10 Hal Baru dalam Permenaker Nomor 5 Tahun 2018

Pada 27 April 2018, Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia menerbitkan Permenaker nomor 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 5 tahun 2018 ini membuat 3 peraturan tidak berlaku lagi yaitu: Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan dalam tempat kerja; Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja; dan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor SE.01/MEN/1978 tentang Nilai Ambang Batas untuk Iklim Kerja dan Nilai Ambang Batas untuk Kebisingan di Tempat Kerja.

Gambar Ilustrasi Pabrik

Sebagai peraturan baru, Permenaker nomor 5 tahun 2018 memperkenalkan kepada kita syarat-syarat yang lebih lengkap tentang K3 Lingkungan Kerja untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan selamat. Berikut adalah 10 hal baru dalam Permenaker nomor 5 tahun 2018 yang harus kita pahami versi Katigaku.top:

  1. Faktor Ergonomi

Faktor ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas Tenaga Kerja, disebabkan oleh ketidaksesuaian antara fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi kerja, alat kerja, dan beban angkat terhadap tenaga kerja. Faktor ergonomi ini tidak ada dalam 3 peraturan yang dicabut oleh Permenaker nomor 5 tahun 2018.

Faktor ergonomi dijelaskan lebih lengkap dalam Lampiran Permenaker nomor 5 tahun 2018. Penjelasan tersebut meliputi pengumpulan data antropometri pekerja dan penggunaannya, desain lay out tempat kerja, desain manual handling di tempat kerja, dan penilaian batas beban angkat aman. Lampiran terkait faktor ergonomi ini terbilang lengkap dan detail sehingga sangat membantu kita dalam membuat tempat kerja yang lebih ergonomis.

  1. Faktor Psikologi

Faktor psikologi adalah faktor yang mempengaruhi aktivitas Tenaga Kerja, disebabkan oleh hubungan antar personal di Tempat Kerja, peran dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Sama seperti faktor ergonomi, faktor psikologi juga tidak ada dalam 3 peraturan yang dicabut oleh Permenaker nomor 5 tahun 2018.

Pengukuran faktor psikologi di tempat kerja menggunakan metode survey dengan 7 skala. Survey tersebut meliputi tujuan tugas pekerjaan, waktu untuk pertemuan-pertemuan yang tidak penting, tugas kompleks yang dikerjakan dan lain-lain.

  1. Standar iklim kerja dingin

Tekanan dingin adalah pengeluaran panas akibat pajanan terus menerus terhadap dingin yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menghasilkan panas sehingga mengakibatkan hipotermia (suhu tubuh di bawah 36 derajat Celsius). Standar iklim kerja dingin ini tidak dimiliki oleh Permenaker nomor 13 tahun 2011.

Standar iklim kerja dingin meliputi tabel standar di mana terdapat suhu dingin, kecepatan angin, suhu actual yang dirasakan dan tingkat bahaya. Standar iklim kerja dingin juga menjelaskan tentang istirahat yang harus diambil untuk shift kerja 4 jam.

  1. K3 Lingkungan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Lingkungan Kerja adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan Tenaga Kerja melalui pengendalian Lingkungan Kerja dan penerapan Higiene Sanitasi di Tempat Kerja. Istilah K3 lingkungan kerja ini sudah dipakai sebagai salah satu bidang regulasi K3 bersama dengan bidang regulasi K3 yang lain seperti Pesawat Uap dan Bejana Tekan, Penanggulangan Kebakaran, Mekanik, Konstruksi, Kesehatan Kerja, Kelembagaan K3. Namun, untuk definisi dan pengaturan detailnya baru ada di Permenaker nomor 5 tahun 2018 ini.

Pengamanan Lingkungan Kerja

Gambar Ilustrasi Pengamanan Lingkungan Kerja

  1. Ahli Higiene Industri

Ahli Higiene Industri adalah seseorang yang mempunyai kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap di bidang Higiene Industri yang mempunyai kualifikasi Ahli Muda Higiene Industri (HIMU), Ahli Madya Higiene Industri (HIMA), dan Ahli Utama Higiene Industri (HIU). Ahli higiene industri ini belum diatur dalam 3 regulasi yang dicabut oleh Permenaker nomor 5 tahun 2018.

Kompetensi Ahli Higiene Industri ini diwajibkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh lisensi K3 Ahli K3 Lingkungan Kerja. Dalam Permenaker nomor 5 tahun 2018, pengukuran dan pengendalian Lingkungan Kerja harus dilakukan oleh Personil K3 bidang Lingkungan Kerja.

  1. Metoda uji

Dalam 3 regulasi K3 yang dicabut oleh Permenaker nomor 5 tahun 2018, tidak diatur dengan metoda uji apa parameter-parameter yang diwajibkan untuk diukur. Permenaker nomor 5 tahun 2018 mewajibkan pengukuran dengan metoda uji yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Pasal 6. Dalam hal metoda uji belum ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia, pengukuran dapat dilakukan dengan metoda uji lainnya sesuai dengan standar yang divalidasi oleh lembaga yang berwenang.

  1. Penerapan higiene dan sanitasi

Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 5 tahun 2018 menggantikan Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan di tempat Kerja  karena memang Permenaker 5 tahun 2018 juga mencakup Penerapan Higiene dan Sanitasi di tempat kerja. Higiene adalah usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kesehatan individu maupun usaha pribadi hidup manusia. Sanitasi adalah usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.

Beberapa hal yang baru dalam Permenaker 5 tahun 2018 terkait dengan higiene dan sanitasi bangunan antara lain adalah kewajiban untuk melakukan pengecatan ulang dinding dan langit-langit paling sedikit 5 tahun sekali, jumlah jamban yang bertambah 1 setiap kelipatan 40, jumlah dan persyaratan jamban untuk area konstruksi atau tempat kerja sementara. Selain itu juga terdapat persyaratan untuk pembuangan sampah termasuk pembalut.

  1. Pemeriksaan dan Pengujian K3

Pemeriksaan Ketenagakerjaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pengawas Ketenagakerjaan untuk memastikan ditaatinya pelaksanaan peraturan perundangan ketenagakerjaan di Perusahaan atau Tempat Kerja. Pengujian Ketenagakerjaan adalah kegiatan penilaian terhadap objek Pengawasan, Ketenagakerjaan melalui perhitungan, analisis, pengukuran dan/atau pengetesan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan atau standar yang berlaku.

Pemeriksaan dan Pengujian K3 bisa dilakukan secara internal atau melibatkan lembaga eksternal. Secara internal, pemeriksaan dan pengujian K3 harus dilakukan oleh Personil K3 bidang Lingkungan Kerja. Secara eksternal, bisa dilakukan oleh UPTP Ketenagakerjaan, Direktorat Bina K3 beserta UPT Bidang K3, UPTD bidang pelayanan Pengujian K3 atau lembaga lain yang terakreditasi dan ditunjuk Menteri.

  1. Pelaporan pemeriksaan dan pengujian

Apabila pelaporan pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh lembaga eksternal, maka hasil pemeriksaan dan pengujian wajib disampaikan kepada Unit Pengawasan Ketenagakerjaan. Pelaporan pemeriksaan dan pengujian tersebut harus menggunakan template yang tersedia pada Permenaker nomor 5 tahun 2018 dan juga didistribusikan kepada perusahaan.

  1. Stiker tidak memenuhi persyaratan K3

Apabila area kerja yang telah dilakukan pemeriksaan dan pengujian tidak memenuhi persyaratan K3, maka stiker peringatan dari Kementerian Tenaga Kerja yang dibubuhi stempel akan diberikan kepada area kerja. Bentuk stiker tersebut terdapat dalam lampiran Permenaker nomor 5 tahun 2018 seperti gambar di bawah ini.

Stiker tidak memenuhi persyaratan K3

Gambar Stiker Tidak Memenuhi Persyaratan K3

Demikianlah 10 hal baru dalam permenaker nomor 5 tahun 2018, untuk lebih jelasnya terkait Permenaker nomor 5 tahun 2018 bisa diunduh dalam link ini. Semoga tempat kerja kita bisa lebih sehat dan selamat dengan adanya Permenaker nomor 5 tahun 2018 ini.

