Lowongan PNS Penguji K3 Ahli Kemenaker 2017

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2017 tanggal 31 Agustus 2017 tentang Kebutuhan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan Tahun Anggaran 2017, maka Kementerian Ketenagakerjaan memberikan kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan ditugaskan di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan.

Gambar Upacara Bulan K3 Disnaker Riau

Credit: https://www.riau.go.id/home/skpd/2017/04/19/2552-mari-kita-sukseskan-bersama-bulan-kesehatan-keselamatan-kerja-k3-provinsi-riautahun

Kemenaker pada kesempatan kali ini membuka beberapa lowongan formasi. Salah satunya adalah lowongan untuk 14 Penguji K3 Ahli yang memiliki kualifikasi pendidikan dari Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan, K3, Hiperkes, Teknik Kimia, Teknik Industri dan Teknik Lingkungan. Khusus untuk lulusan cumlaude, dibuka 2 posisi.

Detail informasi, persyaratan pelamar, tata cara pendaftaran, tahapan seleksi, sistem kelulusan dan lain-lain dapat dibaca dalam pengumuman resmi dari Kemenaker dalam tautan ini Pengumuman CPNS Kemenaker 2017.

ETTO: Antara Tindakan Cepat dan Tindakan Teliti

Pada dini hari di 27 Desember 1991, sebuah penerbangan dari maskapai SAS dimulai dengan rute Stockholm-Kopenhagen-Warsawa. Setelah 25 detik penerbangan, kru pesawat menyadari adanya suara dan getaran yang tidak wajar. 39 detik kemudian, masalah yang sama terjadi di mesin yang lain dengan ketinggian pesawat sudah mencapai 3000 kaki. Kedua mesin yang mati ini membuat pesawat kehilangan tenaga untuk mengudara sehingga memaksa pilot melakukan pendaratan darurat. Pesawat menabrak beberapa pohon, sayap kanan pesawat patah, dan terbelah…

"ETTO: Antara Tindakan Cepat dan Tindakan Teliti"

4 Cara untuk Mendapatkan Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja Tanpa Batas

Perkembangan ilmu keselamatan kerja di Indonesia dan tantangan yang harus dihadapi terkadang tidak seimbang. Banyak sekali permasalahan yang dialami oleh profesional K3 yang tidak terselesaikan karena kurangnya informasi dan ilmu untuk menghasilkan solusi atas permasalahan yang ada. Untuk itu, kita memerlukan akses informasi keselamatan dan kesehatan kerja tanpa batas. Beberapa cara yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Sci hub

Jurnal ilmiah merupakan sumber utama dari ilmu keselamatan dan kesehatan kerja. Beberapa jurnal terkenal yang memiliki pembahasan tentang K3 antara lain adalah “Safety Science” yang membahas keselamatan kerja, “Loss Accident and Prevention” yang membahas tentang kecelakaan dan investigasinya serta “Regulatory Toxicology and Pharmacology” yang membahas mengenai zat-zat beracun. Jurnal-jurnal tersebut memberikan ide-ide baru mengenai bidangnya masing-masing berdasarkan riset-riset terbaru, valid dan reliabel yang para peneliti lakukan.

Jurnal-jurnal tersebut dapat diakses dan dicari melalui beberapa pangkalan data seperti http://www.sciencedirect.com/, https://www.scopus.com/  dan https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/. Namun, beberapa jurnal yang ada harus diunduh dengan harga yang sangat mahal dengan kisaran harga $20 hingga $50 per judul jurnal. Sayangnya, sebagian besar nilai bayaran ini dipakai oleh lembaga publikasi dan bukan oleh penelitinya. Hal ini membuat 60 lembaga riset besar di Jerman memboikot Elsevier, salah satu penerbit jurnal, mulai dari 1 januari 2017. Elsevier memiliki margin profit 40% dari jurnal yang dipublikasikan dan Elsevier masih minta untuk menaikkan harga (sumber: https://www.sub.uni-goettingen.de/en/news/details/voraussichtlich-keine-volltexte-von-zeitschriften-des-elsevier-verlags-ab-dem-112017/ ).

Beberapa universitas di Indonesia ada yang memberikan akses gratis kepada para mahasiswanya untuk mengakses jurnal-jurnal internasional.  Namun, bagaimana untuk mereka yang tidak memiliki cukup dana untuk membayar jurnal? Bagaimana pula untuk mereka yang bukan mahasiswa di Universitas namun ingin membaca jurnal?

Sebuah website dari Rusia menawarkan cara untuk “membajak” jurnal-jurnal tersebut. Adalah scihub yang bisa diakses di http://sci-hub.cc/ memberikan akses gratis untuk semua jurnal dan hasil riset. Cukup meng-copy paste “doi number” yang ada di setiap pangkalan data atau abstrak jurnal ke kolom pencari sci hub. Dia akan mencarikan jurnalnya untuk Anda dan Anda bisa mengunduhnya secara gratis.

  1. Badan Kesehatan dan Keselamatan Kerja internasional:

Kita tidak bisa menutup mata bahwa perkembangan badan K3 di Indonesia sangat tertinggal jika dibandingkan dengan badan K3 dari negara maju. Badan-badan ini  menghasilkan banyak pendoman dan standard yang bisa diaplikasikan di tempat kerja kita. Beberapa badan yang menjadi referensi dalam K3 antara lain adalah  OSHA  dan HSE UK untuk sistem manajemen K3 https://www.osha.gov/ dan http://www.hse.gov.uk/ ; NFPA untuk keselamatan dalam kebakaran http://www.nfpa.org/ serta OGP untuk keselamatan dalam bidang minyak dan gas http://www.iogp.org/ .

Karena kebanyakan badan internasional ada di luar negeri, maka tak semua standar bisa diadaptasi untuk karakter pekerjaan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakter resiko, kondisi sosial dan kondisi ekonomi yang ada antara luar negeri dengan Indonesia.

  1. Forum diskusi

Sudah banyak profesional K3 di Indonesia dari yang baru lulus kuliah atau pelatihan hingga sudah melanglang buana. Hal ini tentunya merupakan suatu aset buat dunia K3 di Indonesia jika mampu mengoptimalkan pertukaran keilmuan di antara profesional K3. Oleh karenanya, beberapa forum komunikasi antar profesional K3 bermunculan dari mailing list, facebook, hingga whatsapp.

Salah satu forum komunikasi profesional K3 terbesar di Indonesia adalah HSE Indonesia. Forum yang sudah berulang tahun kedua ini memiliki banyak cabang se Indonesia yang tersebar dari Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. HSE Indonesia memiliki banyak acara baik itu kopi darat, diskusi rutin, pertanyaan operasional harian seorang K3, hingga lowongan kerja bisa ditanyakan di forum ini. Di facebook, HSE Indonesia telah memiliki lebih dari 23 ribu anggota.

