atau kontraktor untuk melanjutkan  ke  kegiatan  selanjutnya  (pada  saat kajadian,  pengawas  sedang  melakukan  analisa fluida hasil  unloading step rate test ).

Penyebab Tidak Langsung

  • Faktor Personal. Para pekerja kurang  memahami  mengenai bahaya bekerja dalam ruang tertutup. Mereka melakukan tindakan tidak aman masuk tanpa ijin dan tanpa peralatan kerja memadai.
  • Faktor Pekerjaan. Kegiatan well service mengandung berbagai potensi  bahaya  sehingga  harus  dilaksanakan dengan sistem keselamatan yang ketat, termasuk prosedur operasi yang aman dan pengawasan. Dalam kejadian ini, aspek pengawasan dinilai lemah  sehingga  ada  orang  yang  bekerja  di luar penugasan yang ditentukan dan tidak ada yang mencegah atau memberikan peringatan. Di samping  itu,  antisipasi  terhadap  bahaya belum optimal, misalnya semua lubang masuk ruang tertutup tidak dipasang label atau diberi penutup sehingga tidak dapat dimasuki oleh orang yang tidak berwenang.

Pelajaran yang bisa diambil:

  • Pekerjaan dalam  ruang  tertutup  sangat berbahaya dan harus dikendalikan dengan ketat di bawah pengawasan pihak yang kompeten dan  terlatih,  termasuk  penyediaan  sarana keselamatannya.
  • Bahwa para  pekerja,  khususnya  pelaksana lapangan,  sering  melakukan  pelanggaran prosedur  karena  tidak  mengetahui  atau kurangnya  kesadaran  tentang  Untuk  itu,  perlu  dilakukan  pembinaan  terus menerus dan dilakukan pengawasan yang ketat.
  • Perlu dibuat Job Safety Analysis sehingga setiap potensi bahaya  bisa    JSA  harus dipahami dan dibicarakan pada saat  safety talk sebelum melaksanakan pekerjaan setiap hari. Setiap Surat Ijin Kerja Aman yang dikeluarkan, khususnya yang dikategorikan mempunyai risiko tinggi  dan  bisa  menyebabkan  fatality ,  harus dimonitor secara ketat dan dibuatkan daftarnya di ruangan khusus.
  • Tempat-tempat yang  mengandung  bahaya tinggi,  seperti  tanki  perlu  diberi  pengaman untuk mencegah adanya pekerja yang masuk tanpa ijin.

Kasus meninggal di ruang terbatas merupakan kasus yang sudah beberapa kali menyebabkan kematian bagi pekerja Indonesia. Pada 5 Januari 2015, 3 penambang emas di Lebak tewas keracunan di sumur sedalam 50 meter.  Kasus meninggal karena ruang terbatas yang lain bisa dilihat di sini. 

Referensi:

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2016. Atlas Keselamatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Laboratorium

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Laboratorium adalah semua upaya untuk menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja laboratorium dari risiko-risiko yang ada di laboratorium. Keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium sangat penting untuk dipahami mengingat banyaknya laboratorium yang digunakan baik itu di pabrik ataupun di Lembaga Pendidikan dan penelitian.

Keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium

Ilustrasi keselamatan kerja laboratorium

Sumber: http://wpmlabs.com/

Beberapa kecelakaan kerja di Laboratorium telah terjadi. Pada 8 Januari 1999 di Carnegie Melon, Pittsburgh, Pennsylvania, mahasiswa tingkat master terluka karena ledakan azobisisobutyronitril, beberapa anggota tim K3L juga terluka. Tangki nitrogen pecah di Universitas Texas A&M pada 12 Januari 2006. Masih di Texas, mahasiswa tingkat master mendapatkan luka parah karena sebuah ledakan dalam aktivitas penanganan campuran metal dengan energi tinggi yang tiba-tiba meledak di Texas Tech. Pada 29 Desember 2008, mahasiswa meninggal karena terperangkan dalam kebakaran kimia yang melibatkan tert-buthyllithium. Pada 16 Maret 2016 terdapat sebuah ledakan di Laboratorium Universitas Hawaii. Seorang asisten riset mendapatkan luka yang sangat serius, kehilangan lengannya. Kerugian finansial mencapai $ 1 Juta. Di Laboratorium Farmasi Universitas Indonesia, terdapat ledakan yang menyebabkan 14 mahasiswa terluka pada 17 Maret 2015.

Kecelakaan-kecelakan di laboratorium seperti dijelaskan sebelumnya membuat kita seharusnya berupaya menjamin bahwa pekerja di laboratorium telah aman. Dalam buku Lees Process Safety, setidaknya ada 4 cara dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium:

Personel dan Sistem Manajemen Laboratorium

Laboratorium harusnya memiliki sistem manajemen dengan organisasi yang sesuai serta orang yang berkompeten; prosedur, instruksi kerja serta dokumentasi yang baik. Semua informasi ini harus tergabung dalam manual keselamatan laboratorium (laboratory safety manuals). Di sistem tersebut, seharusnya menggambarkan secara jelas struktur organsisasi dengan rantai komandonya, serta digambarkan juga pemisahan antara fungsi pelaksana dengan fungsi penasihat. Sistem keselamatan dalam laboratorium yang sangat penting meliputi pemeriksaan bahaya, sistem izin kerja, pelaporan kecelakaan dan audit keselamatan.

Kode laboratorium dapat juga dijadikan referensi dalam membuat sistem manajemen keselamatan di laboratorium. Kode-kode laboratorium memberikan metodologi sistematik untuk mengatur laboratorium. Contoh kode-kode tersebut adalah RIC Laboratoriues Code, NFPA 45, dan ICheme laboratories guide.