Perbedaan Keamanan dan Keselamatan Kerja

Mungkin banyak orang yang telah mengenal Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sejak lama sedikit gemas jika melihat hal ini. Penulis membaca sebuah berita online yang membahas soal K3. Namun sayangnya, kepanjangan yang menjelaskan soal K3 tersebut belumlah tepat. Mereka memilih untuk menuliskan keamanan dan keselamatan kerja. Gambar cuplikan layar sebuah berita yang menuliskan kepanjangan K3 dengan tidak benar Sumber : https://properti.kompas.com/read/2018/03/07/233000421/kesadaran-pekerja-konstruksi-terkait-k3-masih-rendah Dari berita tersebut, penulis menyadari sebenarnya kebanyakan orang melihat keamanan dan keselamatan adalah satu kesatuan.…

"Perbedaan Keamanan dan Keselamatan Kerja"

3 Hasil Audit Sistem Manajemen

Beberapa tahun ke belakang, perusahaan di Indonesia sangat gencar untuk melakukan sertifikasi sistem manajemen. Selain karena tuntutan client  yang ingin memastikan kontraktor pilihannya adalah yang terbaik, sertifikasi sistem manajemen juga dapat membantu perusahaan menjalankan perusahaan secara efektif dan efisien. Dalam menjalani sertifikasi sistem manajemen, anda akan menjalani audit sistem manajemen sebagai persyaratan sertifikasi. Setelah menghadapi audit, anda pasti akan mendapatkan hasil audit tersebut sebagai tolok ukur perusahaan anda dalam menerapkan sistem manajemen.

Beberapa istilah hasil audit yang akan disampaikan oleh auditor untuk beberapa orang mungkin terdengar asing. Setelah menjalani audit sistem manajemen secara eksternal maupun internal, tentu kita akan dihadapkan pada beberapa istilah hasil audit yang akan disampaikan oleh auditor. Biasanya auditor akan menyampaikan saat closing meeting. Berdasarkan Panduan Audit Sistem Manajemen ISO 19001:2011, anda akan dihadapkan pada beberapa jenis hasil audit :

closing meeting

Ilustrasi Closing Meeting

Sumber : https://quest4knowledge.files.wordpress.com/2011/11/business-client-meeting-handshake-closing.jpg?w=712

1. KESESUAIAN (CONFORMITY)

Adalah kondisi dipenuhinya kriteria audit pada suatu proses. Seorang auditor yang baik, pasti akan memaparkan beberapa temuan kesesuaian suatu kondisi di perusahaan terhadap sistem manajemen. Kesesuaian adalah suatu poin positif yang dapat membantu auditee lolos dalam sebuah audit sistem manajemen. Yang mana suatu kesesuaian dapat berdampak positif terhadap sistem manajemen di perusahaan.

2. KETIDAKSESUAIAN (NON CONFORMITY)

Adalah kondisi tidak dipenuhinya kriteria audit pada suatu proses. Biasanya hal ini ditemukan auditor pada saat wawancara ataupun pada saat auditor melakukan site visit. Ketidaksesuaian terbagi dalam 2 jenis yaitu :

2.1. Major Nonconformity

Beberapa perusahaan / badan sertifikasi memiliki kriteria yang termasuk kedalam hasil audit major nonconfirmity :

  • Tidak ada bukti penerapan atau kegagalan keseluruhan dari sistem untuk memenuhi salah satu persyaratan sistem manajemen
  • Beberapa minor nonconformity terhadap satu elemen dapat mengisyaratkan kegagalan sistem sehingga dapat dikategorikan sebagai major nonconformity
  • Semua ketidaksesuaian yang bisa berakibat fatal. Contoh : mengelas dekat sumber energi, kerugian finansial yang besar, pelanggaran terhadap peraturan, mempengaruhi image perusahaan.

2.2. Minor Nonconformity

Kriterianya hasil audit ini adalah :

  • Ketidaksesuaian terhadap persyaratan sistem manajemen yang tidak mengakibatkan pada :
    • kegagalan dari suatu sistem
    • mengurangi kemampuannya dalam menjamin kondisi proses yang terkontrol
    • kondisi fatal
  • Ketidaksesuaian yang disebabkan oleh :
    • Kegagalan pada dokumentasi dan rekaman
    • Satu atau lebih ketidak konsistenan penerapan suatu persyaratan yang tidak mengakibatkan kepada 3 hal tersebut diatas

3. Peluang Peningkatan (Opportunity For Improvement)

Adalah hasil audit yang menemukan bahwa telah dipenuhinya kriteria audit pada suatu proses, akan tetapi terdapat suatu peluang untuk menimbulkan ketidaksesuaian atau peluang untuk meningkatkan efektifitas proses. Biasanya jika auditee dapat melaksanakan saran auditor untuk melakukan tindak lanjut terhadap peluang peningkatan ini, perusahaan dapat menerima dampak yang positif. Karena sifatnya peluang, maka hal ini dapat disikapi oleh auditee sebagai saran yang membangun.

Closing Meeting Audit

Ilustrasi Closing Meeting Audit

Sumber : https://salesvue.com/wp-content/uploads/2013/08/3-Basic-Steps-to-Closing-the-Sale.jpg

TINDAK LANJUT HASIL AUDIT

Berdasarkan hasil audit, auditor akan menerbitkan Permintaan Tindakan Korektif atau Corrective Action Request (CAR) yang harus segera ditindak lanjut oleh auditeeAnda sebagai auditee harus segera menutup temuan ini dan auditor akan melakukan verifikasi terhadap tindakan korektif yang telah dilakukan agar auditee dapat dinyatakan lolos dalam Audit Sistem Manajemen yang telah dilakukan.

Beberapa istilah hasil audit diatas paling umum disampaikan oleh auditor, semoga bermanfaat bagi anda yang sedang menjalani proses audit sistem manajemen.

Penulis : Permana Eka Satria

REFERENSI :

Dody I. W., 2018. INTEGRASI AUDIT SISTEM MANAJEMEN K3L. Sentral Sistem Consulting (Materi Training Internal Auditor Sistem Manajemen K3L)

Standar Rambu K3 OSHA/ANSI Terbaru

Di dalam dunia Keselamatan Kesehatan Kerja (K3),  beberapa standar telah dijadikan acuan bagi praktisi K3 dalam aktivitasnya termasuk di dalamnya standar rambu K3. Salah satu standar yang umum dipergunakan adalah standar OSHA/ANSI. OSHA (Occupational Safety and Health Administration) merupakan badan regulator Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Amerika Serikat sedangkan ANSI (American National Standards Institute) badan penerbit standar di Amerika Serikat. Pada tahun 2013, OSHA dan ANSI telah menyatukan standar rambu K3 mereka.

Komponen Baru Rambu K3 Standar OSHA/ANSI

Timeline Standar Signage

Gambar timeline perubahan standar dalam Rambu K3

Pada awal 1914, rambu “Danger” dan rambu tanda panah digunakan di tempat kerja untuk menunjukkan sebuah bahaya. Pada tahun 1941, standar rambu K3 pertama di Amerika Serikat mengganti standar rambu K3 sebelumnya menjadi rambu “Danger” dan “Caution” yang mengandung tulisan singkat untuk mengidentifikasi bahaya. Pada tahun 2002, standar ANSI menambah pilihan untuk memasukkan simbol dan isi terkait dengan konsekuensi dan interaksi dengan bahaya serta bagaimana bisa menghindari bahaya yang ada. Pada tahun 2013, OSHA mengintegrasikan standar ANSI kepada regulasinya.
OSHA dan ANSI menciptakan standar Rambu K3 yang baru pada tahun 2013 dengan tujuan untuk dapat mengkomunikasikan rambu K3 agar lebih komunikatif dan dipahami oleh pekerja secara global. Rambu K3 yang baru diharapkan dapat memuat hal yang lebih substantif dan menjelaskan bahaya serta bagaimana cara menghindarinya. Rambu K3 standar OSHA/ANSI juga diklaim telah melalui riset faktor manusia agar rambu K3 terlihat lebih efektif dan memotivasi.

Dari standar OSHA/ANSI versi sebelumnya, terdapat beberapa komponen baru di dalam standar rambu ini :

Simbol Peringatan Keselamatan

How to Choose ANSI Signage

Gambar flowchart pemilihan Kata Sinyal (signal word) untuk Rambu K3 versi OSHA/ANSI

Menunjukkan bahwa terdapat potensi cidera bagi orang. Hanya digunakan pada rambu “BAHAYA”, “PERINGATAN”, dan “WASPADA”.

