Artikel Tamu K3Aspek Teknis

Penerapan K3 Di Penyelenggaraan Event

Belajar Penerapan K3 dari Event Terinspirasi Reuni Silver SMUN 26 2000

“Hah Serius Pak Luki ? Buat event juga ada sisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) nya ?”

Hahaha, iya..

Sejujurnya, saya baru terinspirasi membuat tulisan ini karena baru saja mengikuti acara reuni silver SMUN 26 2000 beberapa waktu lalu. Selain itu, salah satu kawan saya, Amy yang bekerja di event organizer terkenal baru-baru ini menanyakan adakah sertifikasi K3 untuk penyelenggaraan event.

Memang bidang penyelenggaraan event ini bukan bidang expert penulis. Namun, pemahaman tentang K3 di standar kompetensi kerja adalah salah satu yang penulis tekuni beberapa tahun terakhir ini. Semoga bisa menjadi sebuah artikel awal/rintisan untuk memantik artikel, penelitian, skripsi atau disertasi yang lebih baik di masa depan.

Mari mulai kita bahas ya

Reuni Silver SMUN 26 2000

Sebuah reuni sekolah selalu punya makna tersendiri. Di sanalah, tawa lama kembali terdengar, wajah-wajah sahabat lama kembali berjumpa, dan kenangan masa remaja seolah hidup kembali.

Mantan?.. Ya.. adalah..hehehehe…

Begitu pula yang terjadi dalam Reuni Silver SMUN 26 Jakarta angkatan 2000 beberapa waktu lalu. Acara yang bertema “Jauh Dekat 2000” ini dihadiri oleh ratusan alumni dan berlangsung penuh kehangatan.

Sorotan utama tentu saja saat Iwa K, sang rapper legendaris naik ke panggung dan membangkitkan semangat nostalgia dengan lagu-lagunya yang ikonik. Buat generasi 90an, Iwa K yang terkenal melalui lagu-lagu hitsnya seperti “Nombok Dong”, “KramOtak !!”, “Malam Ini Indah” dan “Bebas,” sukses bikin kami kembali ke masa remaja kami

Seperti sebuah Mini Concert, setting panggung yang dekat, akrab membuat saya dan kawan-kawan saya ikut bernyanyi dan bergoyang seperti berusia remaja, 25 tahun yang lalu.

Namun, di balik keceriaan dan keseruan acara tersebut, ada hal penting yang tidak kalah menarik untuk dibahas, yaitu bagaimana sistem keselamatan, keamanan, dan kesehatan kerja (K3) diterapkan dalam sebuah kegiatan besar seperti reuni sekolah.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa K3 hanya berlaku di migas, pertambangan, pabrik atau proyek konstruksi. Padahal dalam dunia event organizer, K3 justru menjadi pondasi utama agar kegiatan berjalan aman, tertib, dan nyaman bagi semua pihak.

SKKNI K3 Di Event

Dalam konteks Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Kegiatan Acara (Event), ada dua unit kompetensi yang sangat relevan untuk dipelajari dari pelaksanaan reuni silver SMUN 26 2000 ini, yaitu:

  • N.82EVN02.050.1 Membangun Sistem Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Pelaksanaan Kegiatan Acara (Event)
  • N.82EVN02.051.1 Mengelola Sistem Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Pelaksanaan Kegiatan Acara (Event)

Kedua unit kompetensi ini tidak hanya berbicara soal teori, tapi juga tentang tanggung jawab dan kesadaran kolektif dalam menciptakan acara yang aman dan berkesan,lho Safetyzen..

Penulis pernah membuat tulisan tentang Penerapan K3 di Industri Entertainment sebelumnya, namun ini lebih advanced lagi..

Ada 3 langkah penerapannya,

Langkah Pertama: Membangun Sistem K3 Sebelum Acara Dimulai

Dalam setiap kegiatan besar, tahap paling penting justru bukan di hari pelaksanaan, melainkan di masa perencanaan. Inilah penerapan dari unit kompetensi N.82EVN02.050.1.Membangun sistem K3 berarti menyusun kerangka kerja agar setiap risiko bisa diantisipasi sebelum terjadi.

Yaaaa…mirip mirip kita membuat Job Safety Analysis atau melengkapi HIRADC sebelum bekerja lah.

Panitia event perlu memulai dengan identifikasi potensi bahaya. Contohnya, area panggung yang menggunakan instalasi listrik bertegangan tinggi, kondisi kabel yang bisa menyebabkan tersandung, atau risiko penumpukan massa di depan panggung saat penampilan performer seperti Iwa K berlangsung.

Menurut saya, akan lebih baik jika panitia sudah bisa melakukan kunjungan lokasi beberapa hari sebelum acara. Di industri lain, seperti melakukan site visit sebelum pekerjaan.

Dari hasil identifikasi itu, panitia bisa membuat rencana pengendalian risiko, seperti menyediakan jalur evakuasi yang jelas, menempatkan alat pemadam api ringan (APAR), menyiapkan tim medis siaga lengkap dengan perlengkapan P3K atau bahkan menggunakan mobil penyemprot air seperti yang lazim di konser-konser.

