Aspek OrganisasiAspek Personal

Slogan Keselamatan bukan Pengganti Pelatihan

Slogan keselamatan yang baik berfungsi ketika pesan itu menarik dan dilihat atau didengar berulang kali, membuat melekat dalam pikiran setiap pekerja.

Beberapa waktu lalu, penulis baru saja berdiskusi dengan seseorang sebut saja Mr. X. Di tengah-tengah diskusi, Mr. X membuat pernyataan yang cukup menggelitik “untuk apa slogan safety, toh di perusahaan tidak merepresentasikan dari apa yang dinyatakan di dalam slogan tersebut”.

Katanya “safety first“, bekerja di ketinggian saja kita tidak diberi pelatihan yang memadai. Apakah slogan hanya sekedar omong kosong belaka? Tentu saja pernyataan tersebut sebagai bentuk kekecewaan Mr. X terhadap aspek K3 di perusahaan yang belum berjalan dengan baik.

slogan keselamatan
Pekerja bekerja di ketinggian

Berbicara tentang slogan, sebenarnya merupakan salah satu tools untuk menumbuhkan awareness terhadap nilai-nilai K3 yang dianut oleh sebuah perusahaan.

Salah satu contoh slogan yang digunakan oleh beberapa perusahaan adalah “Utamakan keselamatan dan Ibadah”. Dengan slogan ini, kita diharapkan dapat menegaskan, mendorong dan mengingatkan seluruh pekerja (tidak hanya di level bawah namun juga top manajemen) untuk mengutamakan keselamatan dalam bekerja serta tetap mengingat sang pencipta untuk selalu memohon perlindungan serta bersyukur atas apa yang telah dicapai.

Sayangnya, terkadang pesan di dalam slogan yang ada, tidak ditindaklanjuti dalam bentuk implementasi nyata di lapangan. Akibatnya, manajemen seringkali mendapatkan rasa aman yang salah. Dimana, tindakan nyata keselamatan menjadi berkurang. Slogan cenderung menggantikan pelatihan substantif. Sehingga, slogan mengarah pada persepsi pekerja bahwa keselamatan sudah dijaga.

Oleh karena itu, kurang tepat jika mengatakan bahwa slogan-slogan keselamatan hanya omong kosong belaka (tidak berguna). Namun, kita memerluka effort untuk mencapai nilai-nilai tersebut. Jika dianalogikan, seperti bumbu-bumbu dalam makanan. (Jadi ingat kampong hehe, di Sulawesi Tenggara, Makan Singkong goreng/rebus tanpa disertai sambal (bumbu) berasa hambar). Pokoknya ueeenakkk wkwkwk.

Begitupun dengan implementasi K3 di tempat kerja, seyogyanya sebelum Mr. X bekerja di ketinggian, maka terlebih dahalu Mr. X perlu mendapat training (singkong) dan dinyatakan paham berdasarkan hasil post test, selain itu juga perlu slogan-slogan (bumbu), harapannya agar Mr. X tetap mengingat akan nilai-nilai keselamatan dan mengimplementasikan dalam setiap aktivitasnya. Bumbu ini dikenal juga sebagai anchor dalam dunia NLP.

Artinya apa? Pelatihan yang memadai dan slogan merupakan satu kesatuan yang utuh yang seyogyanya saling melengkapi. Persis seperti singkong dan sambal, agar terasa nikmatnya.

Helm untuk perlindungan pekerja

Sebagai penutup, slogan keselamatan yang baik, berfungsi ketika pesan itu menarik dan dilihat atau didengar berulang kali, membuat melekat dalam pikiran setiap pekerja. Bagaimana membuat slogan yang baik? Nantikan postingan selanjutnya!

Tampilan Penuh

Andi Balladho

Master Candidate of Occupational Safety Health and Environmental Management USAHID Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close