Kata Sinyal untuk Menyampaikan Pesan Peringatan Keselamatan dan Bahaya

  • Kata “DANGER” (BAHAYA)

BAHAYA

Digunakan untuk keadaan bahaya dimana jika tidak dihindari hampir pasti dapat menghasilkan cidera serius atau kematian. Kata ini digunakan terbatas untuk situasi paling ekstrim. Ditandai dengan warna latar merah.

  • Kata “WARNING” (PERINGATAN)

PERINGATAN

Digunakan untuk keadaan bahaya dimana jika tidak dihindari mungkin dapat menghasilkan cidera serius atau kematian. Ditandai dengan warna latar oranye.

  • Kata “CAUTION” (WASPADA)

WASPADA

Digunakan untuk keadaan bahaya dimana jika tidak dihindari dapat menghasilkan cidera minor atau menengah. Ditandai dengan warna latar kuning.

  • Kata “NOTICE” (PEMBERITAHUAN)

PEMBERITAHUAN

Digunakan untuk informasi penting yang tidak berhubungan langsung dengan bahaya yang ada atau sebuah bahaya yang tidak memungkinkan cidera fisik. Ditandai dengan warna latar biru.

  • Kata “INSTRUKSI KESELAMATAN”

INSTRUKSI KESELAMATAN

Digunakan untuk menyediakan penjelasan tentang prosedur atau instruksi yang berhubungan dengan keselamatan. Ditandai dengan warna latar hijau.

 Pictogram / Simbol Rambu K3

SIMBOL

Simbol grafis atau pictogram digunakan sebagai penyambung kata-kata isi dan pesan gambar agar orang yang melihat lebih mengerti tentang rambu K3. Dapat digunakan juga sebagai pemenuhan regulasi tentang kewajiban pencantuman gambar.

Pesan Keselamatan Rambu K3

PESAN KESELAMATAN

Adalah isi dari pesan keselamatan yang ingin disampaikan dalam rambu K3 yang dibuat. Pesan tersebut harus meliputi pesan bahaya dan bagaimana cara menghindari bahaya tersebut.

Mengapa Harus Menggunakan Rambu K3 Standar OSHA/ANSI ?

Alasan utama untuk menggunakan rambu K3 standar OSHA/ANSI adalah untuk memastikan kita telah menggunakan rambu yang efektif mengkomunikasikan pesan kepada pekerja. Dengan komunikasi yang efektif, diharapkan kita mampu menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja hingga angka terendah.

Penulis : Permana Eka Satria

REFERENSI :

Clarion Safety Systems. 2013. New OSHA/ANSI Safety Sign Systems FOR TODAY’S WORKPLACES. Diakses dari http://clarionsafety.com

15 Perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001

OHSAS 18001 merupakan standard yang dijadikan panduan internasional dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Pada 12 Maret 2018, ISO 45001 diterbitkan untuk mengganti OHSAS 18001. Perusahaan yang masih menerapkan OHSAS 18001 diberikan kesempatan selama 3 tahun untuk menerapkan ISO 45001. Sebelum menerapkan ISO 45001, sebaiknya kita mengetahui perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001.

Lebih dari 7600 orang meninggal karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja atau lebh dari 2.78 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Beban dari luka dan penyakit akibat kerja bagi pengusaha dan ekonomi sangat signifikan. Kerugian yang ditimbulkan termasuk dalam pensiun dini, kehilangan pekerja, dan tingginya biaya pengobatan.

Untuk menghadapi hal ini, British Standard Institution telah mengembangkan standard baru yaitu ISO 45001 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. ISO 45001 berusaha untuk membantu organisasi untuk mengurangi beban kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan menyediakan kerangka kerja untuk meningkatkan keselamatan bagi para pekerja, mengurangi risiko tempat kerja dan membuat lebih kondisi kerja yang lebih aman dan lebih baik di seluruh dunia.  ISO 45001 dikembangkan oleh komite dari ahli keselamatan dan kesehatan kerja dengan struktur yang mengikuti sistem manajemen generik yang lain seperti ISO 14001 dan ISO 9001.

ISO 45001

Ilustrasi ISO 45001

Sumber: https://hseinternational.co.uk/vote-starts-iso-45001-final-draft/

untuk membantu penerapan ISO 45001 di organisasi ANda, berikut adalah 15 perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001.

1. Perbedaan struktur

Perbedaan pertama adalah terkait dengan struktur. ISO 45001 berdasarkan kepada ISO Guide 83 (annex SL) yang mengatur struktur umum level tinggi, teks dan istilah umum serta definisi untuk generasi sistem manajemen yang baru (ISO 9001, ISO 14001 dan lain-lain). Struktur ini bertujuan untuk memfasilitasi proses dan integrasi dengan beberapa sistem manajemen yang terharmonisasi, terstruktur dan efisien. Struktur ISO 45001 adalah sebagai berikut:

  1. Scope
  2. Normative References
  3. Terms and Definitions
  4. Context of the Organization
  5. Leadership
  6. Planning
  7. Support
  8. Operation
  9. Performance Evaluation
  10. Improvement

Sedangkan struktur OHSAS 18001 adalah:

  1. Scope
  2. Referensi Publikasi
  3. Terms and Definitions
  4. OH&S management system requirements

Terlihat jelas dalam perbandingan struktur di atas bahwa terdapat penambahan klausul dalam ISO 45001. Hal ini berarti ada beberapa pembahasan klausul yang baru atau lebih detail dalam ISO 45001.

2. Perbedaan Definisi

ISO 45001 menyertakan beberapa konsep fundamental yang berubah seperti “risiko”, “pihak terkait (interested party)” dan “tempat kerja (workplace)”.

Contoh perbedaan istilah terdapat pada contoh di bawah:

Istilah “risk” dalam ISO 45001 disebutkan sebagai:

effect of uncertainty

risk” dalam OHSAS 18001 disebutkan sebagai:

combination of the likelihood of an occurrence of a hazardous event or exposure(s) and the severity of injury or ill health that can be caused by the event or exposure(s).”

Riskdalam ISO 45001 mengandung unsur “effect” di mana adalah sebuah penyimpangan dari yang diharapkan baik positif atau negatif. Sedangkan “uncertainty” adalah sebuah keadaan, baik parsial, dari defisiensi informasi yang berkaitan dengan pengetahuan sebuah “event”, “consequence” dan “likelihood

Istilah “pihak terkait (interested party)” dalam OHSAS 18001 disebutkan sebagai:

“Person or group, inside or outside the workplace, concerned with or affected by the OHS Performance of an organization”

Sedangkan dalam interested party dalam ISO 45001 disebutkan sebagai:

person or organization that can affect, be affected by, or perceive itself to be affected by a decision or activity

3. Istilah baru

Pada ISO 45001, beberapa istilah baru juga dimasukkan seperti “monitoring”, “measurement”, “effectiveness”, dan “OH&S Opportunity”. Istilah baru ini tentunya akan berdampak kepada pelaksanaan model sistem manajemen yang diterapkan.

Sebagai contoh, ISO 45001 ini memperkenalkan kepada kita konsep “OH&S Opportunity” yang berarti:

circumstance or set of circumstances that can lead to improvement of OH&S performance”

OH&S Opportunity ini harus kita identifikasi bersamaan dengan identifikasi risiko (risk identification). Konsep ini jelas berbeda dengan konsep OHSAS 18001 yang hanya mengidentifikasi risiko tanpa mengidentifikasi opportunity. Dengan mengidentifikasi opportunity, organisasi dapat menentukan hal-hal apa saja yang bisa diambil dengan pertimbangan opportunity yang tinggi.

4. Perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001 dalam Tujuan

OHSAS 18001 dan ISO 45001 memiliki tujuan tertulis yang berbeda. Jika OHSAS 18001 lebih berkonsetrasi pada pengendalian risiko, maka ISO 45001 lebih berkonsentrasi pada meningkatkan kinerja K3 secara proaktif.