 Kompetensi dan kapabilitas personel yang bekerja di laboratorium berkisar dari yang sudah diberikan pelatihan dengan baik dan sangat berpengalaman sampai peneliti yang tidak berpengalaman. Penyamaan kompetensi ini dapat dilakukan dengan pelatihan. Pelatihan ini harus mencakup bahaya, peralatan, prosedur, dan sistem. Pelatihan pun harus mencakup motivasi dalam bekerja dengan aman.

Bahaya dalam Laboratorium

Pemeriksaan bahaya pada laboratorium kimia telah diberikan panduannya dalam Kode RIC dan Panduan ICheme serta di banyak buku lain tentang keselamatan kerja laboratorum seperti yang ada di Buku “Hazards in the Chemical Laboratory” yang ditulis oleh Bretherick tahun 1981. Bahaya-bahaya pada laboratorium kimia meliputi substansi reaktif, substansi mudah terbakar, substansi beracun, bahaya radiasi, bahaya listrik, bahaya mekanis, bahaya kondisi operasi dan bahaya pelepasan air.

  • Substansi reaktif: ketika substansi reaktif ini diangkat atau diproses, setiap usaha harus dilakukan untuk menemukan informasi dari perilaku substansi reaktif tersebut dan bagaimana cara mengendalikannya.
  • Substansi mudah terbakar: banyak cairan dan gas yang dipakai di laboratorium adalah mudah terbakar. Panduan untuk memakai bahan mudah terbakar telah dibahas oleh NFPA termasuk NFPA 45 tentang laboratorium
  • Substansi beracun: Ketika substansi beracun dipakai, kita harus menyadari 3 rute masuk substansi beracun yaitu inhalasi, ingesti dan kontak kulit serta efek yang ditimbulkan baik itu efek jangka pendek ataupun jangka Panjang. Panduan pengendalian bahaya beracun ini telah ada pada Control of Substance Hazardous to Health (COSHH) Regulations tahun 1988. Bahaya pada nanomaterial dan nano tekhnolgi juga harus diperhatikan.
  • Bahaya radiasi: Banyak bahaya radiasi yang muncul pada aktivitas di laboratorium seperti aktivitas yang menggunakan alat dengan sumber radioaktif seperti petunjuk level cairan, detektor gas kromatograf, detektor kebocoran, alat anti static pada timbangan dan detektor kebakaran; peralatan yang memproduksi voltase di atas 5 kV mungkin saja menjadi sumber X-ray; peralatan dengan radiasi non-ionisasi seperti laser, microwave dan peralatan ultraviolet serta infrared.
  • Bahaya listrik: Personel bisa saja mendapatkan risiko tersetrum dalam perbaikan kabel atau komponen yang belum dibumikan. Bahaya listrik yang ada pada laboratorium berbeda dengan yang ada di industri, namun tetap saja berbahaya jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat.
  • Bahaya mekanik: bahaya mekanik muncul dari alat-alat seperti mesin-mesin bengkel, perkakas tangan dan energi, peralatan lifting, peralatan yang berputar, dan mesin penekan. Kecelakaan sangat mungkin muncul ketika personel laboratorium menggunakan peralatan yang mereka tidak familiar.
  • Bahaya operasional: bahaya yang terkait dengan temperature yang tinggi atau paling rendah, cairan cryogenic, sumber tekanan tinggi (uap, udara, gas bertekanan dan air), dan vakum.
  • Bahaya pelepasan air: terlepasnya air misalnya dalam bentuk jet dapat menimbulkan risiko korslet, kejutan termal, kemunculan gas dalam bentuk jet serta reaksi air dengan zat kimia yang reaktif.

Desain laboratorium

Desain laboratorium dan layout  telah didiskusikan pada Panduan ICheme dan Buku ”Designing safety into the laboratory” yang ditulis oleh Baum dan Diberardini (1987).  Faktor-faktor yang patut untuk diperhatikan dalam desain laboratorium termasuk layout, penyimpanan bahan kimia beracun, ventilasi, fume hoods, dan fasilitas penunjang seperti bengkel, toko, penerimaan gudang, jasa analitik dan fasilitas staff.

  • Layout laboratorium: desain dan layout laboratorium harus dibuat dari analisa kebutuhan aktivitas laboratorium dengan bantuan diagram alur yang menunjukkan alur material dari meja eksperimen, bengkel, penyimpanan zat kimia, tempat analisa hingga fasilitas pengelolaan limbah. Layout juga harus dapat membedakan mana area dengan risiko rendah dan area dengan risiko tinggi.
  • Zat beracun: ketika zat beracun dipakai, desain laboratorium harus ditujukan untuk tetap menjaga konsentrasi lingkungan laboratorium di bawah batas aman pajanan. Untuk zat beracun, regulasi COSHH 1988 menyebutkan untuk monitoring atmosfir tempat kerja dan menjaga konsentrasi dari kontaminan dapat dilakukan melalui ventilasi dan fume hoods.
  • Ventilasi: Metode paling umum untuk mengendalikan konsentrasi dan kontaminan di tempat kerja adalah ventilasi. Exhaust dari ventilasi harus ditempatkan pada tempat yang aman (jauh dari tempat pengambilan udara)
  • Fume hoods: alat untuk melaksanakan eksperimen dengan zat beracun dan tak beracun dengan aman
  • Pendukung laboratorium: Pendukung laboratorium termasuk bengkel, penyimpanan, tempat penerimaan barang, jasa analitik, dan fasilitas untuk staf. Perhatian harus ditujukan kepada penyimpanan zat kimia yang harus dipisah berdasarkan bahayanya. Pemisahan tersebut termasuk berlakuk untuk solven, perbedaan kelas dari zat kimia, mudah meledak, tabung gas, dan material cryogenic.