Untuk mengetahui lebih lanjut HSE Indonesia, silakan ikuti tautan berikut:

https://www.facebook.com/groups/211186402274846/

  1. Fotokopi sekitar kampus

Dalam proses belajar, seringkali mahasiswa harus menggandakan sumber referensi yang bisa berupa materi dari dosen, jurnal dan buku. Untuk alasan ini, beberapa tempat fotokopi di sekitar kampus menyimpan referensi yang kaya akan ilmu pengetahuan.

Anda yang ingin mencari ilmu K3 maka jangan segan-segan untuk mencarinya di fotokopi sekitar kampus terutama kampus yang memiliki jurusan K3. Sebagai contoh saja, sebuah tempat fotokopi di Depok memiliki ribuan referensi tentang K3 yang akan sulit ditemukan di tempat lain.

4 perspektif dalam kesalahan manusia (human error)

Banyak orang di Indonesia yang merasa ahli dalam investigasi kecelakaan tanpa punya pengetahuan dasar tentang kecelakaan. Contohnya, media massa sering memberikan kesimpulan tentang penyebab sebuah kecelakaan  dengan cepat tanpa mendalami kecelakaan tersebut. Penyebab yang paling sering disebut adalah kesalahan manusia (human error).

Gambar 1. Ilustrasi Human Error

Sumber: https://www.linkedin.com/pulse/20140414212456-12181762-human-error-no-bad-design

Human error  sudah lama menjadi pembahasan dalam dunia keselamatan kerja (occupational safety) dan di dunia keselamatan proses (process safety). CCPS pada tahun 1994 telah membagi human error menjadi 4 perspektif yaitu:

  • Perspektif Pendekatan tradisional

Perspektif pertama dalam human error adalah pendekatan tradisional. Pendekatan ini memberikan penekanan pada faktor individu yang sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kecelakaan. Dalam pendekatan ini, solusi yang diberikan adalah memperketat seleksi dan bisa dengan berbagai cara untuk memodifikasi perilaku seperti dengan media kampanye, hukuman atau penghargaan.

Pendekatan tradisional banyak diterapkan di area keselamatan kerja (occupational safety) yang fokus kepada bahaya-bahaya kepada individu. Pendekatan ini tidak banyak digunakan dalam area keselamatan proses karena keselamatan proses berfokus kepada kegagalan sistem mayor (major system failures) yang dapat menyebabkan kerugian besar pada pabrik, dampak luas kepada lingkungan dan juga cidera individu.

  • Perspektif Faktor manusia/ Ergonomik

Perspektif kedua dalam memahami human error adalah  faktor manusia (human factors) atau sering disebut juga sebagai pendekatan ergonomik (HFE/E). Pendekatan ini berusaha menjelaskan ketidaksesuaian antara kemampuan manusia (human capabilities) dan permintaan sistem (system demands) sebagai sumber utama dalam human error. Pekerjaan utama dalam prinsip faktor manusia ini adalah untuk memastikan bahwa desain dalam suatu sistem telah memperhitungkan karakter fisik dan mental dari manusia. Faktor-faktor yang termasuk dalam perhatian adalah:

  • Tempat kerja dan desain pekerjaan untuk mengakomodasi kebutuhan pekerja dengan berbagai macam karakter fisik dan mental
  • Desain dari tatapmuka manusia dengan mesin (Human Machine Interface) seperti panel kontrol atau komputer kendali yang dapat dimengerti dan digunakan dengan mudah
  • Desain lingkungan fisik (panas, bising, cahaya) untuk mengurangi bahaya-bahaya yang terkait dengan lingkungan
  • Optimalisasi beban mental dan fisik dari pekerja

Faktor yang ditekankan dalam prinsip ini adalah “menyesuaikan pekerjaan ke orang” (fitting the job to the person). Ini kontras dengan prinsip “menyesuaikan orang ke pekerjaan” (fitting the person to job) yang hanya berfokus pada pelatihan, seleksi dan pendekatan modifikasi perilaku. Perspektif faktor manusia ini telah banyak diterapkan di militer, penerbangan dan pembangkit listrik.

  • Perspektif Sistem Kognitif

Perspektif ketiga untuk memahami human error adalah Sistem Kognitif. Pendekatan ini banyak digunakan dalam operasi industri proses kimia (chemical process industry). Pendekatan ini sangat berguna untuk melakukan analisa terhadap tingkat fungsi manusia, penyelesaian masalah, pengambilan keputusan dan diagnosis. Pendekatan ini juga menyediakan penjelasan dari penyebab dasar dari human error.

Pendekatan ini dikembangkan dari perubahan umum yang dipelajari dalam psikologi terapan antara tahun 1970-1980. Perubahan yang terjadi adalah perubahan dari manusia yang dipandang sebagai gelas kosong yang bisa direkayasa untuk mencapai tujuan tertentu menjadi pandangan bahwa manusia memiliki perilaku yang dipengaruhi oleh tujuan masa depannya.

Perspektif kognitif ini dapat diterapkan dalam perencanaan dan mengatasi situasi abnormal. Metode yang digunakan termasuk task analysis yang  memiliki fokus dalam mengatasi kegagalan memproses informasi dan menggunakan sistem pendukung untuk mengatasi situasi abnormal.

Penggunaan perspektif kognitif ini banyak digunakan dalam dunia proses kimia. Pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan paling komprehensif dalam mengevaluasi penyebab utama dari human error.

Konsep memahami human error yang sering dipakai dalam perspektif kognitif adalah skill based, rule based dan knowledge based. Pada skill based, terjadi misalnya dalam kasus operator yang gagal menutup katup (valve) karena tertukan dengan katup (valve) yang lain. Pada rule based, terjadi misalnya dalam kasus operator salah menutup valve karena membaca indikator tekanan (pressure gauge) yang menunjukkan indikator yang salah. Sedangkan pada knowledge based, terjadi misalnya dalam kasus operator gagal untuk menganalisa sebuah permasalahan karena waktu yang sempit.

Gambar 2. Skill, Rule dan Knowledge Based

  • Perspektif Sosiotekhnikal

Perspektif keempat dalam memahami human error adalah perspektif sosiotekhnikal. Perspektif in muncull dari kesadaran bahwa performa manusia tidak bisa dilepaskan dari budaya, faktor sosial dan kebijakan manajemen yang ada dalam organisasi.

Sebagai contoh, ketersedian dari prosedur operasi yang dianggap sebagai rujukan utama dalam operasional produksi dan mencegah kecelakaan serta bencana besar. Keberadaan prosedur membutuhkan desain kebijkan prosedur yang diimplemantasikan oleh manajemen pabrik. Prosedur yang baik akan mencakup: partisipasi dari pengguna , desain prosedur yang sesuai dengan berbagai macam pekerjaan operasional. Semua ini membutuhkan komitmen kuat dari manajemen.

Namun, keberadaan prosedur yang baik belum tentu akan digunakan oleh operator. Jika di tempat kerja terdapat budaya yang memaksa pekerja untuk mengambil jalan pintas (shortcuts) untuk mencapai target dengan melanggar prosedur yang ada maka ini akan membuat ancaman bagi keselamatan kerja yang ada di tempat kerja.

