Mengenal Dosis, Toksikokinetik dan Toksikodinamik

Dosis dari suatu zat kimia yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi respons yang tejadi di dalam tubuh. Jenis zat kimia yang masuk juga akan mempengaruhi respons yang terjadi.

Dalam pembentukan Nilai Ambang Batas kimia, beberapa istilah respons terhadap dosis telah dikenal. No observed adverse exposure level (NOAEL) menunjukkan titik di mana jumlah dosis tidak memiliki efek buruh terhadap kesehatan apapun. Sedangkan, lowest observed adverse exposure level (LOAEL) menunjukkan jumlah titik di mana jumlah dosis menunjukkan efek terendah yang dapat diamati.

Gambar 1 Kurva hubungan dosis-response. Kurva kiri menunjukkan titik dengan NOAEL dan LOAEL sedangkan kurba kanan tidak menunjukkan adanya ambang batas (threshold) (Schenk 2011)

Dosis zat kimia yang masuk ke dalam tubuh sangat mempengaruhi dampak yang terjadi pada manusia. Dosis yang masuk ke dalam tubuh dipengaruhi oleh toksikokinetik dan toksikodinamik dari masing-masing zat kimia.

Toksikokinetik adalah studi kuantitatif dari pergerakan sebuah zat kimia yang dimulai dari masuknya zat kimia ke dalam tubuh, pendistribusiannya ke organ dan jaringan melalui sirkulasi darah dan disposisi terakhir dengan biotransformasi serta eksresi. Konsep dari toksikokinetik adalah absorpsi, distribusi, metabolsime dan eksresi (ADME) (Klaassen 2008).

  • Absorpsi

Sebelum zat kimia membuat dampak kesehatan kepada tubuh manusia, zat kimia tersebut harus masuk ke dalam tubuh. Peristiwa masuknya zat kimia ke dalam tubuh disebut dengan absorpsi. Secara umum, rute masuk zat kimia dalam absorpsi terdiri dari 3 rute yaitu inhalasi, dermal dan ingesti. Inhalasi merupakan jalur utama dari pajanan di tempat kerja karena banyak zat kimia yang dapat masuk langsung ke paru-paru melalui jalur inhalasi seperti debu, asap, uap, kabut dan gas. Zat kimia tersebut masuk ke dalam paru yang memiliki luas sekitar 140 m2 sehingga memudahkan untuk absorpsi.

Kontak kulit adalah rute kedua yang terpenting dalam absorpsi. Kulit memiliki total luas sekitar 2 m2 dengan kemampuan untuk mengabsorpsi zat kimia terutama yang berbentuk cairan seperti KOH ataupun aerosol seperti pestisida. Meskipun sedikit, jalur ingesti juga dapat menjadi jalur masuk zat kimia yang berbahaya (Klaassen 2008). Jalur ingesti merupakan jalur pencenaan yang dimulai dari mulut, kerongkongan, dan lambung. Zat kimia yang masuk dalam jalur ini biasanya terjadi karena ketidaksengajaan seperti dalam kasus keracunan.

  • Distribusi

Ketika zat kimia diabsopsi ke dalam aliran darah, maka zat kimia tersebut dapat diangkut ke seluruh tubuh. Proses ini disebut “distribusi” yang merupakan proses reversibel yaitu zat kimia dapat masuk ke dalam sel dari darah ataupun bisa masuk ke darah dari sel. Pengiriman zat kimia ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aliran darah, permeabilitas kapiler, kekuatan dari pengikatan dari zat kimia ke darah ataupun jaringan protein dan solubilitas relative dari molekul zat kimia (Terms n.d.).

  • Metabolisme

Untuk mempermudah eksresi, zat kimia harus melalui proses metabolisme terlebih dahulu. Proses metabolisme bisa berlangsung di hati atau ginjal baik dengan perubahan struktur zat kimia ataupun dengan perubahan kimiawi dari zat kimia.

Metabolisme dari zat kimia dapat bervariasi antar grup populasi. Genetik menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi enzim untuk memproses zat kimia. Umur menjadi faktor lain yang mempengaruhi karena semakin tua seseorang makan semakin kecil toleransinya terhadap zat kimia(Terms n.d.).

  • Eksresi

Pengeluaran secara keseluruhan zat kimia dari dalam tubuh disebut dengan eksresi (Terms n.d.). Ginjal dan organ pencernaan menjadi bagian penting dalam proses eksresi ini. Selain itu, air susu ibu,keringat, rambut, kuku dan air ludah juga dapat menjadi organ yang melakukan proses eksresi (Trush 2008)

Gambar 2. Ilustrasi Lambang Bahan Beracun

Selain toksikokinetik, di dalam konsep dosis, terdapat juga toksiko dinamik. Menurut Trush (2008), tokisiko dinamik berarti dampak molekuler, biokimia dan fisiologis dari toksikan atau metabolitnya dalam sistem biologik. Dampak ini terjadi sebagai hasil dari interaksi antara dosis yang efektif secara biologis dari bentuk terakhir toksikan di dalam target molekulernya.