Laboratorium harus didesain dengan perlindungan kebakaran yang sesuai dengan bangunan dan kode perlindungan kebakaran dengan pertimbangan dari otoritas kebakaran. Beberapa kode NFPA yang dapat diterapkan untuk laboratorium adalah NFPA 10, NFPA 30, NFPA 45, NFPA 45, NFPA 101, NFPA 704, dan NFPA kode 45. Beberapa elemen dasar dari desain untuk perlindungan kebakaran meliputi ketahahan pintu, ketahanan internal layout, klasifikasi area berbahaya, ventilasi mekanis, dan sistem alarm kebakaran.

Laboratorium juga dapat dilengkapi dengan rambu-rambu bahaya untuk memberikan komunikasi kepada pekerja terkait risiko dan alat pelindung diri yang harus dipakai. Selain itu, rambu darurat juga dapat dipasang agar pekerja tau apa yang harus dilakukan jika terjadi kejadian gawat darurat.

rambu gawat darurat laboratorium

Contoh rambu gawat darurat laboratorium

Sumber: https://www.utwente.nl/ewi/mss/memslab/Safety_rules/general-laboratory-safety-rules/

Operasional Laboratorium

Banyak faktor yang mempengaruhi operasional laboratorium seperti informasi kimia, desain eksperimen, penilaian bahaya, penilaian terhadap pengendalian substansi yang berbahaya terhadap kesehatan (regulasi COSHH 1988), prosedur operasional, prosedur darurat, pemeliharaan peralatan, sistem izin kerja, housekeeping, pekerjaan setelah jam kerja, operasional yang tidak diawasi, serta akses ke dalam laboratorium. Semua faktor-faktor ini harus dipertimbangkan dengan baik dan cukup untuk menjamin lingkungan kerja yang aman.

Laboratorium secara umum memiliki peralatan yang beranekaragam yang masing-masing peralatan tersebut harus digunakan dalam kondisi yang sesuai dengan spesifikasi. Contoh peralatan yang membutuhkan perhatian lebih ketika dipakai adalah peralatan dengan kaca, piringan pemanas, oven dan tungku serta pemutar (centrifuges).

Laboratorium juga menggunakan berbagai macam material seperti air, uap, udara bertekanan, gas bahan bakar dan tenaga listrik. Selain itu, terdapat pendingin, vakum, oksigen dan pipa gas yang lain. Pemakaian harus  dilakukan dengan memastikan penggunaan yang sesuai untuk mencegah bahaya yang dihubungkan dengan penggunaan alat itu.

Pemakaian material dalam laboratorum dengan disusun dalam Panduan Icheme pada buku “Hazards in the Chemical Laboratory” oleh Bretherick tahun 1981. Penyimpanan utama dari zat kimia yang berbahaya harus dijaga dalam lokasi spesifik. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan adalah segregasi dari material yang tidak kompatibel; jenis tempat penyimpanan yang tepat; poin penerimaan; penerimaan, pengambil stok dan pembuangan stok; pengurangan dari inventori; identifikasi, kepemilikian, informasi keselamatan dan kesehatan serta pelabelan.

Perencanaan kejadian gawat darurat harus memperhatikan penyebab kejadian gawat darurat dan jenis-jenis kejadian gawat darurat dan pengendalian yang diperlukan. Perencanaan kejadian gawat darurat harus mencakup semua bagian dari laboratorium termasuk penyimpanan dan servis. Referensi detail untuk kejadian gawat darurat ada pada Panduan ICheme.

Contoh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia

Di Amerika Serikat, OSHA telah memberikan standard 29 CFR 1910.1450 untuk menghadapi pajanan kimia berbahaya di laboratorium. Tujuan dari standard laboratorium ini adalah untuk memastikan pekerja dalam laboratorium non produksi diinformasikan tentang bahaya kimia pada tempat kerjanya dan dilindungi dari pajanan kimia yang melebihi nilai ambang batas paparan. Standard laboratorium mencapai perlindungan yang diinginkan dengan chemical hygiene plan (CHP). Standard laboratorium kimia terdiri dari 5 elemen utama:

  • Identifikasi bahaya: Setiap laboratorium harus mengidentifikasi zat kimia yang dipakai oleh pekerjanya. Semua tempat zat kimia harus diberikan label yang sesuai dan Material Safety Data Sheet (MSDS) yang sesuai. Penggunaan logo globally harmonized system (GHS) juga akan memberikan kontribusi terhadap pemahaman pekerja tentang bahaya zat kimia dengan lebih mudah.
  • Chemical Hygiene Plan (CHP)/ Rencana Higiene Kimia: Tujuan dari CHP ini adalah untuk memberikan panduan yang tepat dan prosedur untuk penggunaan zat kimia dalam laboratorium. Standard laboratorium meminta CHP untuk memasukkan prosedur, peralatan, APD, dan praktik pekerjaan yang mampu untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan yang muncul dari pemakaian zat kimia dalam laboratorium.
  • Informasi dan pelatihan: Pekerja laboratorium harus diberikan informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan bahaya kimia di laboratorium. Pelatihan harus diberikan pada saat pekerja baru masuk ke laboratorium dan saat adanya zat kimia baru yang berbahaya. Selain itu, pelatihan-pelatiha itu juga harus diulang secara periodik untuk menjamin bahwa pekerja selalu mengingat prinsip-prinsip keselamatan di laboratorium.
  • Pengukuran pajanan: OSHA telah membuat permissible exposure limits (PELs), seperti telah tercantum di 29 CFR 1910, subpart Z, untuk ratusan zat kimia. PEL adalah adalah nilai konsentrasi spesifik zat kimia di udara yang dipercaya tidak akan menimbulkan dampak buruk pada pekerja. Perusahaan harus menjamin bahwa pekerja-pekerja mendapatkan pajanan dibawah angka yang sudah ditentukan OSHA. Perusahaan harus melaksanakan monitoring pajanan melalui sampling udara jika memang ada risiko pekerja terpapar pajanan melebihi batas aman. Monitoring pajanan secara periodik harus dilakukan sesuai dengan standard dengan pemberitahuan hasilnya kepada pekerja.
  • Konsultasi Medis: Perusahaan harus menyediakan pengukuran kesehatan bagi pekerja terkait dengan efek yang ditimbulkan oleh pajanan kimia. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara periodik atau insidental misalnya terdapat zat kimia baru ataupun ada kasus kebocoran zat kimia