Secara tertulis, tujuan OHSAS 18001 adalah:

to enable an organization to control its OH&S risks and improve its OH&S performance

Sedangkan tujuan ISO 45001 adalah:

to enable an organization to proactively improve its OH&S performance in preventing injury and ill-health

5. Document & Record vs Documented information

Seringkali kita terpaku untuk banyak terfokus pada pemeliharaan dokumen serta catatan (record) dalam pelaksanaan OHSAS 18001. Dalam ISO 45001, dokumen dan catatan dihilangkan dan dijadikan istilah baru sebagai “documented information” yang diartikan sebagai:

information required to be controlled and maintained by an organization and the medium on which it is contained

ISO 45001 tidak mensyaratkan dokumen harus berupa prosedur, cetakan kertas atau bentuk paper based lain. ISO 45001 memperbolehkan untuk documented information ini dalam format dan media apapun dari sumber manapun.

dokumen

Ilustrasi Dokumen kertas dan digital

Sumber: https://persona.ie/services/document-generation/

6. Penjelasan shall, should, may dan can

Kata penghubung “shall, should, may, can” merupakan kata yang banyak dipakai dalam OHSAS 18001. Kata-kata tersebut dalam Bahasa Indonesia sekilas memiliki arti yang sama yaitu “boleh/bisa”. Namun, keempat kata-kata tersebut sebenarnya memiliki arti yang berbeda dan sayangnya tidak dijelaskan secara jelas pada OHSAS 18001.

Pada ISO 45001, perbedaan keempat kata tersebut langsung dijelaskan pada bagian 0.5 contents of this document. Keempat kata tersebut berarti:

  • Shall menunjukkan keharusan
  • Should menunjukkan rekomendasi
  • May menunjukkan izin (permission)
  • Can menunjukkan kemungkinan atau kapabilitas

7. Fokus kepada “organization context

Pada ISO 45001, fokus yang lebih kuat diberikan kepada “organization context”. Organisasi dimiinta untuk melihat lebih luas dari isu keselamatan dan kesehatan kerjanya sendiri dan harus menyadari apa yang masyarakat harapkan dari mereka, tentu dalam isu keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam klausul 4.1 disebutkan:

The organization shall determine external and internal issues that are relevant to its purpose and that affect its ability to achieve the intended outcome(s) of its OH&S Management System

8. Keberadaan Management Representative

Beberapa organisasi yang menggunakan OHSAS 18001 mendelegasikan tanggung jawab dari keselamatan dan kesehatan kerja kepada seorang safety manager daripada harus mengintegrasikan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja ke operasi organisasi. ISO 45001 mengharuskan kerjasama dalam pelaksanaan aspek keselamatan dan kesehatan kerja pada semua sistem manajemen organisasi sehingga mengharuskan top management untuk dapat mengambil peran kepemimpinan yang lebih kuat.

Pada standar OHSAS 18001, manajemen puncak akan menunjuk seorang wakil manajemen yang akan mengurus banyak tugas sehari-hari dari Sistem Manajemen K3, namun ini mengalami perubahan dalam ISO 45001. ISO 45001 meletakkan akuntabilitas kinerja sistem Manajemen K3 tepat pada manajemen puncak organisasi, tetapi manajemen puncak boleh menyerahkan wewenang untuk melaporkan kinerja Sistem Manajemen K3 kepada “individu (kadang-kadang disebut sebagai manajemen perwakilan), anggota manajemen puncak atau beberapa individu”.

9. Partisipasi dan Konsultasi dari “non-managerial workers”

ISO 45001 menyusun 3 tingkat jenjang karir pekerja yaitu: top management, managerial worker, dan non-managerial worker. Dalam hal jumlah, biasanya jumlah pekerja dalam posisi non-managerial worker lebih banyak daripada posisi yang lain. Selain jumlahnya banyak, mereka pekerja dalam posisi non-managerial worker juga terpapar langsung dengan risiko-risiko di tempat kerja. Namun, alasan-alasan tersebut kadang tidak membuat posisi non-managerial worker kuat dalam Sistem Manajemen Keselamatan Kerja.

partisipasi pekerja keselamatan kerja

Ilustrasi Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Sumber: https://www.osha.gov/dsg/InjuryIllnessPreventionProgramsWhitePaper.html

Klausul 5.4 ISO 45001 merupakan klausul khusus yang membahas partisipasi dan konsultasi pekerja khususnya pekerja dalam posisi non-managerial worker. Partisipasi dan konsultasi non-managerial worker inilah yang tidak dibahas secara spesifik dalam OHSAS 18001.

Hal yang diperluas untuk melibatkan partisipasi pekerja non-managerial antara lain:

  • Identifikasi bahaya, risiko dan peluang (opportunities)
  • Penentuan tindakan eliminasi bahaya dan pengendalian risiko K3
  • Penentuan persyaratan kompetensi, kebutuhan pelatihan, pelatihan dan evaluasi pelatihan
  • Investigasi kecelakaan dan tindakan pengendaliannya

Hal yang diperluas untuk melibatkan konsultasi pekerja non-managerial antara lain:

  • Kebijakan K3
  • Target K3
  • Pemenuhan legal
  • Pelaksanaan program audit

10. Perencanaan (planning)

OHSAS 18001 tidak menyebutkan hal yang harus dijadikan pertimbangan dalam proses perencanaan. ISO 45001 menyebutkan 4 hal yang harus dijadikan pertimbangan, yaitu:

  • Isu-isu yang telah dijelaskan pada “organizational context
  • Persyaratan yang dijelaskan pada “interested parties
  • Skup dari SIstem Manajemen K3
  • Penyusunan dari risiko dan peluang

Adapun yang harus dibuat dalam perencanaan untuk mencapai Objektif K3 adalah:

  • What will be done
  • What resources will be required
  • Who will be responsible
  • When it will be completed
  • How results will be evaluated
  • How the actions to achieve OH&S objectives will be integrated into the organizations business process

11. Identifikasi bahaya

ISO 45001 dan OHSAS 18001 memiliki kesamaan dalam identifikasi bahaya yaitu mengharuskan untuk “ongoing” dan “proactive”. ISO 45001 memasukkan beberapa pertimbangan baru dalam identifikasi bahaya yang tidak disebutkan dalam OHSAS 18001.

Pertimbangan baru dalam identifikasi bahaya ISO 45001:

  • Faktor sosial meliputi beban kerja, jam kerja,victimization, harassment dan bullying
  • Kecelakaan kerja baik internal atau eksternal organisasi, termasuk juga kejadian gawat darurat dan penyebabnya
  • Potensi situasi darurat
  • Perubahan dari pengetahuan terhadap bahaya

12. Penilaian peluang (opportunities)

Opportunities adalah konsep baru pada ISO 45001 yang tidak dimiliki oleh OHSAS 18001. Organisasi harus memelihara proses untuk:

  • Peluang K3 untuk meningkatkan performa K3 termasuk peluang dalam adaptasi terhadap pekerjaan, organisasi kerja serta lingkungan pekerja
  • Peluang lain untuk meningkatkan sistem manajemen K3

13. K3 dalam procurement (outsourcing dan kontraktor)

ISO 45001 mengharuskan organisasi mengendalikan risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam pengadaan barang dan jasa yang dilakukan dengan proses outsourcing ataupun kontraktor. Klausul spesifik kontraktor terdapat di klausul 8.1.4.2 sedangkan klausul untuk outsourcing disebutkan di klausul 8.1.4.3. Adanya klausul spesifik untuk outsourcing dan kontraktor inilah yang berbeda dengan OHSAS 18001 di mana OHSAS 18001 memasukkan keduanya dalam klausul 4.4.6 operational control.

Organisasi direkomendasikan untuk dapat memverifikasi peralatan, instalasi, dan material telah aman untuk digunakan oleh pekerja dengan:

  • Peralatan diantar dengan spesifikasi yang sesuai dan telah diuji agar bekerja sesuai dengan yang direncanakan
  • Instalasi telah dilakukan untuk menjamin fungsinya sesuai dengan yang didesain
  • Material dikirim sesuai dengan spesifikasi
  • Persyaratan penggunaan, peringatan, dan perlindungan lain telah dikomunikasikan dan tersedia

14. Klausul management of change

Management of change (manajemen perubahan) bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja dengan cara mengurangi bahaya dan risiko baru dalam lingkungan kerja sebagai akibat dari terjadinya perubahan/pergantian. Contoh penggantian yang bisa terjadi dalam organisasi adalah tekhnologi, peralatan, fasilitas, praktek kerja, prosedur, spesifikasi desain, bahan baku, staf, serta standard dan regulasi.