Dalam konsep toksikodinamik, seseorang bisa menjadi sakit dimulai dari perubahan di dalam molekulernya yang berlanjut hingga respons dari organismenya. Perubahan ini dapat berubah kembali ke kondisi awal baik dengan perbaikan ataupun tidak. Namun, tidak semua perubahan organisme dapat berubah kembali ke kondisi awal.

Gambar 3 Skema toksikodinamik (Trush 2008)

Referensi

Schenk, L., 2011. Setting occupational exposure limits Practices and outcomes of toxicological risk assessment, Stockholm.

Terms, K.E.Y., Pharmacokinetics : The Absorption , Distribution , and Excretion of Drugs. , pp.27–40.

Trush, M.A., 2008. Absorption, Distribution, and Excretion. John Hopkins Bloomberg School of Public Health. Available at: http://ocw.jhsph.edu/courses/publichealthtoxicology/PDFs/Lecture1_Trush.pdf.

Bahaya gas diasetil dari Pop Corn

Siapa yang tidak mengenal pop corn? Cemilan enak yang berasal dari jagung ini sangat jamak dimakan sebagai pendamping di kala menonton layar lebar. Namun, apakan Anda tahu, ternyata pop corn ini mengandung gas yang sangat berbahaya terhadap kesehatan.

Adalah Gas Diasetil dalam pop corn yang merupakan gas beracun. Diasetil merupakan zat kimia artifisial yang dibuat untuk digunakan dalam perasa mentega dan umum digunakan dalam pop corn yang dibuat di microwave.  Diasetil juga digunakan dalam ribuan produk termasuk di antaranya adalah makanan berpengawet, roti, permen, makanan ringan dan lain-lain.

Uap diasetil dapat menimbulkan kerusakan paru-paru yang disebut dengan bronchiolitis obliterans. Penyakit ini ditandai dengan kesulitan bernafas, batuk kering, pusing dan kelelahan yang tak dapat dijelaskan. Jika pajanan terus berlanjut, kerusakan lebih lanjut dapat terjadi hingga harus melakukan transplantasi paru-paru. Penyakit ini bersifat irreversible atau tidak dapat dikembalikan ke kondisi kesehatan seperti semula.

Pada kasus terburuk, pekerja hanya dapat menggunakan 25 persen dari kapasitas parunya sehingga mereka membutuhkan pernafasan melalui botol oksigen. Maka wajar jika Occupational Exposure Limits Short Term Exposure Limit (Nilai Ambang Batas pajanan 15 menit) Diasetil yang ditetapkan oleh TLV ACGIH 2016 hanya sebesar 0.02 ppm. Nilai tersebut jauh lebih kecil daripada nilai untuk kategori sama yang ditetapkan untuk benzene yaitu sebesar 2.5 ppm.

Bronchiolitis obliterans sudah diamati semenjak 1985 oleh National Institute of Occupational Health and Safety (NIOSH) Amerika Serikat. NIOSH mengamati kasus tersebut di 2 pabrik pembuat perisa sintetik. Namun, kaitan antara bronchiolitis obliterans dengan diasetil baru dibuktikan secara ilmiah pada tahun 2002.

Untuk mengurangi efek buruk dari disetil, berbagai macam pengendalian harus dilakukan. Di beberapa tempat, diasetil telah diganti dengan 2,3-pentanedione namun substansi tersebut masih dicuragai memiliki bahaya yang sama dengan diasetil karena terdapat persamaan struktur kimia di antara keduanya.

NIOSH merumuskan 3 tahap sebagai basis program pengendalian bahaya terhadap diasetil:

  1. Memantau pajanan dari diasetil kepada pekerja
  2. Evaluasi efektifitas dari pengendalian tekhnis yang dipakai di tempat kerja
  3. Menggunakan alat pelindung yang tepat

Pengendalian resiko mutlak harus dilakukan untuk melindungi pekerja dari bahaya diasetil. Pengukuran lingkungan terhadap kandungan gas diasetil akan membuat awal yang baik dari pengendalian resiko. Pengendalian teknis adalah pengendalian resiko paling utama. Pengendalian teknis dapat dilakukan dengan memasang belalai exhaust di dekat penggunaan diasetil, menggunakan mesin robotic untuk mencapur diasetil ataupun menggunakan tempat tertutup dengan ventilasi yang baik. Alat pelindung diri bisa menjadi cara pengendalian pelengkap yaitu dengan menyediakan respirator yang sesuai.

Referensi

CBSNews. 2007. Can Microwaved Popcorn Ruin Your Lungs? September 5. Accessed November 11, 2016. http://www.cbsnews.com/news/can-microwaved-popcorn-ruin-your-lungs/.

  1. Food flavouring wrecked my lungs. March. Accessed November 1, 2016. http://www.hazards.org/diacetyl/.

Kreiss, Kathleen. 2016. “Recognizing Occupational Effects of Diacetyl: What Can We Learn from this History?” Toxicology InProof.

