Menilai Resiko Ergonomik di Kantor dengan Metode ROSA (Rapid Office Strain Assessment)

Sebagian besar di antara kita mengira bahwa resiko ergonomik di kantor tidak lah besar. Resiko ergonomik adalah resiko munculnya gangguan nyeri terkait dengan otot dan tulang (Musculoskeletal Disorders). Anggapan tersebut mungkin ada benarnya mengingat di kantor kita hanya berkutat dengan layar komputer, keyboard dan kursi.

Resiko ergonomik di kantor mungkin tidak seperti karyawan di bidang produksi yang harus mengangkat produk dengan berat puluhan kilogram dan frekuensi yang tinggi namun karena peningkatan penggunaan komputer yang dramatis dalam 1 dekade belakangan, peningkatan gangguan sendi dan tulang pun juga meningkat.

Dalam jurnalnya, Wahlström tahun 2005 melaporkan bahwa terdapat 62% peningkatan gangguan tulang dan otot. Oleh karenanya, identifikasi resiko ergonomik pada pekerjaan di kantor sangat penting sebagai langkah awal pencegahan.

Gambar 1. Ilustrasi Gangguan Otot Ketika Beraktifitas di Komputer

Sumber: http://gla-rehab.com/how-to-ergonomically-optimize-your-office-space-to-avoid-back-pain/

Pada tahun 2012, Michael Sonne beserta rekan-rekannya mengembangkan sebuah tool berupa Borang (form) guna mengidentifikasi resiko ergonomik di kantor dengan cepat dan mudah. Borang itu diberi nama ROSA (Rapid Office Strain Assessment).

Borang ROSA ini memiliki telah terbukti baik dalam menganalisa resiko ergonomik dengan nilai reliabilitas tinggi dan validitas yang tinggi. Dalam penerapannya, ROSA ini mirip RULA (Rapid Upper Limb Assessment) ataupun REBA (Rapid Entire Body Assessment) hanya saja ROSA difokuskan untuk aktivitas di kantor.

Dalam menggunakan ROSA, kita hanya diminta melakukan 3 hal:

  • Bandingkan posisi yang ingin kita nilai dengan form posisi yang ada di Form ROSA

Gambar 2. ROSA Form Bagian A

Gambar di atas menunjukkan bagaimana cara mengisi bagian A untuk menilai ketinggian kursi dan panjang paha yang ditopang oleh kursi dalam ROSA. Pertama kita lihat dulu ketinggian kursi, standardnya paha dengan tungkai harus membentuk sudut 90 derajat sehingga posturnya bernilai 1 dalam ROSA, lebih atau kurang dari itu akan menambah nilai resiko ergonomik.

Kita juga harus melihat jarak tumit dengan ujung dasar kursi (pan depth) jika panjangnya 3 inchi maka bernilai 1. Jika jaraknya lebih atau kurang dari 3 inchi maka akan bernilai 2, bahkan jika kursinya tidak bisa disesuaikan (non adjustable) maka akan bernilai 3.

  • Masukkan nilai posisi yang tertera pada form di matrix

MIsalnya, dalam sebuah posisi di atas kita menentukan posisi ketinggian kursi bernilai 7 dan jarak tumit dengan ujung dasar kursi bernilai 4, maka kita harus menarik garis lurus di antara kedua nilai ini dalam matrix posisi A. Sehingga akan ditemukan nilai 6

Gambar 3. Matrix Bagian A

  • Ulangi aktivitas 1 dan 2 untuk posisi anggota tubuh yang lain sesuai urutan

Ikuti pola poin 1 dan 2 seterusnya dalam posisi lain yang ada di dalam ROSA hingga ditemukan nilai akhir

Untuk jurnal ROSA selengkapnya bisa dilihat di sini.

Untuk form ROSA kosong bisa dilihat di sini

Untuk panduan sederhana ROSA bisa dilihat di sini

 

REFERENSI

Lead Ergonomic, n.d. ROSA. [Online]
Available at: https://www.leadergonomics.com/rosa/session/rosainstruction.php

Sonne, M., 2012. Development and evaluation of an office ergonomic risk checklist: ROSA – Rapid office strain assessment. Applied Ergonomics, pp. 98-108.

 

Apa itu Mikro Ergonomik dan Makro Ergonomik?