Perubahan jalur rel

Ilustrasi dalam setiap perubahan harus dikendalikan risikonya

Sumber: https://www.123rf.com/photo_65814864_engineer-holding-yellow-safety-helmet-with-worker-maintenance-repairing-change-railway-sleepers.html

Klausul management of change dibahas oleh ISO 45001 dalam 1 klausul tersendiri yaitu di klausul 8.1.3. Hal ini berbeda dengan OHSAS 18001 yang tidak memiliki klausul tersendiri untuk management of change karena terintegrasi seperti dalam klausul 4.3.1 dan 4.4.6.

15. Klausul Improvement

ISO 45001 mengharuskan organisasi untuk menentukan peluang improvement (peningkatan) dan melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diharapkan dalam sistem manajemen K3. Klausul improvement merupakan klausul 10 yang menjadi klausul terakhir dalam ISO 45001. Dalam OHSAS 18001, tidak ada khusus klausul untuk membahas spesifik terkait dengan improvement namun tetap terintegrasi dengan beberapa klausul lain.

Dalam melakukan improvement, organisasi bisa melakukan investigasi kecelakaan, perbaikan ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan serta program improvement lain. Organisasi dapat meningkatkan (improve) kesesuaian, kecukupan dan efektifitas dari manajemen K3 dengan:

  • Meningkatkan performa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
  • Promosi budaya yang mendukung sistem manajemen Keselamatan dan kesehatan kerja
  • Promosi partisipasi pekerja dalam menerapkan tindakan untuk peningkatan berkelanjutan dari sistem manajemen K3
  • Mengkomunikasikan hasil yang relevan dari peningkatan berkelanjutan kepada pekerja atau wakil dari pekerja
  • Memelihara documented information sebagai bukti peningkatan berkelanjutan

Itulah 15 perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001. Untuk memudahkan perbandingan antara ISO DIS 45001 dengan OHSAS 18001 sebuah lembaga konsultan bernama Advisera telah menyusun matriks perbandingan keduanya dalam Bahasa Inggris yang bisa diunduh di sini. Semoga kita selalu bisa menjaga pekerja, kontraktor dan semua pihak yang berkaitan dengan pekerjaan kita agar tetap sehat dan selamat.

REFERENSI

Advisera. 2016. ISO/DIS 45001:2016 vs. OHSAS 18001:2007. Accessed Mar 18, 2018. http://cdn2.hubspot.net/hubfs/1983423/18001Academy/Free_downloads_landing_pages/WP/DIS_ISO_45001-2016_vs_OHSAS_18001-2007_matrix_EN.pdf?t=1492453231499.

British Standard Institution. 2018. Occupational Health and Safety Management Systems Requirements with Guidance to Use. Geneva, Mar 12.

British Standard. 2007. OHSAS 18001: 2007 Occupational Health and Safety Management Systems – Requirements. July.

IMPAC. n.d. The ISO Benchmark for Occupational Health & Safety Management System. Accessed Mar 16, 2018. http://www.hasanz.org.nz/site_files/11371/upload_files/ChristelFouchePresentationwebsite.pdf?dl=1.

International Standard Organization. 2018. ISO 45001 – Occupational health and safety. Accessed Mar 16, 2018. https://www.iso.org/iso-45001-occupational-health-and-safety.html.

ISO Update. 2018. Differences between ISO 45001 and OHSAS 18001. Jan 10. Accessed Mar 16, 2018. http://isoupdate.com/resources/differences-between-iso-45001-and-ohsas-18001/.

Mahendra, Rendi. 2016. “Posisi Management Representative dalam ISO 45001.” ISOCenter Indonesia. May 4. Accessed Mar 16, 2018. https://isoindonesiacenter.com/posisi-management-representative-dalam-iso-45001/.

NSF-ISR. 2016. “ISO 45001 Occupational Health and Safety Management Systems .” Sep 13. Accessed Mar 16, 2018. https://www.nsf.org/newsroom_pdf/isr_dis45001_guide.pdf.

 

12 langkah Selamat dalam Pekerjaan Ruang Terbatas (confined space)

Pekerjaan ruang terbatas adalah pekerjaan yang dilakukan dalam ruangan yang cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya atau mempunyai akses keluar masuk yang terbatas, seperti pada tank, kapal, silo, tempat penyimpanan, lemari besi atau ruang lain yang mungkin mempunyai akses yang terbatas atau tidak dirancang untuk tempat kerja secara berkelanjutan atau terus-menerus di dalamnya.

Contoh ruang terbatas adalah Tangki penyimpanan, bejana transpor, boiler (bejana uap), dapur/tanur, silo dan jenis tangki lainnya yang mempunyai lubang lalu orang; Ruang terbuka di bagian atas yang melebihi kedalaman 1,5 meter seperti lubang lalu orang yang tidak mendapat aliran udara yang cukup; Jaringan perpipaan, terowongan bawah tanah dan struktur lainnya yang serupa; Ruangan lainnya di atas kapal yang dapat dimasuki melalui lubang yang kecil seperti tangki kargo, tangki minyak dan sebagainya.

pekerjaan ruang terbatas

Gambar Pekerjaan Ruang Terbatas

Sumber: http://capitaltechrescue.com/confined-spaces/

Definisi dan contoh ruang terbatas seperti di atas merupakan definisi yang ada dalam Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasaan Ketenagakerjaan No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 tentang Pedoman dan Pembinaan Teknis Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ruang Terbatas (confined space).

Pekerjaan ruang terbatas merupakan pekerjaan yang berisiko sangat tinggi. 3 pekerja pada Sumur Sukamandi tewas setelah menghirup gas berbahaya dalam sebuah tangki penampungan,3 penggali sumur tewas di Baleendah dan 2 penggali sumur tewas di Banyumas.

Berikut adalah 12 langkah selamat dalam pekerjaan ruang terbatas (confined space)

1. Pendataan Seluruh Ruang Terbatas

Perusahaan harus mendata seluruh ruang terbatas sesuai dengan definisi yang ditetapkan oleh Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasaan Ketenagakerjaan No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006. Seluruh ruang terbatas yang didata harus dibatasi akses masuknya dengan cara menggemboknya dan juga dengan memberikan rambu bahaya ruang terbatas di penutup ruang terbatas tersebut.

rambu ruang terbatas

Gambar rambu ruang terbatas

Sumber: http://www.masterlock.eu/new-safety-products/confined-space-covers

Pendataan ruang terbatas ini akan memperjelas tindakan pengendalian yang perlu dilakukan oleh pekerja untuk masuk ke dalam ruang terbatas. Selain itu, pembatasan akses ruang terbatas juga dapat menghindari dari masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan atau tidak berkompeten untuk masuk ke dalam ruang terbatas.

2. Pembuatan Analisa Bahaya

Sebelum masuk ke dalam ruang terbatas, kita harus mengidentifikasi setiap bahaya yang dapat muncul ketika pekerja masuk ke dalam ruang terbatas. Tujuannya adalah agar kita dapat merencanakan pengendalian dari bahaya tersebut dan agar pekerja dapat dikomunikasikan mengenai bahaya tersebut. Bahaya-bahaya dalam ruang terbatas antara lain adalah bahaya gas beracun, kurang oksigen, gerakan mekanik, aliran cairan, tersengat listrik dan kebakaran.

Kita juga harus mempersiapkan izin kerja ruang terbatas sebelum masuk ke ruang terbatas yang disetujui oleh pemberi kerja, area manager dan juga bagian safety atau petugas yang berkompeten lain.

3. Kompetensi dan Kondisi Pekerja

Petugas yang berkompeten dan sehat sangat penting untuk melaksanakan pekerjaan dalam ruang terbatas secara selamat. Dalam Kepdirjen No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006, pemerintah mengatur 2 kompetensi yaitu petugas K3 Utama dan petugas K3 madya. Petugas K3 Utama memiliki kompetensi untuk bekerja di dalam ruang terbatas dengan izin kerja khusus sedangkan petugas K3 madya memiliki kompetensi sebagai pengawas (attendant) di luar ruang terbatas dengan izin kerja khusus. Ruang terbatas dengan izin kerja khusus yaitu ruang terbatas yang mengandung gas berbahaya atau material yang berpotensi memperangkap pekerja atau struktur sedemikian rupa yang dapat memperangkap atau bahaya lainnya.