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Biologi

Pekerja di laboratorium biologi terpapar oleh beragam bahaya biologi seperti darah dan cairan tubuh, specimen kultur, jaringan tubuh, binatang percobaan dan bahaya biologi dari laboran lain. Beberapa bahaya biologi yang diidentifikasi oleh OSHA adalah anthraks, flu burung, botulisme (keracunan dari bakteri), penyakit menular dari makanan, hantavirus (virus dari kotoran kering,urin, ludah dari tikus), penyakit legionella, jamur, plague, ricin, SARS, cacar, tularemia (demam kelinci), viral hemorrhagic fevers (VHFs), dan flu pandemik.

Beberapa prinsip untuk keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium biologi antara lain:

  • Material Safety Data Sheets (MSDS)/ Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) untuk agen infeksius: Meskipun MSDS untuk produk kimia telah tersedia di Amerika Serikat dan negara lain, namun hanya Kanada yang mengembangkan MSDS untuk agen infeksius. MSDS untuk agen infeksius termasuk dosis, viabilitas, informasi medis, bahaya di laboratorium, pencegahan yang direkomendasi, prosedur tumpahan dan pemakaian. Pemerintah Kanada menyebutnya sebagai pathogen safety data sheet (PSDS) yang tersedia di https://www.canada.ca/en/public-health/services/laboratory-biosafety-biosecurity/pathogen-safety-data-sheets-risk-assessment.html
  • Patogen menular dari darah: Di Amerika, OSHA memperkirakan terdapat 5.6 juta pekerja di industri pelayanan kesehatan dan pekerjaan terkait memiliki risiko penularan pathogen dari darah seperti HIV, hepatitis B, Hepatitis C dan yang lain. OSHA memberikan panduan untuk mengendalikan pathogen menular dari darah dalam panduan 29 CFR 1910.1030.
  • Binatang Percobaan: Semua prosedur terkait dengan binatang percobaan harus dilakukan oleh personel yang telah ditraining secara sesuai. Dengan menggunakan praktek dan APD yang sesuai, yaitu 29 CFR 1910.132(a), pekerja dapat mengurangi kemungkinan mereka akan tergigit, tergores atau terpapar oleh badan binatang, cairan binatang dan jaringan binatang.

Referensi:

Center for Chemical Process Safety, 2016. Process Safety Beacon – October 2016 – English. [Online]
Available at: https://www.aiche.org/ccps/resources/process-safety-beacon/201610/english
[Accessed 14 November 2017].

Department of Labor USA, 2011. Laboratory Safety Guidance. [Online]
Available at: https://www.osha.gov/Publications/laboratory/OSHA3404laboratory-safety-guidance.pdf
[Accessed 15 Nov 2017].

Mannan, S., 2014. Lees’ Process Safety Essentials. 1st ed. Oxford: Elsevier Inc.

Bahaya Ruangan Tertutup Bertekanan

Apakah pabrik Anda memiliki ruangan tertutup di daerah berbahaya yang harus dibersihkan dengan udara atau gas lain,dan harus dijaga pada tekanan di atas tekanan atmosferik? Contohnya adalah ruangan untuk alat-alat elektronik, untuk analisis seperti di gambar 1, dan bahkan ruang kendali atau ruang lainnya. Ruangan tertutup ini dijaga pada tekanan di atas atmosferik sehingga jika terjadi kebocoran, maka alirannya akan terjadi dari dalam ke luar. Situasi ini menghindarkan uap atau gas yang mudah terbakar untuk masuk ke dalam ruangan tertutup itu, di mana alat – alat elektrikal dapat menjadi sumber pemantik api atau ledakan.Gambar ruangan analisis bertekanan

Gambar 1. Bangunan untuk analisis yang bertekanan (udara dengan back up nitrogen)

Biasanya,ruangan-ruangan tertutup ini dibersihkan dengan udara, atau dari backup system seperti nitrogen (gambar 2). Jika ruangan tertutup Anda menggunakan nitrogen, atau nitrogen sebagai backup dari udara, maka berhati – hatilah terhadap kondisi kekurangan oksigen (asphyxiating atmosfir) di dalam ataupun di luar dekat pintu ruangan tertutup tersebut (4/2004 and 6/2012 Beacons).

Rambu bahaya ruangan bertekanan tinggi

Gambar 2. Tanda peringatan untuk potensi keberadaan nitrogen di dalam ruangan tertutup

Tekanan yang berada di atas rentang yang diizinkan dapat menjadi berbahaya. Pada bulan Mei 2017, seorang engineer sedang memindahkan sebuah penutup berdiameter 14 in (0.36m) seberat 12 lb (5.4kg) dari suatu ruangan tertutup. Ruangan tersebut sedang bertekanan tinggi karena adanya gas yang bocor. Ketika penutup tersebut sedang dipindahkan, penutup itu pun terlempar dan mengenai engineer tersebut di kepalanya , dan mengakibatkan kematian

Tahukah Anda

  • Kode dan standar peralatan elektrikal, yang dapat berbeda di setiap negara dan kawasan ,akan menginformasikan kepada engineer dan manajer Anda bagaimana membersihkan ruangan tertutup didesain dan dioperasikan.
  • Pada umumnya, tekanan di dalam ruangan tertutup harus dijaga pada tekanan tertentu dan diawasi (gambar 3 dan 4) untuk memastikan jika terjadi kebocoran, maka cuma akan ada aliran dari dalam ke luar

Pressure gauge indikator tekanan

Gambar 3. pressure gauge di dalamruangan tertutup

Gambar 4. Indikator tekanan pada pressure gauge

  • Untuk menjaga tekanan di dalam ruangan tertutup dengan tepat, maka jagalah semua pintu atau Akses tertutup dan tersegel dengan baik

Apa yang Anda bisa lakukan?