Perspektif sosiotekhnikal ini menggunakan prinsip top-down (dari manajemen ke pekerja), dengan memperhatikan seluruh program dari manajemen untuk membangun budaya keselamatan kerja dan mengurangi error yang bisa memunculkan konsekuensi yang signifikan. Perspektif sosiotekhnikal akan juga mempengaruhi peningkatan dalam keselamatan kerja, mutu dan produktifitas.

sociotekhnikal-model-audit-tool

Gambar 3. Sosiotekhnikal Kriteria Audit

Referensi

American Institute of Chemical Engineers, 1994. Guidelines for Preventing Human Error in Process Safety. 1 ed. New York: Center for Chemical Process Safety.

 

Memprediksi dan Membentuk Perilaku dengan ABC Model

Di suatu proyek, seperti biasa, seorang petugas keselamatan kerja sedang melakukan patrol. Dia menemukan seseorang yang tidak menggunakan helm di lokasi proyek dan kebetulan di atasnya sedang ada pekerjaan. Dia akhirnya meminta orang itu untuk menggunakan helm dan kemudian orang itu langsung menggunakan helm yang telah disediakan. Namun, hal itu ternyata tak bertahan lama, setelah petugas keselamatan kerja 5 menit berlalu, orang itu pun kembali melepas helmnya.

Masalah di atas adalah masalah klasik yang sering dialami oleh petugas Keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Bagaimana kita selalu mengingatkan seseorang untuk berlaku aman namun ternyata belum bisa membuat orang tersebut berlaku lebih aman.

Gambar 1. Ilustrasi Perilaku Aman

Sumber: https://www.eng.ed.ac.uk/research/projects/behaviour-attitutde-and-perception-safety-risk-nationally-and-culturally-diverse

Adalah Aubrey Daniels, seorang psikolog klinik, yang menggunakan pendekatan ABC model untuk merubah perilaku. ABC model terdiri dari 3 elemen, yaitu:

  • Antecedent (Penyebab)

Antecedent adalah kumpulan dari beberapa alasan dari berbagai macam sumber yang mendukung terbentuknya sebuah perilaku. Antecedent ini termasuk:

  • Memberitahu kita tentang bagaimana mendapatkan konsekuensi
  • Dapat secara nyata ataupun abstrak
  • Sekuat dengan konsekuensi yang mendukung mereka
  • Behavior (Perilaku)

Perilaku, menurut E. Scott Geller, adalah sebuah tindakan dari individual yang dapat diamati oleh orang lain. Dengan kata lain, perilaku adalah apa yang lakukan atau katakan bukan apa yang individu pikir, rasakan atau percayai.

  • Consequences (Konsekuensi)

Konsekuensi, menurut Aubrey Daniels, adalah apa yang didapatkan oleh individu sebagai akibat dari perilaku dia sebelumnya. Beberapa jenis konsekuensi adalah:

Positive atau negative. Apakah konsekuensi perilaku menolong atau justru berakibat buruk dari sudut pandang pelaku?

Immediate (langsung) atau future (nanti). Kapan konsekuensi akan terjadi?

Certain (nanti) atau uncertain (tidak pasti). Berapa kemungkinan pelaku akan mendapatkan konsekuensi?

Penerapan ABC model ini dapat dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 1. ABC Analysis Pemakaian Helm di Proyek

Pada Tabel 1 di atas, perilaku tidak menggunakan helm di proyek dibedah. Pada kolom antecedent dilihat apa saja faktor yang mendukung seseorang tidak menggunakan helm. Pada kolom behavior ditulislah perilaku yang sedang dianalisis yaitu perilaku tidak menggunakan helm pada pekerjaan proyek. Pada kolom konsekuensi dijelaskan tentang apa saja konsekuensi yang bisa didapatkan oleh pelaku jika tidak menggunakan helm.

Pada kolom “P/N?” dilakukan analisis apakah konsekuensi dari perbuatan yang ada bersifat positif (mendukung perilaku) atau bersifat negatif (melemahkan perilaku). Pada kolom “I/F?” dilakukan analisis apakah konsekuensi yang didapat bersifat immediate (langsung) atau future (nanti). Pada kolom “C/U?” dilakukan analisis apakah konsekuensi yang didapat bersifat certain (pasti) atau uncertain (tidak pasti).

Terakhir, pada kolom “level” disimpulkan lah tingkat perilaku yang ada. Apabila konsekuensi memiliki kriteria P-I-C (positive immediate certain) maka hasil akan sangat kuat. Sebaliknya, konsekuensi memiliki kriteria N-F-U (negative future uncertain) maka hasil akan sangat lemah.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memodifikasi perilaku adalah:

  • Mengubah dari negative menjadi positif. Kita harus melakukan analisis apa saja langkah-langkah yang bisa mendorong perilaku aman lebih banyak.
  • Mengubah dari future menjadi immediate. Kita bisa mempercepat datangnya konsekuensi yang ada, missal dengan melakukan pengawasan yang lebih ketat ataupun dengan mendidik rekan kerja untuk memberikan nasihat kepada rekan kerjanya yang bertindak tidak aman
  • Mengubah dari certain menjadi Kita bisa membuat konsekuensi datang lebih pasti, misalnya dengan memastikan semua tindakan tidak aman kita berikan teguran.

Referensi

Health and Safety Authority, 2013. Behavior Based Safety Guide. Dublin: Health and Safety Authority.

Health and Safety Executive, 2012. The ABC Analysis. s.l.:Leadership and Worker Engagement Forum.

Lodal, P., 2014. Take the FUN out from Process Safety. s.l.:AICHE.

Occupational Health and Safety Administration, 2005. Behavior Based Safety. s.l.:OSHA.

6 Jurusan K3 di Perguruan Tinggi Negeri Luar Jawa

Setelah sebelumnya membahas 14 Jurusan K3 di perguruan tinggi Pulau Jawa an 9 Jurusan K3 di Perguruan Tinggi Swasta, kini katigaku.com membahas mengenai 6 Jurusan K3 di Perguruan Tinggi Negeri Luar Jawa terutama untuk mereka yang ingin menimba ilmu K3 di luar Pulau Jawa.

  • S1 Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3L) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (UNAND), Padang, Sumatera Barat.

Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Kesehatann Lingkungan (K3L) berada di dalam Program S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Tujuan Peminatan K3 di Unand adalah Mampu melakukan identifikasi dan mengukur agen lingkungan; melakukan analisis risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat, agen lingkungan penyebab risiko kesehatan, dan faktor lainnya; mengembangkan pengelolaan lingkungan secara makro dan mikro (institusi tempat kerja) yang efektif; dan menyusun alternatif kebijakan yang berorientasi langsung kepada perbaikan dan perlindungan lingkungan dan kesehatan. Mampu melakukan identifikasi bahaya dan analisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja, mampu melakukan kajian serta penerapan higiene industri di tempat kerja.

Prodi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas mendapatkan akreditasi B oleh Ban PT dan masih berlaku hingga 12 Agustus 2016.