NIOSH. 2011. “Occupational Exposure to Diacetyl and 2,3-Pentanedione.” CDC. August 12. Accessed November 20, 2016. Occupational Exposure to Diacetyl .

Pintas & Mullins Law Firm. n.d. Popcorn Factory Lung Cases (Diacetyl). Accessed November 11, 2016. http://www.pintas.com/toxic-substances/popcorn-factory-lung-cases-diacetyl-/.

Manajemen Stres Pekerja

Stress adalah istilah menarik, kompleks, dan sangat sering disebut ketika ditemukan kondisi dimana ada situasi yang tidak sesuai antara kemampuan seseorang atau keinginan seseorang dalam menjalani hidupnya. Kondisi yang disebut stres oleh kebanyakan orang ketika mengalami hasil pendefinisian terhadap stres di atas adalah kondisi psikologis.

Walaupun begitu, tak hanya kondisi psikologis saja yang termasuk dalam kategori stres, stres fisik pun dapat terjadi dan merupakan jenis stres pula. Hingga saat ini terdapat dua jenis stres yang cukup mudah untuk dikenali, yaitu stres mental dan stres fisik. Umumnya, stres mental diakibatkan oleh kondisi psikososial seperti pekerjaan, sebuah hubungan, kondisi keuangan, keluarga, dan gangguan psikologis yang khas. Sedangkan stres fisik berasal dari kondisi kesehatan tubuh seperti adanya racun dan alergi dalam tubuh, penyakit kronis maupun akut, konsumsi obat-obatan yang berlebihan, serta kelelahan.

Kedua hal tersebut, menurut Staal (2004), didukung oleh teori tentang stres dari Welford (1973) dan Hammond (2000) bahwa stres terjadi karena adanya pelanggaran kondisi alamiah antara kognisi atau pola pikir dengan lingkungan, dalam konteks lingkungan fisik, mental, sosial, budaya tertentu, maupun beban yang dialami seseorang.

Stress tak mesti bersifat negatif, ada juga stress yang bersifat positif. Misalnya, ada teman kita yang dikejar oleh Anjing, dia pasti akan langsung mengalami stress namun stress itu justru akan membuat dia dapat berlari lebih kencang, justru kalau tidak stress dia pasti akan mendapatkan masalah besar.

Secara dampak, stres dibagi menjadi 2:

  • Distress yaitu hasil dari respon terhadap stress yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif(bersifat merusak).
  • Eustress yaitu hasil dari respon terhadap stress yang bersifat sehat, positif, dan

Konstruktif ( bersifat membangun)

Dalam tulisan ini, kita berfokus hanya kepada distress saja.

Untuk mengelola stres ketika kita mengalami kondisi yang seringkali tiba-tiba datang, kita perlu mencermati kiranya apa kebutuhan dan tolak ukur diri sendiri dalam berbagai aspeknya sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi. Apakah yang kita butuhkan adalah perlindungan? Apakah yang kita butuhkan adalah kenyamanan? Ataupun ada hal lain yang benar-benar dibutuhkan? Hal-hal yang benar-benar kita butuhkan kadangkala kita temukan setelah melalui proses panjang. Proses-proses tersebut dapat diawali dengan identifikasi kondisi relasional lingkungan tempat kita berada dengan sumber-sumber penyebab stres bagi diri kita.

Stress berdasarkan sumbernya setidaknya dibagi menjadi 2, yaitu:

  1. Job Content, adalah stress yang berasal dari pekerjaan itu sendiri seperti beban kerja, lama kerja, jenis pekerjaan, kondisi lingkungan.
  2. Job Context, adalah stress yang berasal dari hubungan pekerjaan seperti hubungan dengan rekan kerja, jenjang jabatan ataupun hubungan dengan keluarga di rumah.
A stressed business woman looks tired she answer telephones in her office

Sumber: https://www.fivestaroccmed.com/2016/01/managing-work-related-stress/

Setelah mengetahui hal tersebut, proses selanjutnya pun tidak selalu mudah ketika diri kita belum menerima kondisi-kondisi di atas sebagai sesuatu yang telah tercipta dan benar-benar nyata. Seringkali ada proses denial atau penolakan, yang disadari maupun tidak, dapat memperlambat diri kita saat menuju proses hidup kita selanjutnya.

Prinsip manajemen stres menurut Cox, 1993, terdiri dari tiga hal, antara lain sebagai berikut:

  1. Pencegahan

Melalukan kontrol terhadap potensi bahaya dan pajanan potensi bahaya dengan melakukan desain dan pelatihan pada pekerja untuk mereduksi kemungkinan pekerja terkena stres.

  1. Reaksi

Melakukan pemecahan masalah berdasarkan manajemen dan kelompok, untuk meningkatkan kemampuan rekognisi dan pengendalian masalah saat masalah muncul.