  • Berhati – hatilah terhadap semua ruangan tertutup di pabrik Anda, dan periksalah kondisinya ketika Anda melakukan inspeksi rutin
  • Periksa tekanan di ruangan tersebut, dan laporkan ke pihak manajemen jika nilainya tidak berada di rentang yang seharusnya. Ikuti dan pastikan sampai masalah itu diselesaikan Gambar 4 Menunjukkan sebuah pressure gauge yang mengindikasikan secara jelas rentang yang diperbolehkan
  • Pastikan semua pintu di ruangan tersebut tertutup rapat dan tersegel
  • Jika Anda melakukan perawatan di dalam ruangan tertutup, pastikan izin kerjanya telah disetujui. Berhati-hatilah terhadap potensi bahaya akan tekanan tinggi ketika membuka ruangan tertutup tersebut sebelum membukanya.
  • Pastikan ruangan tersebut ditutup dengan baik, disegel, dan pembersihannya dilakukan dengan baik ketika pekerjaan telah diselesaikan
  • Jika ruangan tertutup Anda memiliki backup nitrogen untuk udara, atau jika pembersihannya memang menggunakan nitrogen, berhati- hatilah terhadap kondisi atmosfer inert di dalam atau di dekat ruangan tersebut. Periksalah konsentrasi oksigen sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, meskipun terdapat alarm nitrogen dan alarm tersebut tidak mengindikasikan konsentrasi nitrogen yang tinggi

Gambar 5. Ruangan bertekanan

 

REFERENSI

AiChe. 2017. “Beacon Safety.” Beacon Safety Nov. Nov 1. Accessed Nov 9, 17. https://www.aiche.org/ccps/resources/process-safety-beacon/201711/indonesian.

 

Bahaya Alarm Palsu yang Berulang

Tahukah Anda cerita tentang gembala domba yang menipu dengan kedatangan serigala? Anak gembala itu berulang kali menipu penduduk desa dengan berteriak meminta tolong karena ada serigala datang. Padahal tidak ada serigala. Setelah beberapa lama, semua orang menghiraukannya. Suatu hari, seekor serigala benar-benar datang (1). Ketika anak itu berteriak minta tolong, tidak seorang pun memercayainya. Dalam versi legenda Inggris di abad ke 15, serigala itu bahkan juga memakan anak tersebut – mungkin merupakan analogi yang cocok untuk bahaya menghiraukan alarm di industri proses!

Gambar 1. Legenda anak kecil yang menipu masyarakat dengan keberadaan serigala

Apakah di pabrik Anda terdapat alar yang tidak dapat diandalkan, berulang kali memberikan alarm palsu karena sensornya salah atau karena diset terlalu dekat dengan kondisi operasi yang normal? Apakah Anda akan memperhatikan jika satu dari alarm yang tidak dapat diandalkan ini ternyata memberikan peringatan yang nyata, yang memerlukan aksi? Atau, alarm mengganggu yang menunjukkan perubahan kecil dari kondisi operasi sebenarnya? Jika Anda mendapatkan banyak hal seperti ini, Anda mungkin akan gagal memerhatikan alarm yang sebenarnya!

US Chemical Safety Board (CSB) menginvestigasi kecelakaan pada tahun 2010 di sebuah pabrik di West Virginia,di mana sebuah alarm dihiraukan, dan mengakibatkan kebocoran bahan kimia ke dalam bangunan (gambar2 dan 3). Sebuah rupture disc di suatu reaktor yang mengandung methyl chloride, sebuah gas yang beracun dan mudah terbakar, pecah dan mengeluarkan methyl chloride ke line vent. Rupture disc tersebut didesain untuk memberikan alarm ketika pecah, dan alarm ini bekerja.

Akan tetapi, sebelumnya telah terjadi alarm palsu, memberikan signal kalau disc tersebut pecah padahal tidak. Para operator tidak mengira bahwa disc tersebut telah diperbaiki, dan mengasumsikan kalau alarm kali ini pun adalah alarm palsu. Di sana ada line drain dengan lubang di vent, ke dalam bangunan proses. Methyl chloride keluar melalui lubang tersebut ke dalam bangunan yang biasanya tidak ada orang. Kebocoran ini terjadi selama 5 hari sampai pendeteksi gas untuk bahan kimia lainnya terpicu. Diperkirakan terdapat sekitar 2000 pounds (900kg) methyl chloride telah bocor.

Gambar 2 & 3. Rupture disc (sambungan yang pecah)

Menyikapi alarm palsu

 ➢ Jangan pernah menghiraukan alarm. Alarm harus menunjukkan prosedur cepat tanggap secara spesifik, dan Anda harus selalu mengikuti prosedur ini. Pastikan bahwa Anda memahami prosedur cepat tanggap tersebut dan telah dilatih untuk mengikutinya.

➢ Jika Anda memiliki alarm yang mengganggu, khususnya alarm keselamatan, yang “chatter” atau berada dalam kondisi alarm, laporkan masalah tersebut ke instrument dan automation engineer dan manajemen. Dan bekerja sama lah dengan mereka untuk memperbaiki masalah ini.

➢ Jika Anda memiliki alarm yang tidak memerlukan respon, bekerjalah dengan engineer dan Manejemen Anda untuk mematikan alarm tersebut. Jangan menukar set point alarm jika tidak dibenarkan.

➢ Pastikan perubahan apapun terhadap alarm dan peralatan, set point alarm, atau alarm prosedur cepat tanggap, direview secara mendalam dengan menggunakan prosedur MOC pabrik Anda. Hal ini meliputi pemberitahuan kepada semua pihak terlibat akan perubahan tersebut, dan training untuk prosedur yang telah dimodifikasi akibat perubahan tersebut.