Gambar 1. Gedung FKM UNAND

Sumber: https://alkahfiph.wordpress.com/kontak-kami/

  • S1 Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU)

Seperti Unand, peminatan K3 USU juga berada dalam Program S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat. Mahasiswa K3 USU diharapkan Mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan lingkungan kerja, Mampu mengidentifikasi bahaya di lingkungan kerja, Mampu mengukur dan mengevaluasi faktor-faktor bahaya di lingkungan kerja, Mampu menjelaskan cara kerja yang aman dan sehat serta menetapkan pekerja sesuai dengan keahliannya, Mampu menjelaskan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Mampu menerapakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja.

Terdapat kurang lebih 14 mata kuliah K3 yang akan dibahas dalam peminatan K3 USU ini, mulai dari K3 dasar, Toksikologi, Manajemen K3 hingga Kesehatan Kerja Perkebunan mengingat wilayah Sumatera Utara memang memiliki banyak daerah perkebunan. Akreditasi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat USU adalah B dengan nomor akreditasi 342/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2015.

Gambar 2. Kelas di FKM USU

  • S1 Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3L) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya, Indralaya, Sumatera Selatan

Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Unsri berada dalam program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat yang baru dibentuk pada November 2008 lalu. Kelompok keilmuan FKM Unsri terdiri atas Kelompok Ilmu Administrasi Kebijakan Kesehatan, Kelompok Ilmu Biostatistik, Kelompok Ilmu Epidemiologi, Kelompok Ilmu Gizi Masyarakat, Kelompok Ilmu Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Kelompok Ilmu Kesehatan Lingkungan, Kelompok Ilmu Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, yang saat ini terangkum dalam 3 bagian/jurusan. Pemilihan Jurusan/Bagian mahasiswa FKM Unsri dilaksanakan pada semester VII.

Beberapa mata kuliah K3 KL yang tersedia antara lain: Dasar-Dasar Kesehatan Kerja, Hygiene Industri, Penyakit Akibat Kerja, Sistem Manajemen K3, Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan, Toksikologi Lingkungan, Epidemiologi Kesehatan Lingkungan, Pencemaran Lingkungan, Ergonomi.

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya memiliki akreditasi B dengan nomor akreditasi: 192/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/IX/2013

Gambar 3. Mahasiswa Berfoto di Depan Gedung Unsri

Sumber: http://publishiafkmunsri.blogspot.sg/2014/02/pererat-silaturrahim-bem-km-unsri.html

  • S1 Peminatan Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Peminatan Kesehatan kerja Universitas Udayana berada dalam naungan Program Studi Ilmu Kesehatan masyarakat Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Udayana. Program Studi kesmas ini telah berdiri sejak 16 April 2001 dan memiliki 8 peminatan yaitu: Epidemiologi, Gizi Kesmas, Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Kesehatan Kerja, Biostatistik dan Kependudukan, KIA Kesehatan Reproduksi, Promosi Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan.

Program studi Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana telah memiliki akreditasi B dengan Nomor Akreditasi: SK BAN-PT No. 23/BAN-PT/Ak-XV/S1/VIII/2012.

Gambar 5. Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Sumber : https://hmkufkunud.wordpress.com/fk-unud/

  • S1 Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Program Studi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan

Peminatan Keselamatan Kesehatan Kerja UNHAS berada di Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan masyarakat. Program Studi Kesmas UNHAS telah mendapatkan akreditasi A dengan surat bernomor 051/BAN-PT/Ak-XIV/S1/I/2012.

Para mahasiswa K3 UNHAS diharapkan mampu menyelesaikan 15 mata kuliah wajib dari peminatan. Beberapa mata kuliah wajib Peminatan K3 UNHAS antara lain adalah Psikologi Industri, Penyakit dan Cidera Akibat Kerja dan K3 Rumah Sakit.

Gambar 6. Edutrip K3 UNHAS

Sumber: http://ohssfkmunhas12.blogspot.sg/

  • S1 Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan

Berada di dalam Prodi Kesmas, FIK, Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja telah banyak menghasilkan lulusan. Salah satu kegiatan K3 UIN Alauddin adalah kunjungan ke Pertamina Regional VII di Makassar di tahun 2014 lalu.

Program Studi Kesmas UIN Alauddin ini mendapatkan akreditasi B dari BAN PT dengan nomor akreditasi 328/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2015.

Gambar 7. Kunjungan K3 UIN Alauddin ke PERTAMINA

Sumber: http://www.uin-alauddin.ac.id/uin-4026-mahasiswa-peminatan-k3-kunjungi-pertamina-regional-vii.html

Referensi

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. (2016, Mar 3). Hasil Pencarian Program Studi. Retrieved from BAN-PT: http://ban-pt.kemdiknas.go.id/hasil-pencarian.php

Unit Penjaminan Mutu Universitas Hasanudin. (2016, Januari 26). Prodi S1 Kesmas. Retrieved Mar 6, 2016, from Fakultas Kesehatan Masyarakat: http://fkm.unhas.ac.id/konten-prodi-s1-kesmas.html

Universitas Andalas. (2016). Bagian Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan. Retrieved Mar 3, 2016, from Universitas Andalas: http://fkm.unand.ac.id/?page_id=584

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. (2012). Profil. Retrieved Mar 6, 2016, from Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan: http://fik.uin-alauddin.ac.id/profil

Universitas Sriwijaya. (2010). Program Pendidikan. Retrieved Mar 2016, 3, from Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya: http://www.fkm.unsri.ac.id/index.php/program-pendidikan

Universitas Sumatera Utara. (2015). Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Retrieved Mar 3, 2016, from Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara: http://fkm.usu.ac.id/content/index/4/id_cnt_keselamatan

Universitas Udayana. (n.d.). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Retrieved Mar 6, 2016, from Universitas Udaya: https://www.unud.ac.id/in/prodi10-Ilmu%20Kesehatan%20Masyarakat.html

 

Menjawab Tantangan K3 untuk Generasi Y

Wah..karyawan muda sekarang banyak yang tidak loyal, kurang etika, susah diatur, seenaknya sendiri..”

Potongan kalimat di atas adalah pendapat yang sudah sering terdengar saat ini dari para pemimpin perusahaan. Sebuah riset dari careerbuilder.com dengan melibatkan 2500 pimpinan perusahaan dan manajer menemukan bahwa terdapat jurang perbedaan yang begitu besar antara jajaran manajer dengan pekerja mudanya. Para pekerja muda dianggap sebagai pekerja yang sulit diatur, susah bertanggung jawab dan memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan para pendahulunya.

Pendapat-pendapat dari para pemimpin dan manajer di atas sebenarnya tidak begitu mengejutkan karena di Indonesia dan di dunia saat ini sedang terjadi perubahan generasi tenaga kerja. Para manajer dan pemimpin perusahaan, biasa disebut dengan “Generasi X”, akan mulai digeser secara perlahan oleh para pekerja muda yang biasa disebut dengan “Generasi Y”. Tentunya, perubahan generasi ini membuat sebuah tantangan baru dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Secara teoritis, sebuah generasi terbentuk sebagai kelompok yang memiliki kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi dan kejadian geopolitik yang signifikan pada tahap kritis perkembangannya. Sebuah generasi menjadi berbeda dengan generasi yang lain karena ada faktor perubahan secara makro yang terjadi di suatu lokasi tertentu.