Kondisi kerja yang tidak manusiawi pada awal era industrialisasi di abad 19 membuat munculnya beberapa disiplin untuk menjawab tantangan tersebut. Pada tahun 1857, Jastrzebowski dari Polandia mengajukan proposal di dalam Jurnal “Nature and Industry” untuk mengambil pendekatan ilmiah guna menjawab permasalahan yang timbul dari pekerjaan dan membuat ilmu khusus untuk menemukan hasil yang terbaik dengan tenaga yang minimum dan kepuasan tertinggi bagi kesejahteraan publik dan dengan memberikan keadilan dari kesadaran sendiri serta orang lain. Ia menamakan cabang ilmu ini sebagai “Ergonomik” atau di Amerika biasa disebut “Human Factors”.

Di tahun 1949, Murrell di Inggris menyatakan bahwa kata Ergonomik berasal dari Kata “Ergon” yang berarti “kerja” dan “Nomos” yang berarti “peraturan”. Ergonomik adalah sebuah ilmu multidisiplin yang menggunakan ilmu dasar dari Ilmu tekhnik, ilmu manusia, ekonomi dan ilmu sosisal. Ergonomik juga mengambil pendekatan dari kedoketeran kerja, psikologi industri, pedagogic industri, tekhnik bekerja, hukum industri serta sosiologi industri. Semua ilmu ini dirangkum dalam gambar berikut:

Gambar 1Gambar 1. Ergonomik dan Disiplinnya

Terkait dengan term “kerja” dalam kata “Ergon”, terdapat 2 pandangan yang berbeda yaitu:

  1. Pekerjaan yang berhubungan dengan subjek yang berarti sebuah “usaha” dari individu
  2. Pekerjaan yang berhubungan dengan objek yang melihat hasil berupa produk dari usaha yang dilakukan

Ergonomik bertujuan untuk mengurangi beban dari pekerjaan yang berhubungaan dengan subjek sambil meningkatkan pekerjaan yang berhubungan dengan objek secara bersamaan.

Berdasarkan lingkupnya, Ergonomik dibagi menjadi 2 yaitu: Mikro Ergonomik dan Makro Ergonomik:

Mikro Ergonomics

Mikro Ergonomik adalah pembahasan ergonomik yang hanya fokus kepada sebuah tempat kerja saja. Mikro Ergonomik lebih banyak melihat ke arah postur, frekuensi dan beban kerja saja tanpa melihat seluruh organisasi pekerjaan. Dalam pengukurannya, kita biasa menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) atau Rapid Upper Limb Assessment (RULA).

8566117-Homo-vitruviano-So-called-The-Vitruvian-man-a-k-a-Leonardo-s-man-Detailed-drawing-on-the-basis-of-a-Stock-VectorGambar 2. The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci yang Mengenalkan Tentang Proporsi Tubuh

Sumber: http://www.123rf.com/photo_8566117_homo-vitruviano–so-called-the-vitruvian-man-a-k-a-leonardo-s-man-detailed-drawing-on-the-basis-of-a.html

Tujuan utama dari Mikro Ergonomik adalah untuk meningkatkan performa dari semua sistem kerja dan juga mengurangi stress yang diberikan pada pekerjaan manusia dengan menganalisis tugas, lingkungan kerja dan Interaksi Mesin Manusia (Man Machine Interaction). Mikro Ergonomik biasa juga disebut ergonomik dengan pendekatan tradisional

Konsep stress and strain adalah pendekatan tradisional untuk menilai sistem kerja. Konsep dasarnya adalah setiap tempat kerja memiliki faktor eksternal yang sama untuk semua individu yang bekerja di sana (stress) namun setiap individu pastinya bereaksi secara berbeda tergantung kepada karakter dan kemampuan individu (strain)

Bidang lain dari micro ergonomik adalah analisis aspek sistem mesin-manusia. Analisis ini dapat dilakukan dengan memperhatikan situasi geometric dari tempat kerja dan alat (biasa disebut desain antropometrik) dan dengan memperhatikan arus informasi dalam Sistem Manusia dengan Mesin.

Desain tempat kerja yang sesuai dengan antropometrik berkonsentrasi pada area pandangan, area tempat memegang barang dan area pergerakan kiki pada layout pendukung tubuh seperti kursi dan juga mencakup desain layar serta kontrol. Ergonomik juga memperhatikan keterbatasan dalam organ sensorik manusia seperti keterbatasan pada kapasitas resolusi mata dan keakuratan dari pergerakan anggota tubuh yang mana keterbatasan tersebut sangat relatif di berbagai manusia.