Referensi

Center for Chemical Process Safety. 2017. “Process Safety Beacon – October 2017 – Indonesian.” Center for Chemical Process Safety. October 1. Accessed November 3, 2011. https://www.aiche.org/ccps/resources/process-safety-beacon/201710/indonesian.

Definisi dan Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Definisi Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja yang merupakan kepanjangan dari K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan  melindungi  keselamatan  dan  kesehatan  tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. ( PP 50 Tahun 2012)

Definisi di atas adalah definisi yang dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3. Selain definisi di atas, pakar atau organisasi lain juga ada yang mengajukan definisi K3.

Definisi dan Pengertian Keselamatan

Sebelum membahas keselamatan dan kesehatan kerja, akan dibahas dulu definisi dan pengertian  “keselamatan” dan “keselamatan kerja”

“Keselamatan” (Safety) menurut International Civil Aviation Organization adalah keadaan di mana rasa sakit yang dirasakan seseorang atau kerusakan property dapat dikurangi, dipertahankan rendah pada tingkat yang dapat diterima melalui proses berkelanjutan dalam identifikasi bahaya dan manajemen risiko.

US Agency for Health care Research and Quality memberikan definisi “keselamatan” sebagai bebas dari luka kecelakaan.

Leveson (1995,2004) memberikan definisi “keselamatan” (safety) sebagai ketiadaan kecelakaan, di mana kecelakaan didefinisikan sebagai kejadian yang menghasilkan kerugian yang tidak direncanakan dan diinginkan.

Dalam kamus internasional. Definisi keselamatan juga telah didefinisikan:

The free dictionary memberikan definisi keselamatan sebagai “kondisi aman, bebas dari bahaya dan dan risiko serta luka”

Kamus Merriam Webster memberikan definisi keselamatan sebagai “kondisi selamat dari penyebab sakit, luka dan kerugian”

Definisi dan Pengertian Kesehatan

“Kesehatan” adalah keadaan yang utuh secara fisik, mental dan kesejahteraan sosial, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan (WHO 1948).

Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009, Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Definisi dan Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, pengertian keselamatan dan kesehatan kerja adalah segala kegiatan untuk menjamin dan  melindungi  keselamatan  dan  kesehatan  tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah segala kegiatan untuk menjamin dan  melindungi  keselamatan  dan  kesehatan  tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. (OHSAS 18001)

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebuah ilmu untuk antisipasi, rekoginis, evaluasi dan pengendalian bahaya yang muncul di tempat kerja yang dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan pekerja, serta dampak yang mungkin bisa dirasakan oleh komunitas sekitar dan lingkungan umum. (ILO 2008)

definisi keselamatan dan kesehatan kerja

Gambar Helm Proyek

Credit: Marcandrews.co.uk

Kritik Terhadap Definisi Keselamatan

Kritik-kritik terhadap definisi “keselamatan” (safety) datang dari Terje Aven (2014) dan Errik Hollnagel (2014). Kritik-kritik tersebut disampaikan pada jurnal mereka yang diterbitkan dalam jurnal Safety Science.

Terje Aven (2014) mengkritik definisi Keselamatan dari Leveson (1995) yang menyebutkan bahwa keselamatan adalah ketiadaan kecelakaan. Ia berpendapat “keselamatan” lebih dekat kepada definisi “risiko” (risk) yang disampaikan oleh Rosa (1998,2003) yaitu “Risiko adalah sebuah situasi atau kejadian di mana sesuatu yang berharga bagi manusia (termasuk dirinya sendiri) tengah berada dalam ancaman di mana hasilnya belum pasti.

Terje Aven memisalkan sebuah kejadian, yaitu kebakaran dalam gedung. Jika kita menggunakan definisi keselamatan dari Leveson, maka kebakaran dalam gedung masih digolongkan dalam “keselamatan” sepanjang masih belum ada yang terluka. Sedangkan jika kita menggunakan definisi dari Rosa, maka kebakaran dalam gedung termasuk dalam “risiko”. Ia kemudian secara tegas menolak untuk melihat keselamatan sebagai “ketiadaan kecelakaan”.

Errik Hollnagel (2014) mengkritik penggunaan “keselamatan” yang berfokus untuk mengurangi kecelakaan di mana pada “kecelakaan” justru tidak ada “keselamatan”. Ia menekankan bahwa fokus keilmuan keselamatan harusnya pada situasi di mana tidak ada yang salah, di mana itulah keselamatan, daripada fokus pada situasi di mana munculnya keselahan, di mana tidak ada keselamatan.

The scientific study of safety should focus on situations where nothing goes wrong, i.e., where there is safety, rather than on situations where something goes wrong – where there is no safety

Keselamatan dan kesehatan kerja sebaiknya berfokus kepada peningkatan positif dari keselamatan dan kesehatan kerja itu sendiri. Sebagai praktisi K3, penting sekali untuk mengambil definisi k3 terbaik yang akan menjadi arahan kita sehari-hari di tempat kerja. Untuk memahami lebih jauh mengenai K3, silakan dicek definisi dan sejarah k3 di katigaku.top.

REFERENSI

Alli, Benjamin O. 2008. Fundamentals Principles of Occupational Health and Safety. Geneva: International Labour Organization.

Aven, Terje. 2014. “What is safety science?” Safety Science 15-20.

British Standard Institute. n.d. OHSAS 18001:2007. Accessed Oct 29, 2017. http://mhconsulting-indonesia.com/file-download/Klausul-OHSAS-18001.pdf

Hollnagel, Errik. 2014. “Is safety a subject for science?” Safety Science 21-24.

Pemerintah Republik Indonesia. 2012. “Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.” Jakarta.

—. 2009. “Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.” Jakarta.