Dalam dunia Sumber Daya Manusia, setidaknya terdapat 3 generasi yang saat ini ada dalam angkatan kerja:

  • Generasi baby boomers, merupakan generasi yang lahir di tahun 1945-1965, saat ini mereka sudah masuk masa pensiun. Karakter penting generasi ini adalah mereka hidup pada saat masa-masa perang sehingga mereka hidup dengan penuh perjuangan. Mereka tumbuh ketika fondasi awal keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia dibuat.
  • Generasi X,merupakan generasi yang lahir di antara tahun 1965-1980. Mereka menduduki jabatan pimpinan perusahaan saat ini. Mereka tumbuh ketika keselamatan dan kesehatan kerja masih belum banyak mendapatkan perhatian.
  • Generasi Y, merupakan generasi yang lahir di antara tahun 1980-2000. Mereka adalah generasi yang baru memasuki dunia kerja saat ini. Mereka tumbuh ketika keselamatan dan kesehatan kerja sudah lebih baik.

K3 untuk Generasi Y

Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 80 juta Generasi Y pada tahun 2010 dan akan meningkat menjadi 90 juta pada tahun 2030. Ini berarti 1/3 masyarakat Indonesia adalah Generasi Y. Mereka lah yang akan menggerakkan Ekonomi Indonesia dalam 10 tahun mendatang. Mereka juga lah yang akan menjadi target utama dalam implementasi K3.

Sebelum merumuskan implementasi K3 yang tepat untuk para Generasi Y, para profesional K3 harus paham ciri-ciri khusus Generasi Y. Berikut adalah sebagian dari cirri-ciri Generasi Y:

  • Cerdas Teknologi, mereka tidak bisa dipisahkan dari alat komunikasi dan teknologi. Mereka mampu mendapatkan informasi,termasuk informasi K3,lebih cepat daripada generasi yang sebelumnya.
  • Multitasker, mereka didukung oleh kecanggihan teknologi serta informasi sehingga mereka mampu mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Kadang, hal ini justru menyebabkan bahaya baru bagi mereka, misalnya adalah mereka berjalan sambil menggunakan telepon genggam.
  • Memiliki jangka perhatian yang pendek, otak mereka sudah biasa melihat informasi baik berupa video atau gambar secara cepat. Bagi mereka, pelatihan K3 di kelas membuat otak lebih lambat bekerja daripada biasanya sehingga mereka memiliki jangka perhatian yang pendek
  • Meningingkan pengakuan yang cepat, generasi Y menginkan orang-orang melihat dan mengakui dia. Mereka dapat melakukan hal yang aneh untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Para profesional K3 harus segera mengakui mereka sebelum mereka melakukan hal yang tidak diinginkan.

Sumber Gambar: http://industri.bisnis.com/read/20151222/12/504195/gen-y-tak-betah-lama-di-satu-perusahaan-ini-penyebabnya

Ciri-ciri di atas dapat dijadikan senjata oleh Profesional K3 ke depannya untuk menjadikan para Generasi Y ini berperilaku lebih selamat dan sehat. Para profesional K3 di Amerika Serikat misalnya, sejak awal tahun 2000 mereka telah mempersiapkan dan mengembangkan program-program K3 khusus untuk menyambut Generasi Y. Beberapa program tersebut antara lain:

  • Edukasi Hak

Di Amerika, Occupational Safety and Health Administration (OSHA) selaku penyelenggara K3 nasional bekerja sama dengan Environmental Protection Agency (EPA), National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), Kementerian Pendidikan dan 7 organisasi sejenis bekerja sama untuk memberikan pengenalan tentang hak pekerja muda dalam K3. Mereka telah melaksanakannya untuk 279.000 murid SMA, mahasiswa dan profesional muda. Mereka juga membuat poster dan website khusus untuk Edukasi Hak K3 bagi pekerja muda.

Gambar 2. Promosi Hak K3 untuk Generasi Y oleh OSHA

  • Pelatihan dengan berbagai metode

Generasi Y sangat mudah mendapatkan informasi sehingga mereka bisa satu langkah di depan Pelatih K3 mereka. Mereka juga merespons pertanyaan dengan lebih cepat dan mengembalikan pertanyaan baru yang lebih menantang kepada pelatih. Untuk menjawab itu, sebuah perusahaan label di Amerika, mengkombinasikan materi pelatihan berupa instruksi tertulis, video dan konsultasi individu. Sebuah perusahaan karton di Amerika menambahkan materi pelatihan berbasis internet. Bagi mereka, kombinasi dari berbagai macam metode ini akan menjangkau setiap jenis individu dan menghasilkan efektivitas pelatihan yang lebih tinggi.

  • Alat Pelindung Diri yang keren

Para Generasi Y kadang masih memiliki pengalaman kerja yang sedikit sehingga belum banyak kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja yang mereka temukan langsung. Hal ini membuat mereka sulit untuk membayangkan efek buruk yang dihasilkan akibat tidak menggunakan Alat Pelindung Diri. Untuk membantu mengatasi ini, banyak perusahaan Alat Pelindung Diri di Amerika memulai untuk membuat desain yang lebih keren seperti membuat earplug bermotif tato dan menyala dalam gelap atau mendesain kacamata keselamatan dengan warna yang lebih mencolok. Dengan demikian, produk mereka memiliki 2 kegunaan untuk Generasi Y: kegunaan jangka pendek di mana Alat Pelindung Diri yang keren akan membuat Generasi Y lebih percaya diri sambil tidak melupakan kegunaan jangka panjang di mana produk mereka akan melindungi Generasi Y di masa yang akan datang.

Gambar 3. Earplug dengan Grafis Tato untuk Generasi Y

Perlindungan pekerja melalui K3 tidak bisa selamanya menggunakan cara yang sama karena masing-masing generasi memiliki karakter yang unik dan tidak bisa ditemukan di generasi lain. Oleh karena itu, kita sebagai profesional K3 harus mempersiapkan program yang tepat dalam menyambut generasi muda di tempat kerja sehingga mereka bisa lebih selamat, sehat serta mampu melanjutkan kehidupan generasi selanjutnya.

Referensi:

Cable, J. (2005, November 21). Generation Y Safety: The Challenges of Reaching the Under-30 Worker. Retrieved Desember 24, 2015, from EHSToday: http://ehstoday.com/safety/best-practices/ehs_imp_37906

Hutama, R. T. (2015, Januari 16). Tips Mengelola Gen Y. Retrieved Desember 24, 2015, from MarkPlus Institute: http://www.markplusinstitute.com/who_we_are/detail_article/33

Maretha, I. (2014, November 24). Mampukah Gen-X Memimpin Karyawan Gen-Y? Retrieved Desember 24, 2015, from MarkPlus Institute: http://www.markplusinstitute.com/who_we_are/detail_article/14

Occupational Health and Safety Administration. (2012). Occupational Health and Safety Administration. Retrieved Desember 24, 2015, from Young Workers – You Have Rights!: https://www.osha.gov/youngworkers/index.html

Portal HR. (2007, Oktober 31). Portal HR. Retrieved Desember 24, 2015, from Perusahaan Harus Siap Sambut Generasi Y: http://portalhr.com/berita/perusahaan-harus-siap-sambut-generasi-y-36/

Snodgrass, R. (2010). The Generation Gap:Towards Generation Z. London: Health and Safety Executive.