Petugas juga harus dipastikan dalam kondisi sehat. Dokter bertugas memeriksa dan memberikan keputusan apakah petugas tersebut fit atau tidak dalam pekerjaan ruang terbatas. Selain itu, dokter juga harus memastikan petugas tidak memiliki riwayat penyakit: epilepsy, penyakit jantung, gangguan pernafasan, gangguan pendengaran, vertigo, klaustrophobia (takut kegelapan), sakit tulang belakang, kecacatan penglihatan.

4. Isolasi energi

Tidak menutup kemungkinan, ruang terbatas merupakan sebuah tangki proses yang memiliki energi di dalamnya seperti putaran baling-baling, aliran steam, aliran air panas, dan lain-lain. Energi-energi itu tentunya akan berbahaya bagi pekerja ruang terbatas jika tidak dikendalikan.

Pengendalian energi dapat dilakukan dengan memasang Lock Out dan Tag Out (LOTO). Dengan prinsip LOTO, switch listrik akan digembok serta valve steam atau valve air panas bisa ditutup. Kunci dari gembok LOTO haruslah dipegang oleh orang yang di dalam ruang terbatas untuk menjamin tidak ada yang bisa aktifasi mesin ketika masih ada pekerjaan di dalam ruang terbatas.

LOTO Pipa

Gambar Penerapan LOTO pada Pipa

Sumber: https://www.seton.net.au/lockout-tagout-and-electrical-safety

5. Pengendalian Udara dalam Ruang Terbatas

Pengendalian udara merupakan salah satu hal yang paling penting dalam pekerjaan ruang terbatas. Jika di ruang terbatas aslinya digunakan sebagai tempat gas berbahaya seperti ammonia, nitrogen, LPG dan gas berbahaya lain maka gas tersebut harus di-purging yaitu mengeluarkan gas dalam ruang terbatas.

Kandungan oksigen harus selalu diukur selama pekerjaan dalam ruang terbatas. Kandungan oksigen yang diperbolehkan oleh Kepdirjen No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 dalam ruang terbatas adalah 19.5% sampai 23.5%. Hal ini beralasan mengingat jumlah oksigen yang kurang akan mengakibatkan gangguan kesehatan bagi pekerja dan jumlah oksigen yang berlebih akan membuat barang-barang di dalam ruang terbatas menjadi lebih mudah untuk terbakar.

Untuk mengamati kandungan oksigen dalam udara ruang terbatas, biasanya pekerja dibekali dengan gas detector portable yang tidak hanya dapat mendeteksi kandungan oksigen tapi juga kandungan gas berbahaya yang lain. Untuk menjaga agar kandungan oksigen tetap stabil, kita bisa menggunakan blower atau alat ventilasi lain guna memberikan pasokan udara segar dari luar ruangan terbatas ke dalam ruangan terbatas. Apabila pekerja harus masuk ke area yang memang tidak memungkinkan adanya pasokan udara dari luar, maka pekerja dapat dibekali dengan Self Contain Breathing Apparatus (SCBA) berupa tabung oksigen dan selang udara untuk memudahkan pekerja dapat bernafas.

pemeriksaan udara ruang terbatas

Gambar Pemeriksaan Udara dalam ruang terbatas

Sumber: https://sites.ewu.edu/ehs/laboratories-and-shops/shop-safety/confined-space/

6. Alat Pelindung Diri yang sesuai Pekerjaan Ruang Terbatas

Alat pelindung diri diperlukan karena pengendalian Teknik dan tata kerja saja tidak cukup untuk melindungi pekerja. Alat pelindung diri yang dapat dipakai misalnya helm untuk menjaga kepala pekerja agar tidak terbentur dinding-dinding sempit di ruang terbatas. Alat pelindung diri berupa akses tali juga diperlukan untuk memudahkan pekerja dapat evakuasi dalam kondisi darurat. Apabila dibutuhkan, SCBA dapat dipakai untuk memastikan pasokan udara bersih.

Selain alat pelindung diri yang disebutkan di atas, alat pelindung diri tambahan juga diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan berbahaya yang dilakukan di dalam ruang terbatas. Contohnya, pekerjaan penggerindaan memerlukan faceshield untuk melindungi wajah dari bunga api dan ear plug untuk melindungi dari kebisingan. Pekerjaan pengelasan membutuhkan kedok las, sarung tangan dan apron sebagai alat pelindung diri.

7. Alat kerja yang aman

Kecelakaan kecil dari alat kerja yang dibawa masuk ke dalam ruang terbatas dapat menyebabkan petaka. Oleh karenanya, kita harus memeriksa alat-alat kita sebelum masuk ke ruang terbatas dan memastikan semuanya aman.

Contohnya, senter dan alat penerangan lain sebaiknya dipilih yang menggunakan DC (arus searah) untuk meminimalkan risiko kebocoran listrik. Alat las argon misalnya harus dicek apakah selangnya tidak memiliki kebocoran. Tangga yang digunakan sebagai akses juga harus dicek apakah kaki-kaki dan anak tangganya dalam kondisi kuat atau tidak.

8. Rencana Evakuasi

Tidak bisa dipungkiri, kadang masih saja ada hal yang buruk terjadi meskipun perencanaan kita sudah matang. Oleh karenanya, kita harus memiliki rencana evakuasi jika ada hal darurat yang terjadi dalam pekerjaan di ruang terbatas. Dalam Kepdirjen No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006, kita bisa merangkum 3 hal dalam perencanaan evakuasi dalam pekerjaan ruang terbatas:

Informasi keadaan darurat

Informasi keadaan darurat merupakan langkah pertama untuk mengaktifkan prosedur evakuasi. Informasi keadaan darurat dapat dimulai dari dalam ruangan terbatas atau dari luar ruang terbatas. Dari dalam ruang terbatas, keadaan darurat dapat dimulai jika petugas utama menyadari adanya tanda atau gejala bahaya akibat paparan terhadap situasi yang berbahaya atau mendeteksi adanya kondisi terlarang. Dari luar ruang terbatas, petugas madya atau ahli K3 dapat mendeteksi kondisi berbahaya yang mengancam petugas di dalam ruang terbatas. Komunikasi keadaan darurat dalam ruang terbatas dapat berupa sinyal, peringatan verbal langsung atau peringatan dengan bantuan alat komunikasi.

Akses masuk dan keluar

Idealnya, petugas utama yang masuk ke dalam ruang terbatas harus memiliki sistem tali penyelamat yang terhubung antara tubuh petugas utama dengan alat mekanis yang ada di luar ruang terbatas. Sehingga, apabila terjadi kondisi darurat, petugas madya di luar ruang terbatas bisa menyelamatkan tanpa harus masuk ke ruang terbatas. Apabila tim penyelamat harus masuk ke ruang terbatas, maka pengurus harus mengizinkannya tentu dengan rencana dan praktik operasi penyelamatan yang sesuai serta memastikan tidak akan ada korban tambahan dalam proses penyelamatan ke dalam ruang terbatas.

Kompetensi Tim Penyelamat

Tim penyelamat harus dipilih oleh pengurus perusahaan. Dalam tim penyelamat, setidaknya terdapat 1 orang memiliki sertifikasi P3K. Pengurus juga harus memastikan bahwa petugas yang  terlibat telah berlatih melakukan penyelamatan dari ruang terbatas dengan ijin khusus minimal setiap 12 bulan sekali, dengan cara simulasi operasi penyelamatan menggunakan  boneka, manekin atau manusia dari ruangan yang sesungguhnya atau yang menyerupainya. Ruangan yang menyerupai tersebut wajib mempunyai persamaan dengan ruangan yang sesungguhnya dalam hal ukuran, konfigurasi dan kemudahan aksesnya.

penyelamatan dalam ruang terbatas

Gambar Penyelamatan dalam ruang terbatas

Sumber: https://www.fireandsafetyaustralia.com.au/training/confined-space-training/

9. Pembatasan waktu kerja

Health and Safety Executive Inggris menyebutkan elemen “limiting working time” (pembatasan waktu kerja) sebagai elemen yang harus ada dalam izin kerja ruang terbatas. Dalam pemakaian SCBA (tabung oksigen) misalnya, pekerja memiliki waktu terbatas untuk bekerja sesuai dengan kapasitas oksigen yang ada dalam SCBA. Pembatasan waktu kerja diperlukan juga dalam kondisi ekstrim dari suhu atau kelembaban atau ketika ruang terbatas sangat kecil sehingga pergerakan sangatlah dibatasi.