Langkah berikutnya adalah memastikan semua panitia memahami prosedur keselamatan. Sebuah briefing dengan rundown/flightplan lengkap atau pelatihan singkat bisa dilakukan sebelum acara. Dengan begitu, semua orang tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi keadaan darurat, seperti mati listrik, hujan mendadak, korsleting yang menyebabkan kebakaran di panggung atau kondisi peserta yang pingsan karena kelelahan.

Selain keselamatan, aspek kesehatan juga menjadi bagian penting. Panitia bisa menyediakan air minum yang cukup, menjaga kebersihan makanan yang disajikan, dan memastikan ventilasi di ruangan tertutup tetap baik. Semua hal sederhana ini merupakan bentuk nyata penerapan prinsip K3 yang seringkali diabaikan dalam acara non-formal.

Langkah Kedua: Mengelola Sistem K3 Saat Acara Berlangsung

Setelah sistem K3 dibangun, tugas berikutnya adalah mengelola dan memantau pelaksanaannya, sebagaimana dijelaskan dalam unit N.82EVN02.051.1.

Pada tahap ini, panitia perlu memastikan bahwa semua rencana yang sudah dibuat benar-benar dijalankan di lapangan. Komunikasi update akan lebih baik jika dilakukan berkala.

Dalam konteks reuni kemarin, saya melihat sendiri panitia yang selalu berkomunikasi melalui radio clip on yang ear piecenya disangkutkan langsung ke telinga. Persis seperti di film-film yang menggunakan personal security/bodyguard.

Contohnya, saat acara dimulai dan pengunjung mulai memadati area, tim keamanan harus aktif melakukan crowd control untuk mencegah penumpukan berlebihan di satu titik. Sementara itu, tim kesehatan harus terus memantau kondisi peserta, terutama yang lanjut usia atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Koordinasi antar tim juga menjadi kunci. Petugas keamanan, tim logistik, dan tim medis harus saling berkomunikasi melalui jalur komunikasi yang disepakati. Misalnya, jika ada area licin akibat tumpahan minuman, informasi itu segera disampaikan ke tim kebersihan agar ditangani cepat.

Hal-hal kecil seperti ini sering kali menentukan apakah sebuah acara bisa tetap berjalan lancar atau justru terganggu karena kurangnya komunikasi.

Selain itu, panitia juga perlu menyiapkan rencana cadangan (contingency plan). Misalnya, bagaimana jika terjadi gangguan listrik, hujan deras, atau situasi darurat lainnya. Semua harus dipertimbangkan agar keputusan bisa diambil dengan cepat tanpa menimbulkan kepanikan.

Langkah Ketiga: Evaluasi dan Pembelajaran Setelah Acara

Ini kemarin dilakukan juga oleh panitia. Namun, karena Penulis harus berangkat mengajar keluar kota esok paginya, maka penulis izin absen.

Penerapan K3 tidak berhenti ketika acara selesai. Justru setelah semua kegiatan usai, panitia perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Apa saja yang berjalan baik? Apa yang perlu diperbaiki untuk acara berikutnya?

Dalam konteks event, evaluasi bisa mencakup banyak hal, seperti efektivitas sistem keamanan, kesiapan tim medis, atau kemudahan akses evakuasi.

Dari evaluasi ini, panitia akan memiliki catatan penting yang bisa menjadi acuan bagi kegiatan serupa di masa mendatang.

Inilah yang disebut dengan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement), bagian penting dari budaya K3.

Melalui proses seperti ini, acara reuni atau event apapun tidak hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga memberikan pembelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan tanggung jawab bersama.

Menjadikan K3 Sebagai Budaya dalam Setiap Acara

penerapan k3 di event- reuni silver smun 26 2000-iwa k-luki tantra
Penampilan Iwa K di reuni silver smun 26 2000 (dok pribadi)

Kehadiran Iwa K di reuni silver SMUN 26 2000 membawa pesan tersirat kuat: kebersamaan bisa tetap berjalan dengan profesionalisme. Begitu juga dengan penerapan K3, ia bukan penghambat keseruan, tapi justru pelindung agar keseruan itu tetap aman.

Membangun dan mengelola sistem keselamatan, keamanan, dan kesehatan dalam acara seperti ini tidak membutuhkan alat canggih atau biaya besar. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran dan komitmen bersama.

Ketika panitia, peserta, dan vendor semua memiliki semangat yang sama untuk menjaga keselamatan, maka acara apa pun.. dari yang sederhana sampai yang megah bisa berlangsung lancar dan penuh makna.

Bahkan saya sempat berfoto berdua dengan Iwa K, lho hehehehehe

Akhirnya, reuni bukan hanya tentang nostalgia, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar menjadi lebih peduli, lebih tanggap, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Karena sebuah acara yang sukses bukan hanya yang ramai dan meriah, tetapi juga yang selamat, sehat, dan meninggalkan kenangan indah tanpa insiden.

Salam,

Luki Tantra,

Senior Advisor, PT. Tenaga Kerja Kompeten Indonesia.

Pengamat dan Trainer bidang K3, Master Trainer Tersertifikasi BNSP, Asesor Kompetensi BNSP, dan pernah menjabat menjadi Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Bidang K3.

Source Liputan Media

Baca Tulisan

Luki Tantra

Pengamat K3, Instruktur bidang K3 dan softskill / Training for trainer Master Trainer Tersertifikasi BNSP, Asesor Kompetensi BNSP, dan pernah menjabat menjadi Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Bidang K3

Leave a Reply

Back to top button