 

 

6 Tips untuk Bertahan dari Serangan Teroris

Satu hari setelah terror di Sarinah 14 Januari 2016 lalu, saya menyempatkan diri untuk mengurus keperluan pribadi pada 2 kantor penting pemerintahan. Persis di pintu masuk kantor pemerintahan tersebut terdapat gerbang detektor logam yang berfungsi untuk mengidentifikasi kemungkinan terorisme secara dini.

Pertama, saya ke kantor pemerintahan di Jakarta Selatan, saya pun melangkah masuk dengan melewati gerbang detektor. Kabar baiknya, detektor itu dapat mendeteksi keberadaan metal pada sabuk dan jam tangan saya, namun kabar buruknya, tidak ada reaksi apapun yang dilakukan oleh 3 orang petugas yang berjaga di depan. Ketika saya tanya saya harus bagaimana, saya masih tetap diperbolehkan masuk oleh mereka.

Urusan di kantor pemerintahaan yang pertama pun selesai sebelum makan siang, saya pun bergegas ke kantor pemerintahan selanjutnya di Jakarta Pusat. Persis seperti di tempat sebelumnya, detektor berhasil mendeteksi metal namun saya tetap diperbolehkan masuk.

2 kejadian ini membuat saya miris. Betapa tidak, hanya selang 1 hari setelah kejadian terror di sarinah, tidak ada peningkatan pengamanan yang berarti setidaknya di 2 kantor pemerintahan yang saya kunjungi itu. Semua pengunjung diperbolehkan masuk, meski detektor sudah memperingatkan akan metal yang dibawa oleh pengunjung. Padahal, di tempat yang saya kunjungi ini, banyak juga berseliweran warga negara asing.

Saya yakin banyak yang belum tahu bagaimana harus bereaksi ketika ada ancaman teroris, untuk itu saya membagikan 6 Tips untuk Bertahan dari Serangan Teroris yang saya sarikan dari situs nbc24.com.

  1. Lihat sesuatu, katakan sesuatu

Banyak ahli keamanan yang selalu berkata bahwa “Jika Anda melihat sesuatu, maka katakanlah sesuatu” (If you see something, say something). “Sesuatu” di sini berarti adalah sebuah hal yang mencurigakan dan dapat menjadi ancaman bagi publik.

Lankford memberikan contoh kepada seorang Unabomber (pengebom sendiri), yang tertangkap karena adiknya mengenali sesuatu yang mencurigakan dan kemudian ia memberitahu pihak yang berwajib. Kadang sahabat, keluarga, dan tetangga memiliki informasi yang lebih lengkap ketimbang para penegak hukum.

Prinsip ini juga dapat diterapkan di internet. Teroris dapat memberikan komentar sesuai dengan kepercayaannya dan membuat ancaman online, komentar online seperti itu harus dianggap serius dan dilaporkan atau diberikan tanda (flagged).

Media juga melaporkan bahwa teroris mungkin dapat menggunakan video games untuk berkomunikasi secara online sehingga para gamers juga dituntut untuk mengawasi percakapan yang mencurigakan.

say see somethingSumber: http://www.huffingtonpost.com/2013/04/16/denver-police-encourage-v_n_3093922.html

  1. Jangan meremehkan

Para ahli setuju bahwa meremehkan aktivitas yang mencurigakan adalah masalah yang jauh lebih besar daripada berlebihan dalam reaksi.

“Tentua, berlebihan dalam bereaksi adalah sebuah masalah,” kata Lankford, “Tetapi manusia justru lebih mengarah ke meremahkan masalah”

Orang-orang mungkin berasumsi bahwa terdapat alasan yang masuk akal untuk sesuatu yang terlihat mencurigakan untuk mereka, atau mereka merasa terhadang untuk ikut terlibat, tetapi keputusan yang terbaik adalah membiarkan polisi untuk memutuskan apakah kecurigaan yang kita rasakan benar adanya.

Penegakan hukum mungkin mengatakan informasi yang Anda berikan tidak relevan atau membuat sedikit ketidaknyamanan, tetapi para ahli berkata bahwa lebih baik tetap memberitahu mereka jika ada apapun yang terlihat mencurigakan.

“Saya yakin, langkah pertama Anda adalah untuk mengerti seperti apakah perilaku yang mencurigakan, lalu melihat sesuatu yang mencurigakan, kemudian tahu kepada pihak siapa harus melaporkan” kata Melanie Pearlman, Eksekutif Direktur Lab Pembelajaran Pendidikan Penanggulangan Terorisme di Amerika Serikat.

  1. Percaya pada firasat

Beberapa orang kadang melakukan penilaian resiko di alam bawah sadar mereka dalam situasi yang berpotensi bahaya. Contohnya adalah apabila Anda melihat ada aktivitas mencurigakan di tempat parkir mobil, Anda cenderung akan memilih tempat lain untuk parkir atau memanggil keamanan untuk pendampingan.

Para ahli mengatakan, jangan membuang insting itu, justru itu dapat mencegah sebuah serangan terjadi.

.Ketika seseorang tidak yakin apa yang sedang terjadi, mereka kadang membuat kesalahan dengan tetap di sekitar area atau mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Jika Anda merasa ada yang salah dengan suatu hal, segera keluar dari area tersebut,” kata Gundry, wakil presiden untuk proyek khusus Jasa Intervensi Kritis.

  1. Tahu jalan keluar

Seperti dalam teater dan pesawat, sangat penting untuk mengetahui di mana jalan keluar yang ada. Jika memungkinkan, Anda dapat mencari tahu bagaimana caranya agar Anda dan keluarga Anda keluar jika ada sesuatu yang buruk terjadi.

Ketika serangan terjadi, perbedaan antara hidup dan mati dapat hanya ditentukan dalam detik-detik pertama, menurut Gundry.

“Orang-orang yang menyadari adanya bahaya dan cenderung mengambil aksi untuk tetap bertahan.”

Dalam prinsip yang lebih luas, sangat bijak untuk memiliki rencana dan bersiap untuk bahaya apapun. Para ahli mencatat bahwa risiko akan semakin tinggi dalam kondisi penembakan dan penyekapan. Sebuah serangan terhadap gardu listrik atau bangunan penting dapat membuat kondisi timpang, namun efek yang sama dapat terjadi akibat dari bencana alam.

“Untuk memberikan dampak kepada masyarakat modern, tidak harus menjadi orang yang menembak orang lain” kata Gundry.

  1. Lari, bersembunyi, melawan

Dalam keadaan penembak aktif berada dalam tempat kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah tidak panik. Kemudian kita harus memahami 3 prinsip dalam keadaan ini: lari, bersembunyi atau melawan.