  1. Rehabilitasi

Memberikan dukungan (termasuk konseling) untuk membantu pekerja mengatasi masalah yang muncul dan memulihkan diri dari masalah tersebut. Sementara itu Kurniawidjaja, 2013, mengemukakan bahwa pengelolaan stres kerja sama halnya seperti mengelola risiko dan potensi bahaya kesehatan kerja, manajemen stres di tempat kerja mengikuti siklus manajemen risiko yaitu antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian stres kerja. Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menurunkan risiko stres akibat kerja yaitu dengan mengembangkan pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja yang kondusif bagi kesehatan kerja. Upaya pengembangan pengorganisasian pekerjaan antara lain sebagai berikut (Kurniawidjaja, 2013):

  1. Menerapkan prinsip partisipasi

Melakukan prinsip partisipasi sejak awal misalnya pada perencanaan program, penetapan standar evaluasi dan penetapan kebijakan dengan melibatkan wakil pekerja dalam tim. Tujuannya pendekatan partisipasi adalah agar keputusan yang diambil dapat diterima oleh semua pihak, pekerja turut merasakan kepemilikan program dan merasa dihargai, bertanggung jawab penuh dan termotivasi bekerja giat.

  1. Menerapkan prinsip desentralisasi dan otonomi

Dalam manajemen desentralisasi atau otonomi, cabang atau bagian atau individu diberi

ruang gerak untuk memutuskan sendiri tentang perencanaan dan tingkat hasil yang ingin dicapainya yang sesuai dengan kondisi di lapangan, yang cocok dengan bakat, minat, kebutuhan dan potensi diri masing-masing individu; namun otonomi tetap dalam suatu sistem yang terkendali, yaitu tetap di bawah pengawasan dan usulan yang diajukan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari atasannya yang diberi tanggung jawab untuk itu, tujuannya agar masih terintegrasi dengan perencanaan tingkat di atasnya di dalam situasi yang khusus, dan terjadu keseimbangan yang sinergis antara strategi perencanaan pusat dan individu/kelompok.

  1. Menerapkan konsep tugas penuh.

Konsep tugas penuh diterapkan pada pekerjaan yang dapat dikerjakan secara mandiri. Kelompok atau individu diberi wewenang tertentu yang dapat diterima oleh kedua belah pihak (manajemen dan pekerja), dalam rangka menumbuhkan rasa kepemilikan dan demikian pekerja menjadi termotivasi untuk melaksanakan dan menyempurnakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Sementara itu upaya pengembangan budaya kerja di bidang kesehatan kerja bertujuan agar setiap anggota menampilkan perilaku aman dan sehat. Pada tempat kerja, budaya kerja kolektif dikembangkan antara lain melalui langkah – langka sebagai berikut (Kurniawidjaja, 2013):

  1. Penetapan komitmen dari pimpinan puncak;
  2. Penetapan nilai organisasi dan standar perilaku yang merefleksikan visi dan misi dari perusahaan;
  3. Penetapan sistem pemantauan dan sistem pengendalian;
  4. Penetapan sistem pelaporan dalam struktur organisasi;
  5. Penetapan hierarki kekuasaan;
  6. Penetapan simbol dan semboyan yang menjadi kebanggan seluruh anggota organisasi;
  7. Penetapan sangsi dan penghargaan;
  8. Pelaksanaan pertemuan dan diskusi rutin, serta sistem pelaporan.

Strategi yang tepat dapat ditentukan dan dilakukan berdasarkan dari teori-teori, hasil diskusi tentang pengalaman-pengalaman, hingga professional judgement. Satu hal yang paling mendasar dari tahapan-tahapan manajemen stres adalah: nikmati perjalanan hidupmu dan bersyukur. Selamat mengatasi stres!

Ditulis Oleh : Atthina Ayu Mustika, Mahasiswi Strata 1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakata

REFERENSI

Cox, Tom. 1993. Stress Research And Stress Management : Putting theory to Work. European Agency for Safety and Health at Work. Retrieved From : http://www.hse.gov.uk/research/crr_pdf/1993/crr93061.pdf

Hyman, Mark. 2006. Ultra Metabolism: The Simple Plan for Automatic Weight Loss. New York: Scribner

Kurniawidjaja, Meily. (2010). Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Staal, Mark A. 2004. Stress, Cognition, and Human Performance: A Literature Review and Conceptual Framework. California: Ames Research Center.

Urgensi Promosi Kesehatan Pekerja

Indonesia tengah memasuki masa-masa bonus penduduk. Di tahun 2015, Angka tenaga kerja Indonesia menyentuh hingga 128.3 juta orang dari total sekitar 250 juta penduduk di Indonesia. Sementara angka pengangguran Indonesia sekitar 5.81% (BPS,2015). Angkatan tenaga kerja inilah yang menghabiskan banyak waktu di tempat kerjanya.