 

Kecelakaan Kerja: Penyelam Diduga Menghirup Gas Argon

Kecelakaan kerja terjadi pada hari Minggu tanggal 4 Mei 2014 pukul 14.00 WIB yang menimpa 1 (satu) orang pegawai subkontraktor (kontraktor  utama  pembangunan  RFCC  Project),saat melakukan aktivitas penyelaman di area basin SWI-063  dalam rangka melepas plastik pelindung suction pump  SWI  63-P-501A    untuk  persiapan commissioning/start up.

Ilustrasi Penyelaman

Gambar.  Ilustrasi Penyelaman

Sumber: https://www.shape.com/lifestyle/fit-getaways/shapes-editor-chief-scary-scuba-diving-accident

Analisa Penyebab Kejadian

Fakta di Lapangan

  1. Kontrak kesepakatan kerja antara kontraktor dengan pihak korban (pelaksana pekerjaan borongan) dilakukan secara langsung ke orang yang bersangkutan tidak melalui proses formal; perintah kerja dilakukan secara lisan.
  2. Pekerjaan yang dilakukan oleh korban tidak termasuk dalam rencana kegiatan overtime yang dilaporkan ke perusahaan owner (Pekerjaan dilakukan hari libur)
  3. Korban dapat melakukan kegiatan di area kerja (restricted area) karena masuk dari jalur sungai yang terbuka (tidak masuk dari pintu security)
  4. Tidak ada penanggung-jawab/pengawas pada pelaksanaan pekerjaan penyelaman.
  5. Pelaksanaan pekerjaan penyelaman  adalah pekerjaan yang kritis namun tidak dilengkapi hazard   assessment dan Surat Ijin Kerja Aman (SIKA).
  6. Tidak jelas fungsi mana yang mengawasi pekerjaan ini (antara bagian rotating yang meminta pekerjaan dan bagian under water job yang memeberikan tenaga pekerja)
  7. Korban merupakan pekerja pelaksana pekerjaan borongan dan memiliki sertifikat bintang satu yang  dikeluarkan dari POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) bukan dari PADI (Professional Association Diving International )
  8. Kontraktor tidak mempunyai SOP untuk pekerjaan penyelaman.
  9. Ditemukan tabung yang  digunakan  untuk pekerjaan penyelaman berlabel gas Argon no botol  22597
  10. Dari pengecekan di warehouse botol dengan no 22597 adalah botol Argon yang dikeluarkan dari warehouse  dengan bon resmi. Pada saat korban mengapung di kolam basin pembantu yang bertugas   stand  by  saudara G tidak dapat memberi  pertolongan  karena  memang  yang bersangkutan  tidak  mempunyai  kompetensi tentang hal tersebut (yang bersangkutan adalah seorang pengemudi perahu jukung).

Dari kejadian dan merujuk kepada fakta dilapangan baik yang dilakukan melalui interview terhadap pihak-  pihak  terkait  maupun  data  teknis  yang diperoleh dilapangan,  bahwa patut diduga kematian  korban  karena  menghirup  gas argon dengan menggunakan  fishmouth yang digunakan untuk  menyelam. Dimana boto/tabung gas yang korban gunakan berlable Argon (lihat gambar 2). Untuk  meyakinkan  isi  tabung  tersebut  dilakukan pengecekan ke warehouse dan  benar bahwa tabung gas no 22597 ada  dikeluarkan dari warehouse yang berisi Argon.

Tabung Argon

Gambar. Tabung Argon yang dicurigai dipakai dalam penyelaman

Seperti diketahui bahwa Argon akan mengakibatkan seorang  kehilangan  keseimbangan,  membuat bingung dan sukar untuk menyelamatkan diri yang pada akhirnya  dapat berakibat pada kematian. Namun secara pasti unuk menentukan kematian si korban sebaiknya dilakukan  autopsi namun hal ini tidak mungkin dilakukan (masalah keluarga karena korban sudah dikebumikan).

Dari hasil analisis patut diduga bahwa gas yang digunakan   oleh   si   korban   untuk   penyelaman adalah gas Argon (zat argon dapat mengakibatkan manusia  meninggal).  Untuk memastikannya  hal ini seyogyanya  harus  dilakukan  autopsi  pada  si korban. Namun seperti dijelaskan diatas hal ini tidak mungkin dilakukan.

Pelajaran yang bisa diambil

Dari kejadian tersebut dapat diambil pelajaran bahwa  pekerjaan    yang    dilakukan    harus megikuti SMK3 yang telah ditetapkan melalui proses PDCA (khusus untuk pekerjaan kritikal seperti penyelaman).

Faktor manusia  merupakan  penyebab kecelakaan  paling  tinggi,  sehingga  semua  kegiatan yang dilakukan oleh seorang pekerja harus  dibawah pengawasan ketat.

Proses  PDCA  yang  ada  di  dalam  SMK3 tidak  dilaksanakan  antara  lain,  Persyaratan administrasi, Analisa  bahaya,  Ijin  &  prosedur kerja,  Persiapan  tanggap  darurat,  Sistem pengawasan dan lain-lain.

Referensi

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2016. Atlas Keselamatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

 

Kecelakaan Fatality pada tes pompa truk pemadam kebakaran

Pada tanggal 13 Maret 2014 Jam 10.15 WIB telah terjadi kecelakaan kerja menimpa pekerja-1 yang bekerja sebagai  pekerja pemeliharaan alat pemadam kebakaran, status kontraktor (mitra kerja) pada saat proses pemadaman kebakaran.

Ilustrasi pemadam kebakaran

Ilustrasi tim pemadam kebakaran

Credit: autobild.co.id

Korban yang bertugas sebagai nozzleman, dalam pemadaman kebakaran  terpental karena tekanan Jet  reaction yang kuat.  Korban dalam kondisi tidak sadar dibawa ke Rumah Sakit. Korban meninggal dunia tanggal 14 Maret 2014 jam 06.10 WIB karena terjadi pendarahan diotak.