Lari, adalah prioritas pertama apabila penembak ada di sekitar kita dan arah untuk evakuasi aman. Lari lah dengan yakin meskipun yang lain tidak menyetujui keputusan Anda. Tinggalkan barang bawaan Anda di tempat dan pastikan jalur yang ada lalui untuk evakuasi aman dalam jangkauan serangan. Ketika sudah di luar, segeralah telepon pihak yang berwajib dan pastikan tidak ada orang yang masuk ke dalam area serangan.

Bersembunyi, adalah tindakan yang harus dilakukan ketika memang tidak tersedia jalur evakuasi yang aman. Anda bisa bersembunyi di dalam ruangan dengan pintu yang sudah terkunci dan lampu yang sudah dipadamkan. Anda juga bisa bersembunyi di lemari yang besar. Pastikan telepon genggam Anda sudah dalam mode sunyi dan segera telepon pihak yang berwajib.

Melawan, ada tindakan terakhir yang dapat diambil dalam kondisi serangan. Tentunya, kita tidak bisa melawan tanpa rencana. Melawanlah secara berkelompok, ambil posisi ketika penyerang tidak dapat menyerang kita, gunakan alat-alat sekitar untuk menyerang dan selalu komitmen terhadap rencana yang ada.

Berikut adalah Video dari FBI tentang Lari, Bersembunyi dan Melawan (Run,Hide and Fight)

  1. Hidupi hidup Anda

Kita tidak akan tahu kapan serangan teroris akan terjadi. Serangan Paris membuktikan bahwa teroris tidak selalu menarget pada landmark atau lokasi strategis suatu daerah. Sebuah serangan ke restoran atau teater secara acak mungkin dapat lebih efektif dalam membuat rasa takut dan panik, jadi tetap menjauh dari area popular dan populasi tinggi tidak menjamin terhadap kesealamatan kita.

Namun, janganlah sampai ketakutan mengubah atau membunuh kehidupan normal kita.

Hal ini menjadi masalah besar di Washingtong DC setelah serangan 11 September. Lankford berkata bahwa banyak orang berubah perilakunya menjadi cenderung penakut bahkan ada yang sampai mengalami stress traumatic.

Kita memang harus tetap berhati-hati dalam kondisi sekarang. Namun itu tidak berarti kita harus selalu was-was karena itulah yang diinginkan oleh teroris.

Tetaplah waspada, tetap katakana sesuatu jika melihat sesuatu dan ketahuilah apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

REFERENSI

Loiaconi, S. (2015, Nov 18). 6 tips for preventing and surviving a terrorist attack. Retrieved Feb 6, 2016, from nbc24: http://nbc24.com/news/nation-world/6-tips-for-preventing-and-surviving-a-terrorist-attack

Faktor Manusia: Konsep untuk Memanusiakan Manusia dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Faktor manusia (Human Factor) merupakan salah satu aspek terpenting dalam menciptakan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Dalam dunia kesehatan, kita banyak menemukan orang yang tetap merokok meskipun dia tahu banyak bahaya yang ada dalam rokok. Dalam dunia keselamatan kerja, Center for Chemical Process Safety (CCPS) menyatakan bahwa kesalahan manusia (human error), sebagai musuh utama dalam Faktor Manusia, adalah penyebab terbesar dalam hilangnya nyawa, luka personel dan kerusakan properti dalam dunia industri proses kimia.

Menurut WHO, faktor manusia adalah sebuah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia, alat dan perlengkapan yang mereka gunakan dalam tempat kerja, serta lingkungan di mana mereka bekerja. Sedangkan menurut International Association of Oil and Gas Producers (OGP), faktor manusia adalah term yang digunakan untuk menjelaskan interaksi antara individu dengan individu lainnya, fasilitas dan peralatan, dan juga dengan sistem manajemen.

Faktor manusia berkembang dengan munculnya stagnansi pada tingkat kecelakaan serta kerugian yang muncul akibat kecelakaan. Problem tersebut menjadikan peningkatan keselamatan kerja ke depannya dianggap tidak mungkin lagi.

 human factorGambar 1. Ilustrasi Human Factors

Namun ironisnya, kecelakaan kerja katastropik pada perusahaan dengan catatan keselamatan kerja yang baik masih juga muncul. Para ahli kemudian berkumpul di Amerika Serikat dan di Eropa untuk mengawali era baru dalam mencegah kecelakaan melalui mempelajari Faktor manusia .

Terdapat banyak teori yang mempelajar faktor manusia baik itu dalam kesehatan ataupun keselamatan kerja. Berikut adalah 8 teori pilihan dalam mempelajari faktor manusia di kesehatan dan keselamatan kerja.

  1. Kesehatan Kerja

Dalam kesehatan kerja, konsep-konsep faktor manusia digunakan untuk mempelajari faktor pembentuk perilaku manusia yang dapat dikembangkan menjadi intervensi guna menjadikan perilaku manusia lebih sehat. Beberapa konsep dalam faktor manusia yang masuk dalam kesehatan kerja adalah:

  • Health Belief Model

Health belief model awalnya digunakan untuk menjelaskan rendahnya partisipasi dalam sebuah program pencegahan dan pendeteksian penyakit.Teori ini menyatakan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh persepsi individu tentang kerentanan penyakit, persepsi individu tentang keuntungan yang diperoleh, persepsi tentang halangan serta persepsi individu tentang keahlian seseoarang dalam bidang yang digelutinya.

HBMGambar 2. Health Belief Model

  • Theory Reasoned Action

Theory Reasoned Action menjelaskan bahwa terdapat perbedaan sikap terhadap sebuah objek dan sikap menghargai melalui perilaku terhadap objek lain. Ia menambahkan bahwa sangat penting untuk mengetahui sikap, norma, kontrol persepsi, dan niat untuk memunculkan sebuah perilaku.

TRAGambar 3. Theory Reasoned Action

  • Social Cognitive Theory

Konsep kunci dalam SCT dapat dikelompokkan menjadi 5 kategori yaitu determinan psikologi perilaku, pembelajaran observasional, determinan lingkungan perilaku, pengendalian diri dan keterkaitan moral. SCT juga membahas konsep resiprokal dimana faktor internal psikologi, faktor eksternal yang dapat diobservasi serta lingkungan.

  • Transtheoritical Theory

Transtheoritical Model muncul dalam analisis berbagai macam teori psikoterapi oleh Prochaska pada tahun 1984. Dalam model ini, sebuah perubahan dijelaskan dalam 6 tahap, yaitu prekontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, penjagaan (Mainitenance) dan terminasi. Setiap tahap merupakan sebuah tingkatan berjenjang dan mendapatkan ancaman untuk turun tingkat yang biasa disebut “relaps”.