Angka penyakit akibat kerja di antara angkatan kerja di Indonesia masih tinggi. Hasil laporan pelaksanaan kesehatan kerja di 26 Provinsi di Indonesia tahun 2013, jumlah kasus penyakit umum pada pekerja ada sekitar 2.998.766 kasus, dan jumlah kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan berjumlah 428.844 kasus (Muchtaruddin,2014). Angka penyakit yang tinggi ini membuat pekerja penerima upah berada dalam urutan kedua dalam pembiayaan penyakit katastropik di BPJS Kesehatan sebanyak 24.1% (Kemenkes, 2014)

Gambar 1. Proporsi Biaya Penyakit Katastropik

Angka penyakit akibat kerja dan klaim BPJS Kesehatan yang tinggi dari pekerja penerima upah adalah memberikan gambaran buruk atas dunia kesehatan kerja di Indonesia. Data-data tersebut menunjukkan bahwa para pekerja mendapatkan masalah terkait dengan PAK karena adanya kontak antara pekerja dengan bahaya di tempat kerja.

Oleh karena masalah-masalah di atas, promosi kesehatan pekerja sangatlah penting. Promosi kesehatan pekerja dinilai dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku sehat pekerja sehingga pekerja dapat terhindar dari penyakit akibat kerja dan penyakit terkait hubungan kerja.

Sebelum menerapkan promosi kesehatan pekerja, kita harus memahami terlebih dahulu 5W+1H dari promosi kesehatan pekerja. 5W+1H itu adalah what,when,why,who, dan how promosi kesehatan pekerja dilaksanakan.

Promosi Kesehatan Pekerja didefinisikan sebagai ilmu dan seni untuk menolong pekerja mengubah gaya hidup mereka agar bergerak menuju status kesehatan dan kapasitas kerja yang optimal, sehingga berkontribusi bagi kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, dan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas perusahaan. (Kurniawidjaja,2010)

Promosi Kesehatan Pekerja sangatlah penting untuk meningkatkan kesehatan pekerja sehingga pekerja dapat terbebas dari penyakit akibat kerja. Dalam Promosi Kesehatan Pekerja, terdapat elemen 5W+1H Promosi Kesehatan Pekerja guna memahami dengan lebih mudah Promosi Kesehatan Pekerja.

  1. What (Apa?)

Promosi Kesehatan Pekerja (PKP) berbeda dengan Promosi Kesehatan di Tempat Kerja (PKDTK). Dalam PKDTK, promosi kesehatan hanyalah dilakukan untuk mengurangi resiko-resiko kesehatan di tempat kerja. PKDTK hanya membuat seorang pekerja sehat di tempat kerja saja tapi belum tentu sehat di luar tempat kerja.

Sedangkan, PKP ditunjukkan untuk pekerja dengan semua resiko kesehatan yang ada baik yang ada di tempat kerja ataupun di luar tempat kerja. Hal ini membuat pekerja tetap akan sehat di mana saja, selain itu pekerja bisa juga menjadi agen kesehatan di manapun ia berada.

Gambar 2. Ilustrasi Promosi Kesehatan Pekerja

https://www.povertyactionlab.org/evaluation/recruiting-and-motivating-community-health-workers-zambia

Banyak hal yang dapat diangkat dalam promosi kesehatan pekerja. Menurut Permenaker No 10 Tahun 2016 tentang Tata Cara Program Kembali Kerja dan Kegiatan Promotif serta Preventif Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, ada beberapa materi yang dapat diangkat dalam PKP, antara lain:

  • Kampanye keselamatan berlalu lintas
  • Promosi dan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat
  • Pembinaan K3
  • Peningkatan budaya K3
  • Peningkatan Gizi Pekerja

Selain tema di atas, PKP juga dapat mengangkat tema seperti ergonomik, penangangan bahan kimia, radiasi, dan tema-tema yang lain. Namun, PKP tetap berfokus untuk memodifikasi perilaku kerja dan perilaku hidup agar lebih sehat.

  1. When (Kapan?)

Promosi Kesehatan Pekerja tidak mengenal batas waktu untuk dilaksanakan, PKP dapat dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja. Di dalam jam kerja, PKP dapat dilaksanakan ketika ada momen tertentu seperti Bulan K3, Hari Gizi Nasional ataupun ketika Hari AIDS sedunia. PKP juga dapat dilaksanakan tanpa menunggu adanya momen tertentu, seperti dengan melakukan konsultasi di medical check up, seminar ataupun media lain yang disebarkan saat jam kerja.

Di luar jam kerja, PKP masih bisa terlaksana dengan adanya rambu, papan atau media informasi lainnya yang dapat dilihat oleh pekerja selepas bekerja. Selain itu, PKP juga bisa dilaksanakan di hari libur dengan mengundang para keluarga pekerja untuk diberikan PKP guna mendukung pekerja menerapkan pola hidup sehat.