Macro Ergonomic

Menurut REFA, Makro Ergonomik membahas struktur dan organisasi arah pekerjaan terkait dengan tugas, isinya, dan faktor waktu. Target Makro Ergonomik bukanlah tempat kerja yang tunggal seperti dalam Mikro Ergonomik, namun lebih ke interaksi beberapa tempat kerja secara bersamaan.

Menurut Hendrick, Makro Ergonomik adalah sebuah studi dari desain pekerjaan, strategi organisasi, struktur organisasi, sistem insentif, dan program pelatihan yang berkonjungsi dengan tekhnologi. Makro Ergonomik merupakan evolusi dari Teori Sosio-tehnikal sistem dan berfokus kepada mendesain faktor-faktor tersebut sehingga kemampuan manusia dan digunakan secara efektif untuk mendapatkan tujuan personal dan organisasi.

Sebuah alur kerja dan interaksinya dalam sebuah organisasi kerja dapat dlihat dalam gambar berikut:

Gambar 5

Gambar 3. Aspek Bisnis dan Sosial yang Mempengaruhi Pekerjaan

Gambar di atas memberikan kita informasi antara lain:

  • Sebuah analisa dari alur kerja harus memberikan informasi tentang seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk sebuah pekerjaan yang harus dilakukan dalam sebuah unit organisasi dan dengan keterkaitannya dengan unit lain.
  • Hal ini mirip dengan Mikro Ergonomik, tapi lebih komprehensif, kondisi lingkungan didefinisikan sebagai yang mendapatkan akibat tak langsung dari pekerjaan dan proses komunikasi
  • Di sisi output dari sebuah proses, peningkatan performa dapat dilakukan dengan memperkerjakan orang untuk melakukan verifikasi terhadap kualitas dan mempertinggi motivasi pekerja

Hal menarik dalam pandangan makro ergonomik adalah ia memperhatikan persyaratan individu dan kebutuhan dari karyawan. Makro ergonomik menganggap bahwa perkembangan sosial adalah salah satu subjeknya sehingga menganggap setiap individu sangat dinamik. Ini yang menjadi alasan pergantian pandangan dari bekerja di dunia produksi ke bekerja di dunia jasa karena individu berharap fleksibilitas dari pekerjaan dan keperluannya untuk tetap belajar.

Meskipun mikro ergonomik dan makro ergonomik berbeda, namun keduanya memiliki prinsip yang sama yaitu “Manusia bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja”.

REFERENSI

Sanda, M. A. (2003). Combined Micro Ergonomics, Macro Ergonomics and System Study of the Application and Internalization of Waitro Developed Best Management Practices by Research and Technological Organizations. Lulea: Lulea University of Technology Sweden.

Technisce Universitat Munchen. (n.d.). What Is Ergonomic? Retrieved Jan 1, 2016, from Lehrstuhl Fur Ergonomie: http://www.lfe.mw.tum.de/en/institutedivision/what-is-ergonomics/

 

Infografik : Sehat di tempat kerja dan Sehat dengan aktfitas fisik

Menjadi manusia sehat adalah dambaan dari setiap insan. Namun, semakin bertambah umur dari seseorang kadang membuat ia semakin lupa dengan keinginan tersebut karena terlarut dengan dunia pekerjaannya. Padahal, kita masih tetap dapat sehat sambil melakukan aktfitas pekerjaan dengan banyak tindakan mudah termasuk dengan melakukan aktifitas fisik. Melalui 2 infografik sederhana ini, Kementerian Kesehatan Indonesia memberikan tips kepada kita agar kita selalu sehat dalam pekerjaan dan juga dapat melakukan aktfitas fisik dengan benar.

"Infografik : Sehat di tempat kerja dan Sehat dengan aktfitas fisik"

Menaikkan Produktivitas Kerja dengan Ergonomik

Kata “Ergonomik” berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “ergon” yang berarti kerja dan “nomos” yang berarti hukum. Secara istilah, Ergonomik adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana merancang pekerjaan agar sesuai dengan pekerjanya dan bagaimana agar pekerjaan tersebut tidak terlalu membebani para pekerjanya. Ergonomik mencakup aspek tekanan fisik dari tubuh yang berfokus pada sendi, otot, tulang, syaraf, tendon, dan sebagainya serta juga mencakup aspek lingkungan yang terdiri dari panas, getaran,cahaya dan lain-lain. Ergonomik bagi…

"Menaikkan Produktivitas Kerja dengan Ergonomik"