  1. Keselamatan Kerja

Pada bidang keselamatan kerja, Faktor Manusia difokuskan untuk melihat manusia dalam berbagai macam sudut pandang dengan tujuan utama guna mencegah kesalahan (error) pada manusia yang dapat menciptakan kecelakaan. Beberapa pembahasan faktor manusia dalam bidang keselamatan kerja dapat dijumpai dalam beberapa teori antara lain:

  • Domino Theory

Domino theory menganalogikan penyebab-penyebab kecelakaan sebagai kartu domino yang dimulai dari lingkungan sosial dan kondisi asal, kesalahan manusia, perilaku tidak aman, kecelakaan kemudian luka. Cidera bisa dicegah jika salah satu kartu domino diambil sehingga faktor penyebab kecelakaan menjadi tidak efektif.

  • SHELL Model

SHELL dikembangkan di dunia aviasi guna memahami interaksi antara lingkungan dan sistem pada aviasi dengan komponen manusia di dalamnya. Inti dalam SHELL model ini tercermin pada kepanjangan nama “SHELL” sendiri. SHELL model mempelajari interaksi antara Liveware yang merupakan manusia dengan Software seperti prosedur, Hardware seperti mesin dan hal fisik lain, Environment seperti udara atau pencahayaan, dan Liveware yang merupakan rekan kerja atau manusia yang lain.

  • Human Error Theory

Teori Human Error dikembangkan oleh Profesor James Reason, seorang professor dalam bidang psikologi, pada tahun 1990. Reason, dalam teorinya, mengatakan bahwa sebuah tindakan haruslah melewati 3 tahap kognitif yaitu perencanaan, penyimpanan dalam memori dan juga eksekusi dalam bentuk tindakan.

Human ErrorGambar 4. Konsep Human Error

  • Swiss Cheese

Teori swiss cheese menggambarkan kecelakaan sebagai sebuah kegagalan dari lapisan-lapisan pertahanan untuk menghalangi munculnya kecelakaan. Lapisan yang gagal ini dianalogikan memiliki lubang-lubang seperti bentuk keju swiss.

Swiss CheeseGambar 5. Konsep Swiss Cheese

Referensi

American Institute of Chemical Engineers. (1994). Guidelines for Preventing Human Error in Process Safety. New York: Center for Chemical Process Safety.

Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2008). Health Behavior and Health Education:Theory, Research and Practice. San Francisco: Jossey-Bass.

Health and Safety Professionals Alliance. (2012). Model of Causation: Safety. Tullamarine: Safety Institue of Australia.

 

9 Jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Perguruan Tinggi Swasta Pulau Jawa

Meningkatnya permintaan ahli keselamatan dan kesehatan kerja tidak hanya terlihat dari semakin banyaknya perguruan tinggi yang membuka jurusan Keselamatan dan kesehatan kerja (baca: link) namun juga terlihat dari semakin banyaknya perguruan tinggi swasta (PTS) yang membuka jurusan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). PTS ini sering dijadikan alternatif bagi para profesional yang sudah bekerja dan menginginkan waktu kuliah yang lebih fleksibel.

2Sumber: http://cohse.umich.edu/

Berikut adalah 9 Jurusan K3 yang ada di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Pulau Jawa

  1. S-2 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat  Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA)

Perkuliahan ini dibuka berdasarkan SK Departemen Pendidikan Nasional No. 373/D/T/2006 tanggal 28 September 2006. Kompetensi keselamatan disini masuk dalam konsentrasi kesehatan lingkungan dan biostatistika kesehatan. Program studi ini telah menjalin kerjasama dengan intansi pemerintah, dinas kesehatan, perguruan tinggi lain (UI & UNPAD) serta dunia usaha.

  1. S-1 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA)

Program Studi ini terdapat pada Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Program Studi ini telah terakreditasi B. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu peminatan dalam program studi ini.

  1. S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhamadiyah Jakarta (FKK-UMJ)

Program studi kesehatan masyarakat berdiri pada tahun 1996 dan merupakan program studi kesehatan pertama di DKI Jakarta. Prodi ini telah mendapatkan akreditasi B pada tahun 2001.

Dalam perkembangannya program studi ini memiliki 6 peminatan, yang salah satunya merupakan Kesehatan & keselamatan kerja (K3). Universitas ini terdapat di Jalan KH Ahmad Dahlan, Ciputat.

  1. D-IV Program Studi Kesehatan Keselamatan Kerja STIKes Binawan

Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja STIKes Binawan yang terdapat di Jl. Raya Kalibata, Jakarta Timur, mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi Sarjana Sains Terapan (S.ST). Mahasiswa diharapkan dapat memiliki ilmu dan seni untuk mengelola hazard (bahaya), risk (risiko) dan akibatnya, baik yang menganggu fisik maupun psikis, sehingga tercipta kondisi tempat kerja yang aman dan sehat dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja.

Program Studi ini mendapatkan Akreditasi B dari BAN PT dengan nomor akreditasi No.004/BAN-PT/Ak-VIII/Dpl-IV/VIII/2011

  1. S-2 Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja STIKes Binawan & STIAMI

Program studi ini merupakan kerjasama antara STIKes Binawan dengan STIAMI

  1. D1 & D3 Fire and Safety Akademi Minyak dan Gas (AKAMIGAS) Balongan, Indramayu

Pendirian AKAMIGAS Balongan dilaterbelakangi oleh daya tarik dari sektor minyak dan gas bumi yang memerlukan tenaga kerja yang mempunyai spesifikasi khusus.

Perkuliahan di AKAMIGAS Balongan mendapatkan izin dari SK Mendiknas No.167/D/O/2002 dengan akreditasi B dari BAN PT

Tujuan dari perkuliahan di Prodi ini adalah untuk menciptakan ahli madya bidang K3 Diploma 1 (1 tahun) dan Diploma 3 (3 tahun).

  1. S-1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas MH. Thamrin

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri merupakan salah satu peminatan yang terdapat pada S-1 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas MH. Thamrin.

Universitas ini terletak di Jl. Raya Pondok Gede No 23-25, Kramat Jati, Jakarta Timur. Universitas ini mengedepankan ilmu kesehatan masyarakat berbasis ICT (Information Communication and Technology) sehingga mahasiswa diharapkan dapat bersaing di era globalisasi.

  1. S-1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonusa Esa Unggul

Konsentrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) terdapat pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan. Konsentrasi K3 yang terdapat ada dua, yaitu K3 Industri dan K3i atau Manajemen Rumah Sakit.

  1. S-1, Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Indonesia (URINDO)

Universitas Respati Indonesia terdapat di Jl. Bambu Apus I No. 3 Cipayung, Jakarta Timur. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu peminatan dalam program studi kesehatan masyarakat, fakultas ilmu kesehatan.

Demikian daftar beberapa PTS yang menyelenggarakan program studi atau sejenis terkait Keselamatan dan kesehatan Kerja. Nama-nama di atas tentunya tidak mencerminkan semua K3 di PTS Pulau Jawa karena bisa jadi ada jurusan K3 di PTS lain yang belum disebut dan masih bisa jadi alternatif bagi para profesional K3.

Referensi

All About Safety. (2015, November 19). 9 Kuliah Jurusan K3 Perguruan Tinggi Swasta (masih di Pulau Jawa). Retrieved November 19, 2015, from http://line.me/ti/p/%40allaboutsafety