  1. Who (Siapa?)

Pelaksana PKP dapat berasal dari 4 unsur, antara lain:

  • Manajemen Perusahaan dan Tim K3

Kebijakan yang top – down dapat diinisiai dari manajemen perusahaan dan Tim K3 perusahaa kepada seluruh karyawan. Pihak inilah yang memegang program serta dana untuk pelaksanaan PKP

  • Pekerja

Pekerja dapat menjadi pelaksana PKP untuk teman kerjanya. Mereka dapat dilatih menjadi agen kesehatan untuk menyebarkan kampanye kesehatan di lingkungan kerjanya. Bahkan dengan cari ini bisa memunculkan program PKP yang down – top

  • Pemerintah

Pemerintah selaku pemangku kebijakan, dapat melaksanakan PKP dengan melakukan kunjungan ke tempat kerja yang menjadi target. Selain itu, pemerintah juga dapat menegakkan kebijakan yang pro kepada PKP

  • Pihak ke-4

Pihak ke-4 terdiri dari organisasi profesi dan juga para Perusahaan Jasa K3 (PJK3). Mereka sering mengadakan seminar atau kegiatan PKP lain baik itu gratis ataupun berbayar.

  1. Why (Kenapa?)

Terdapat 3 alasan kenapa PKP itu penting, yaitu:

  • Pekerja Sehat Merupakan Aset.

Pekerja yang sehat merupakan aset karena di tangan para pekerjalah produktifitas dalam bidang apapun dapat meningkat. Tak hanya merupakan aset bagi tempat kerjanya, pekerja sehat juga merupakan aset bagi keluarga karena penghasilan keluarga berasal dari pekerja. Selain itu, pekerja juga merupakan aset untuk bangsa karena pekerja yang produktif akan meningkatkan perekenomian suatu bangsa.

  • Isu Sentral

PKP merupakan sebuah isu sentral karena pekerja sebagai pelaku pekerjaan, menghabiskan waktu paling banyak di tempat kerjanya sehingga perilaku dan tempat kerjanya harus dipastikan sehat guna meningkatkan ekonomi secara langsung dan citra perusahaan secara tidak langsung.

  • Pemenuhan Legal

Beberapa regulasi seperti UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Permenaker No Tahun 2016, mensyaratkan adanya lingkungan kerja yang sehat dan selamat. Oleh karenanya, PKP penting guna memastikan perilaku sehat pada pekerja.

  1. Where (Di mana?)

Promosi Kesehatan Pekerja dapat dilakukan di tempat kerja dari gerbang masuk hingga ke meja kerja. Promosi Kesehatan Pekerja juga dapat dilakukan di luar tempat kerja seperti di asrama karyawan atau bahkan di rumah pekerja dengan menggunakan media elektronik dan penyuluhan langsung.

  1. How (Bagaimana?)

PKP dapat dilaksanakan dengan metode RAPKPIEK (Kurniawidjaja, 2010) yaitu meliputi:

  1. Rekognisi, adalah tahap untuk mengenali bahaya kesehatan yang ada. Tahap rekognisi bisa dilakuan dengan pelaksanaan Medical Check Up, Health Risk Assessment ataupun dengan observasi langsung.
  2. Analisis, adalah tahap menentukan besarnya permasalahan kesehatan yang telah ditemukan
  3. Perencanaan, adalah tahap di mana kita menentukan target pencapaian dan cara menilainya serta bagaimana proses perubahannya.
  4. Komunikasi, adalah tahap di mana rencana kita disampaikan ke semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan program
  5. Persiapan, adalah tahap di mana kita membuat kebijakan tertulis dari top manajemen untuk melaksanakan program serta menentukan sarana dan prasaran
  6. Implementasi, adalah tahap di mana program dilaksanakan oleh pekerja. Tahap implementasi dapat berupa diskusi kelompok, konsultasi personal ataupun praktek hidup sehat.
  7. Evaluasi, adalah tahap di mana tujuan dan hasil dari program kesehatan di bandingkan. Evaluasi juga dipakai sebagai sarana menilai efektif tidaknya dana yang dikeluarkan oleh manajemen.
  8. Kontinuitas, adalah tahap di mana Program PKP dilaksanakan secara berkesinambungan dan menjadi terus lebih baik.

Referensi:

Badan Pusat Statistik. Februari 2015, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,81 Persen. BPS [Online]. [Diakses 5 April 2016] Dari:URL: http://www.bps.go.id/brs/view/id/1139

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1 Orang Pekerja Di Dunia Meninggal Setiap 15 Detik Karena Kecelakaan Kerja. Kemenkes [Online]. [Diakses 5 April 2016] Dari:URL: http://www.depkes.go.id/article/print/201411030005/1-orang-pekerja-di-dunia-meninggal-setiap-15-detik-karena-kecelakaan-kerja.html

Ana Noviani. Klaim Membengkak, Neraca Keuangan BPJS Terancam Defisit Rp6 Triliun. Bisnis [Online]. [Diakses 5 April 2016] Dari:URL: http://finansial.bisnis.com/read/20150604/215/440302/klaim-membengkak-neraca-keuangan-bpjs-terancam-defisit-rp6-triliun%5BAccessed

Kurniawidjaja,LM, Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Cetakan Ke-3. Jakarta: UI-Press. 2012.