Deskripsi Kejadian

  • Pada tanggal 13 Maret 2014 Jam 10.15 WIB telah terjadi kecelakaan  kerja  menimpa  pekerja-1 yang bekerja sebagai  pekerja pemeliharaan alat  pemadam  kebakaran,  status  kontraktor (mitra kerja).
  • Pada saat  kejadian pekerja-1 bertugas sebagai nozzleman   pada      pengetesan  fire truck, pekerja-2 sebagai fire pump  operator , pekerja -3 mengoperasikan fixed fire monitor.
  • Pada saat  kejadian  dimana  tekanan  pompa mencapai 8 kg/cm2, tidak ada yang melihat kejadian, pekerja-1 terpental karena tekanan  Jet reaction  yang kuat.
  • Korban tidak sadar, dibawa ke Rumah Sakit. Korban meninggal dunia tanggal 14 Maret 2014 jam 06.10 WIB karena terjadi pendarahan diotak.
  • Kondisi korban pada tanggal 13 Maret 2014 tidak fit karena kurang tidur dan ada problema keluarga,yang diduga dapat  menyebabkan terjadinya kecelakaan

Posisi korban mengontrol noozle

Sketsa kejadian

Data dan fakta ditemukan:

  • Kondisi korban pada tanggal  13  Maret  2014 tidak fit karena kurang tidur dan ada problema keluarga.
  • Pekerja-2 yang mengetahui bahwa pekerja-2 sudah tergeletak  terlentang  dijalan  dengan posisi kaki kearah fire truck dan  safety   helmet terlempar ± 3 m disebelah kiri sisi korban.
  • Tidak ditemukan SOP pengetesan pompa
  • Dari hasil record medis MCU korban dinyatakan tidak fit dan dapat kerja ringan
  • Tidak ditemukan data-data mengenai  pembinaan mitra kerja.

Analisa Penyebab

Penyebab langsung

Perbuatan tidak aman:

  • Posisi tubuh kurang tepat saat memegang noozle saat pemadaman kebakaran

Kondisi tidak aman:

  • Tekanan air pemadam dengan kecepatan dan tekanan tinggi bisa membahayakan pekerja yang bertindak sebagai noozle man jika posisi dan kondisi tidak fit

Penyebab dasar

Personal factor

  • Stress fisik atau fisiologi tidak layak. Kondisi pekerja-1 sebagai nozzleman pada saat bekerja sedang tidak fit yang menyebabkan konsentrasi kurang untuk bekerja secara tepat dan kurang fokus dalam mengantisipasi bahaya.
  • Kurang keahlian. Dari fakta yang  ditemukan,  pelatihan untuk pekerja masih kurang
  • Pemakaian APD tidak layak. Pemakaian safety helmet tidak menggunakan pengikat sehingga mudah terlepas, sehingga  pada  saat  korban terjatuh  safety helmet  terlepas

job factor

  • Perencanaan dan  pengawasan  dalam pekerjaan  belum    Karena kegiatan  dianggap  sudah  rutin  maka tidak  dilakukan  persiapan  atau  analisa risiko memadai. Termasuk juga kesiapan tenaga  personel  yang  terlibat  dalam pekerjaan karena ternyata korban dalam kondisi tidak fit dan dapat keterangan dokter untuk melakukan kerja ringan.

Lesson learned

  • Kondisi kesehatan pekerja yang tidak fit dapat menyebabkan   Oleh  karena  itu aspek kesehatan kerja sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dari manajemen. Untuk itu semua pekerja di lingkungan migas termasuk kontraktor harus  “fit to work” melalui MCU dan monitoring kesehatan pekerja.
  • Kesehatan pekerja  harus  menjadi  dasar penetapan penugasan seseorang dalam suatu pekerjaan  (fit the man to the job), khususnya bagi pekerja dengan risiko tinggi.
  • Pengoperasian peralatan  dengan  tekanan tinggi harus dilakukan analisa risiko dan sesuai dengan SOP.

Referensi 

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2016. Atlas Keselamatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Seminar Patriot K-02 HSE Indonesia Bekasi Sukses

Pada 30 September 2017, HSE Indonesia Bekasi berhasil menyelenggarakan Seminar Pertemua Anggota HSE Bekasi Oke dan Top (Patriot) yang ke-2 dengan tema Tak Kenal Darurat maka Tak Kenal Diri Sendiri. Seminar ini diselenggarakan di Hotel @Hom Metland Tambun Bekasi dengan peserta lebih dari 80 orang dan didukung oleh banyak sponsor.

Acara Patriot 2 ini terdiri dari seminar mengenai kesiapsiagaan darurat, cara resusitasi jantung, dan juga materi dari Safe Kids Indonesia. Tak ketinggalan pula sponsor yang memberikan free medical check up. Selain itu, juga terdapat kuis yang berhasil dimenangkan oleh Founder Katigaku.top.

Dalam pesannya, Evin Dian Pramastuti, Ketua Panitia Patriot 2, menyampaikan:

Patriot HSE I Bekasi adalah media yang sangat praktis sebagai tempat untuk bertukar pikiran dari masing-masing perusahaan berbagai macam bidang, sebagai pembelajaran untuk calon karyawan bidang K3 dan lingkungan, sebagai gambaran terhadap apa yang d wajib dilakukan oleh praktisi HSE khususnya menghadapi keadaan tanggap darurat. Acara ini juga menjadi sumber ilmu yang bisa didapatkan dari pakar-pakar HSE seperti Pak Soehatman dan dr.Siska yang menjadi pembicara. Semoga seluruh member HSE Bekasi bisa rutin hadir mengikuti acara Patriot ini dan bisa menerapkan (pesannya) di masing-masing bidang HSE”

Ketua panitia (paling kiri) dan Founder Katigaku.top (kedua dari kiri) saat penyerahan hadiah kuis

 

Para perwakilan sponsor dan media partner

 

Peserta dan panitian Patriot 2