Risiko tambahan yang mengharuskan adanya pembatasan waktu kerja misalnya adalah adanya masalah terkait dengan integritas dari ruang terbatas seperti struktur yang korosi,temperature dingin, kehilangan kekuatan ketika tangki dikeringkan, bahaya tersandung dan bising. Petugas utama di dalam dapat dibekali dengan penunjuk waktu sehingga dapat keluar sesuai dengan waktu yang disepakati. Petugas madya yang berada di luar ruangan terbatas pun dapat mengingatkan jika memang waktu yang disepakati telah berakhir.

10. Pengawasan Pekerjaan Ruang Terbatas

Pekerjaan ruangan terbatas wajib diawasi minimum 1 orang di luar ruangan terbatas. Pengawas ini (attendant) wajib selalu ada di akses masuk ruang terbatas dan mengawasi pekerjaan dari luar. Apabila petugas di dalam ruang terbatas dan petugas di luar ruang terbatas dapat saling melihat satu sama lain maka pengawasan akan lebih mudah untuk dilakukan. Namun, apabila jarak antara petugas di luar dan di dalam tidak memungkinkan untuk saling berkomunikasi baik dengan visual atau suara langsung maka ada baiknya diberikan alat komunikasi seperti handy talky.

11. Setelah pekerjaan ruang terbatas

Apabila pekerjaan di ruang terbatas telah selesai, kita harus memastikan tidak ada barang yang tertinggal di ruang terbatas. Adanya barang yang tertinggal tentunya dapat merepotkan kita untuk kembali lagi mengambilnya atau malah mengganggu proses produksi kelak. Kita juga harus memastikan tidak ada petugas yang tertinggal di dalam ruang terbatas.

Setelah dipastikan tidak ada yang tertinggal, area ruang terbatas dapat dicoba untuk kembali dijalankan. Izin kerja yang telah dibuat sebelumnya kemudian dapat dikembalikan untuk dokumentasi.

12. Kajian untuk eliminasi pekerjaan ruang terbatas

Pekerjaan ruang terbatas adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Sebisa mungkin, kita dapat mengeliminasi pekerjaan yang harus dilakukan dalam ruang terbatas. Ahli tekhnik, arsitek, kontraktor dan siapun yang mendesain, membangun, memodifikasi bangunan, struktur dan yang lainnya harus memiliki tujuan untuk mengeliminasi atau meminimalkan kebutuhan untuk dapat masuk ke dalam ruang terbatas. Misalnya, ujung kerucut dalam tangki proses dapat didesain sedemikian rupa sehingga debu-debu di dalam tangki dapat keluar secara efektif.

Pekerjaan rutin, pembersihan, inspeksi dan pemeliharan harus dipertimbangkan dalam tahap desain untuk menjamin bahwa tidak ada bahaya baru yang mungkin akan terjadi. Ahli tekhnik, arsitek, kontraktor dan siapapun yang mendesain harus mempertimbangkan untuk mengeliminasi pekerjaan ruang terbatas, namun apabila tidak bisa, maka harus didesain akses yang mudah untuk masuk ke ruang terbatas termasuk dalam keadaan darurat. Sebagai contoh:

  1. Desain sebaiknya memasang lubang manusia (man holes) di bawah dari struktur
  2. Kemudahan akses dan platform untuk bekerja harus dipertimbangkan
  3. Desain dari ruang terbatas harus mengurangi kebutuhan untuk masuk misalnya dengan memasang kaca pantau (sight glass), titik sampel, selang untuk tes atmosfir dan lain-lain

Itulah 12 langkah selamat dalam pekerjaan ruang terbatas (confined space). Semoga kita dan rekan kerja kita yang bekerja di ruang terbatas dapat selalu kembali dengan selamat.

Referensi:

Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan Kesehatan Kerja. 2006. “Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas (confined space).” Jakarta: Kementerian Tenaga Kerja, September.

Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan . 2006. “Keptusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan NO. KEP. 113/DJPPK/IX/2006 tentang Pedoman dan Pembinaan Teknis Petugas Keselamatan dan Kesehatan.” Jakarta: Kementerian Tenaga Kerja, September.

Health and Safety Executive. 2014. “Safe work in confined space.” Health and Safety Executive. Accessed Februari 12, 2018. http://www.hse.gov.uk/pUbns/priced/l101.pdf.

Occupational Safety and Health Administration. 2004. “Permit Required Confined Space.” Occupational Safety and Health Administration. Accessed Februari 12, 2018. https://www.osha.gov/Publications/osha3138.pdf.

 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Laboratorium

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Laboratorium adalah semua upaya untuk menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja laboratorium dari risiko-risiko yang ada di laboratorium. Keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium sangat penting untuk dipahami mengingat banyaknya laboratorium yang digunakan baik itu di pabrik ataupun di Lembaga Pendidikan dan penelitian.

Keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium

Ilustrasi keselamatan kerja laboratorium

Sumber: http://wpmlabs.com/

Beberapa kecelakaan kerja di Laboratorium telah terjadi. Pada 8 Januari 1999 di Carnegie Melon, Pittsburgh, Pennsylvania, mahasiswa tingkat master terluka karena ledakan azobisisobutyronitril, beberapa anggota tim K3L juga terluka. Tangki nitrogen pecah di Universitas Texas A&M pada 12 Januari 2006. Masih di Texas, mahasiswa tingkat master mendapatkan luka parah karena sebuah ledakan dalam aktivitas penanganan campuran metal dengan energi tinggi yang tiba-tiba meledak di Texas Tech. Pada 29 Desember 2008, mahasiswa meninggal karena terperangkan dalam kebakaran kimia yang melibatkan tert-buthyllithium. Pada 16 Maret 2016 terdapat sebuah ledakan di Laboratorium Universitas Hawaii. Seorang asisten riset mendapatkan luka yang sangat serius, kehilangan lengannya. Kerugian finansial mencapai $ 1 Juta. Di Laboratorium Farmasi Universitas Indonesia, terdapat ledakan yang menyebabkan 14 mahasiswa terluka pada 17 Maret 2015.

Kecelakaan-kecelakan di laboratorium seperti dijelaskan sebelumnya membuat kita seharusnya berupaya menjamin bahwa pekerja di laboratorium telah aman. Dalam buku Lees Process Safety, setidaknya ada 4 cara dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium:

Personel dan Sistem Manajemen Laboratorium

Laboratorium harusnya memiliki sistem manajemen dengan organisasi yang sesuai serta orang yang berkompeten; prosedur, instruksi kerja serta dokumentasi yang baik. Semua informasi ini harus tergabung dalam manual keselamatan laboratorium (laboratory safety manuals). Di sistem tersebut, seharusnya menggambarkan secara jelas struktur organsisasi dengan rantai komandonya, serta digambarkan juga pemisahan antara fungsi pelaksana dengan fungsi penasihat. Sistem keselamatan dalam laboratorium yang sangat penting meliputi pemeriksaan bahaya, sistem izin kerja, pelaporan kecelakaan dan audit keselamatan.

Kode laboratorium dapat juga dijadikan referensi dalam membuat sistem manajemen keselamatan di laboratorium. Kode-kode laboratorium memberikan metodologi sistematik untuk mengatur laboratorium. Contoh kode-kode tersebut adalah RIC Laboratoriues Code, NFPA 45, dan ICheme laboratories guide.

 Kompetensi dan kapabilitas personel yang bekerja di laboratorium berkisar dari yang sudah diberikan pelatihan dengan baik dan sangat berpengalaman sampai peneliti yang tidak berpengalaman. Penyamaan kompetensi ini dapat dilakukan dengan pelatihan. Pelatihan ini harus mencakup bahaya, peralatan, prosedur, dan sistem. Pelatihan pun harus mencakup motivasi dalam bekerja dengan aman.