Virus Zika: Apa dan Bagaimana Mencegahnya dari Pekerja?

Virus Zika kini menjadi sorotan banyak pihak karena efek dan jangkauan yang ditimbulkannya. International SOS, sebuah lembaga konsultan keaman internasional, bahkan sempat mengeluarkan peringatan khusus untuk menghindari virus zika ini.

Virus zika adalah sebuah penyakit infeksi yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Meskipun baru-baru ini saja kita mendengar namanya, namun virus ini sebenarnya sudah ada semenjak 50 tahun yang lalu.

5699114e78d099fc12248d9b_zika-virus-cr-gettyGambar 1. Virus Zika dalam Mikroskop

http://www.cntraveler.com/stories/2016-01-15/zika-virus-what-you-should-know

Penyakit ini mewabah secara masal pertama kali didokumentasikan di Yap, Micronesia pada tahun 2007. Penyakit ini lanjut mewabah di Polynesia Prancis pada tahun 2013-2014 dan terus menyebar ke sejumlah Kepulauan Pasifik untuk kemudian menyebar di benua Amerika pada saat ini. Zika terutama menyebar pada daerah dengan iklim tropis.

Ciri-ciri penyakit ini adalah rasa sakit tingkat menengah, gejala demam, mata memerah (konjungtivitis), ruam, sakit pada sendi dan otot. Virus ini juga mulai dihubungkan dengan gangguan kelainan pada janin seperti disampaikan oleh WHO dalam Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

1182399_630x354 Gambar 2. Gangguan Pada Janin Akibat Zika

Sumber: http://6abc.com/health/who-declares-zika-virus-an-international-emergency/1182104/

Meskipun demikian, virus ini tidaklah mematikan dan banyak penderita sembuh tanpa perawatan dalam waktu 1 minggu.

Tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit ini. Kita dapat mencegah virus ini tersebar dengan memberikan lotion anti nyamuk kepada para pekerja. Kita juga dapat melakukan penyemprotan di tempat-tempat nyamuk biasa berkembang biak. Kunjungan ke tempat-tempat virus zika mewabah juga sebaiknya dihindari khususnya untuk para perempuan hamil.

1182996_630x354Gambar 3. Persebaran Virus Zika

Sumber: http://6abc.com/health/who-declares-zika-virus-an-international-emergency/1182104/

Jika sudah terkena virus, istirahat yang banyak dan sering minum air putih sangat dianjurkan untuk mempercepat penyembuhan. Pemberian obat seperti acetaminophen (Tylenol®) juga dianjurkan untuk membantu penyembuhan penyakit.

Referensi

Center for Disease Control and Prevention. (16, Feb 3). Zika Virus. Retrieved Feb 7, 16, from CDC: http://www.cdc.gov/zika/symptoms/

International SOS. (2016, feb 3). Virus Zika. Retrieved feb 7, 2016, from International SOS: https://www.internationalsos.com/topics/zika-virus

 

6 Tips Untuk Mengendalikan Keracunan di Tempat Kerja

Setiap tempat kerja pasti membutuhkan makanan untuk para pekerjanya. Jika tidak dikendalikan secara benar, makanan yang dimakan oleh pekerja dapat menimbulkan resiko keracunan. Dalam beberapa kasus keracunan, korban yang muncul tidak hanya dari 1 orang saja namun dapat saja bertambah dari pekerja lain yang memakan makanan yang sama.

Resiko keracunan juga harus diperhatikan oleh para profesional K3 mengingat ini juga dapat menimbulkan korban yang tidak sedikit seperti halnya kasus kebakaran. Pemerintah pun dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan telah memberikan panduan untuk menangani kasus keracunan utamanya jika terjadi di lingkungan masyarakat. Peraturan tersebut bahkan menetapkan jika kasus lebih dari 2 orang maka masuk Kejadian Luar Biasa.

urlGambar. Ilustrasi Keracunan

Sumber: http://o.canada.com/health-2/this-week-in-health-food-poisoning-young-e-cig-smokers-and-more

“Kejadian luar biasa keracunan pangan yang selanjutnya disebut KLB Keracunan Pangan adalah suatu kejadian di mana terdapat 2 orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber keracunan”

Untuk meminimalisasi efek dari peristiwa keracunan, simaklah 6 tips berikut:

  • Evakuasi korban

Berbagai macam gejala dari ringan hingga berat dapat terjadi pada korban keracunan. Mereka bisa saja hanya mual, pusing, muntah hingga pingsan tidak sadarkan diri. Membawa korban ke tempat aman adalah langkah penting untuk menjamin korban mendapatkan pertolongan tepat waktu.

  • Penerapan triage

Dalam keracunan, terkadang terdapat korban efek plasebo yang sebenarnya ia tidaklah mendapatkan efek keracunan namun ia sudah tersugesti serta merasa takut menjadi korban karena merasa makanan yang dimakan sama dan gejala-gejala keracunan yang dirasakan semakin nyata.

Triage adalah penandaan yang dilakukan di pakaian/tempat evakuasi korban. Penerapan triage ini sangat penting untuk mengklasifikasikan jenis pertolongan yang akan diberikan kepada para korban. Triage yang bisa diterapkan antara lain:

  • Triage hijau: korban mengalami luka minor, kondisi kesehatan tidak tampak akan memburuk di hari kemudian, dapat merawat lukanya sendiri
  • Triage kuning: Termasuk luka yang serius dan terdapat potensi ancaman nyawa, namun status tidak Nampak akan memburuk dalam hitungan jam. Dalam kondisi ini, pertolongan lebih lanjut dapat ditunda
  • Triage merah: Kondisi kesehatan buruk sehingga membutuhkan perhatian medis dalam jangka waktu bertahan hingga 60 menit. Korban membutuhkan pertolongan langsung dan dapat dirujuk ke pertolongan lanjut
  • Triage hitam: Korban kelihatan tidak dapat bertahan dengan mempertimbangkan tingkat luka, ketersediaan layanan atau keduanya. Peringan sakit harus disediakan.

Penetapan triage tersebut dapat dilakukan berdasarkan pengamatan visual, anamnesis atau jawaban dari pertanyaan yang diberikan kepada korban dan rekomendasi dari petugas medis.

flowchartGambar: Flowchart START Triage

  • Pemberian pertolongan

Dalam kasus keracunan, kadang yang merasa dirinya menjadi korban keracunan jauh lebih banyak ketimbang korban yang sebenarnya. Oleh karena itu pemberian pertolongan yang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan triage mutlak untuk dilakukan.

Pertolongan yang diberikan dapat bermacam-macam. Mulai dari pertolongan ringan seperti pemberian oralit hingga pemberian pertolongan lebih lanjut di rumah sakit.

  • Pengambilan sampel makanan

Sampel makanan sangat penting perannya untuk investigasi kasus keracunan yang ada. Sampel makanan bisa dikirim ke laboratorium untuk diinvestigasi kandungan senyawa atau bakteri berbahaya bagi tubuh.

  • Penentuan keracunan

Jika hasil uji makanan dari tempat kerja laboratorium positif menyatakan makanan tempat kerja tercemar. Maka, kita harus menghitungnya sebagai salah satu incident dan wajib untuk melakukan tindakan perbaikan.

Namun, jika terbukti makanan tempat kerja bebas dari zat racun, maka perlu untuk dibuatkan pernyataan resmi dari tempat kerja bahwa makanan yang dimakan telah aman. Para pekerja pun dapat dibriefing agar hanya makan makanan dari tempat kerja saja.

  • Pelaporan keracunan

Kasus keracunan yang sudah selesai diinvestigasi dapat dilaporkan ke instansi terkait sesuai dengan petunjuk di Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan. Kasus keracunan juga dapat dilaporkan kepada Jamsostek jika memang terbukti terjadi dalam hubungan pekerjaan.

Perusahaan dapat mengembangkan prosedur tersendiri untuk menghadapi resiko keracunan masal. Prosedur tersebut akan lebih sempurna jika diuji dalam suatu drill tentang keracunan. Bagaimanakan penanganan resiko keracunan di tempat Anda?

 Referensi

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013). JDIH POM. Retrieved Agustus 17 , 2015, from Pengawas Obat dan Makanan: jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=781

Critical Illness and Trauma Foundation, Inc. (2001). START Flowchart. Retrieved from Simple Triage and Rapid Treatment: http://citmt.org/Start/flowchart.htm

Manajemen Risiko Stres Kerja

Pengertian Manajemen Risiko Terdapat berbagai macam pengertian menurut beberapa pakar. Menurut Smith, 1990 manajemen risiko didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah resiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut. Menurut Clough and Sears, 1994, manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian. menurut William, et.al.,1995,p.27 manajemen risiko juga merupakan suatu aplikasi dari…

"Manajemen Risiko Stres Kerja"

Studi Kasus Keracunan Debu Titanium Dioksida Pada Karyawan Pabrik M&M’s Australia

Kronologis Kejadian Peter Quick, seorang karyawan yang bekerja di pabrik M&M’s, Ballarat, Australia terkena gangguan pernapasan yang sangat parah akibat keracunan/terpapar debu titanium dioksida. Titanium dioksida sendiri digunakan oleh pabrik tersebut untuk mencerahkan warna makanan yang mereka produksi. Debu dari titanium dioksida yang ditambahkan ke lapisan akhir M & M’s ini menyebabkan keluhan pernafasan yang sangat parah pada korban. Menurut pengacara korban, akibat insiden ini korban tidak akan pernah dapat bekerja lagi. Seorang juru bicara…

"Studi Kasus Keracunan Debu Titanium Dioksida Pada Karyawan Pabrik M&M’s Australia"