Bahaya dalam Laboratorium

Pemeriksaan bahaya pada laboratorium kimia telah diberikan panduannya dalam Kode RIC dan Panduan ICheme serta di banyak buku lain tentang keselamatan kerja laboratorum seperti yang ada di Buku “Hazards in the Chemical Laboratory” yang ditulis oleh Bretherick tahun 1981. Bahaya-bahaya pada laboratorium kimia meliputi substansi reaktif, substansi mudah terbakar, substansi beracun, bahaya radiasi, bahaya listrik, bahaya mekanis, bahaya kondisi operasi dan bahaya pelepasan air.

  • Substansi reaktif: ketika substansi reaktif ini diangkat atau diproses, setiap usaha harus dilakukan untuk menemukan informasi dari perilaku substansi reaktif tersebut dan bagaimana cara mengendalikannya.
  • Substansi mudah terbakar: banyak cairan dan gas yang dipakai di laboratorium adalah mudah terbakar. Panduan untuk memakai bahan mudah terbakar telah dibahas oleh NFPA termasuk NFPA 45 tentang laboratorium
  • Substansi beracun: Ketika substansi beracun dipakai, kita harus menyadari 3 rute masuk substansi beracun yaitu inhalasi, ingesti dan kontak kulit serta efek yang ditimbulkan baik itu efek jangka pendek ataupun jangka Panjang. Panduan pengendalian bahaya beracun ini telah ada pada Control of Substance Hazardous to Health (COSHH) Regulations tahun 1988. Bahaya pada nanomaterial dan nano tekhnolgi juga harus diperhatikan.
  • Bahaya radiasi: Banyak bahaya radiasi yang muncul pada aktivitas di laboratorium seperti aktivitas yang menggunakan alat dengan sumber radioaktif seperti petunjuk level cairan, detektor gas kromatograf, detektor kebocoran, alat anti static pada timbangan dan detektor kebakaran; peralatan yang memproduksi voltase di atas 5 kV mungkin saja menjadi sumber X-ray; peralatan dengan radiasi non-ionisasi seperti laser, microwave dan peralatan ultraviolet serta infrared.
  • Bahaya listrik: Personel bisa saja mendapatkan risiko tersetrum dalam perbaikan kabel atau komponen yang belum dibumikan. Bahaya listrik yang ada pada laboratorium berbeda dengan yang ada di industri, namun tetap saja berbahaya jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat.
  • Bahaya mekanik: bahaya mekanik muncul dari alat-alat seperti mesin-mesin bengkel, perkakas tangan dan energi, peralatan lifting, peralatan yang berputar, dan mesin penekan. Kecelakaan sangat mungkin muncul ketika personel laboratorium menggunakan peralatan yang mereka tidak familiar.
  • Bahaya operasional: bahaya yang terkait dengan temperature yang tinggi atau paling rendah, cairan cryogenic, sumber tekanan tinggi (uap, udara, gas bertekanan dan air), dan vakum.
  • Bahaya pelepasan air: terlepasnya air misalnya dalam bentuk jet dapat menimbulkan risiko korslet, kejutan termal, kemunculan gas dalam bentuk jet serta reaksi air dengan zat kimia yang reaktif.

Desain laboratorium

Desain laboratorium dan layout  telah didiskusikan pada Panduan ICheme dan Buku ”Designing safety into the laboratory” yang ditulis oleh Baum dan Diberardini (1987).  Faktor-faktor yang patut untuk diperhatikan dalam desain laboratorium termasuk layout, penyimpanan bahan kimia beracun, ventilasi, fume hoods, dan fasilitas penunjang seperti bengkel, toko, penerimaan gudang, jasa analitik dan fasilitas staff.

  • Layout laboratorium: desain dan layout laboratorium harus dibuat dari analisa kebutuhan aktivitas laboratorium dengan bantuan diagram alur yang menunjukkan alur material dari meja eksperimen, bengkel, penyimpanan zat kimia, tempat analisa hingga fasilitas pengelolaan limbah. Layout juga harus dapat membedakan mana area dengan risiko rendah dan area dengan risiko tinggi.
  • Zat beracun: ketika zat beracun dipakai, desain laboratorium harus ditujukan untuk tetap menjaga konsentrasi lingkungan laboratorium di bawah batas aman pajanan. Untuk zat beracun, regulasi COSHH 1988 menyebutkan untuk monitoring atmosfir tempat kerja dan menjaga konsentrasi dari kontaminan dapat dilakukan melalui ventilasi dan fume hoods.
  • Ventilasi: Metode paling umum untuk mengendalikan konsentrasi dan kontaminan di tempat kerja adalah ventilasi. Exhaust dari ventilasi harus ditempatkan pada tempat yang aman (jauh dari tempat pengambilan udara)
  • Fume hoods: alat untuk melaksanakan eksperimen dengan zat beracun dan tak beracun dengan aman
  • Pendukung laboratorium: Pendukung laboratorium termasuk bengkel, penyimpanan, tempat penerimaan barang, jasa analitik, dan fasilitas untuk staf. Perhatian harus ditujukan kepada penyimpanan zat kimia yang harus dipisah berdasarkan bahayanya. Pemisahan tersebut termasuk berlakuk untuk solven, perbedaan kelas dari zat kimia, mudah meledak, tabung gas, dan material cryogenic.

Laboratorium harus didesain dengan perlindungan kebakaran yang sesuai dengan bangunan dan kode perlindungan kebakaran dengan pertimbangan dari otoritas kebakaran. Beberapa kode NFPA yang dapat diterapkan untuk laboratorium adalah NFPA 10, NFPA 30, NFPA 45, NFPA 45, NFPA 101, NFPA 704, dan NFPA kode 45. Beberapa elemen dasar dari desain untuk perlindungan kebakaran meliputi ketahahan pintu, ketahanan internal layout, klasifikasi area berbahaya, ventilasi mekanis, dan sistem alarm kebakaran.

Laboratorium juga dapat dilengkapi dengan rambu-rambu bahaya untuk memberikan komunikasi kepada pekerja terkait risiko dan alat pelindung diri yang harus dipakai. Selain itu, rambu darurat juga dapat dipasang agar pekerja tau apa yang harus dilakukan jika terjadi kejadian gawat darurat.

rambu gawat darurat laboratorium

Contoh rambu gawat darurat laboratorium

Sumber: https://www.utwente.nl/ewi/mss/memslab/Safety_rules/general-laboratory-safety-rules/

Operasional Laboratorium

Banyak faktor yang mempengaruhi operasional laboratorium seperti informasi kimia, desain eksperimen, penilaian bahaya, penilaian terhadap pengendalian substansi yang berbahaya terhadap kesehatan (regulasi COSHH 1988), prosedur operasional, prosedur darurat, pemeliharaan peralatan, sistem izin kerja, housekeeping, pekerjaan setelah jam kerja, operasional yang tidak diawasi, serta akses ke dalam laboratorium. Semua faktor-faktor ini harus dipertimbangkan dengan baik dan cukup untuk menjamin lingkungan kerja yang aman.

Laboratorium secara umum memiliki peralatan yang beranekaragam yang masing-masing peralatan tersebut harus digunakan dalam kondisi yang sesuai dengan spesifikasi. Contoh peralatan yang membutuhkan perhatian lebih ketika dipakai adalah peralatan dengan kaca, piringan pemanas, oven dan tungku serta pemutar (centrifuges).

Laboratorium juga menggunakan berbagai macam material seperti air, uap, udara bertekanan, gas bahan bakar dan tenaga listrik. Selain itu, terdapat pendingin, vakum, oksigen dan pipa gas yang lain. Pemakaian harus  dilakukan dengan memastikan penggunaan yang sesuai untuk mencegah bahaya yang dihubungkan dengan penggunaan alat itu.

Pemakaian material dalam laboratorum dengan disusun dalam Panduan Icheme pada buku “Hazards in the Chemical Laboratory” oleh Bretherick tahun 1981. Penyimpanan utama dari zat kimia yang berbahaya harus dijaga dalam lokasi spesifik. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan adalah segregasi dari material yang tidak kompatibel; jenis tempat penyimpanan yang tepat; poin penerimaan; penerimaan, pengambil stok dan pembuangan stok; pengurangan dari inventori; identifikasi, kepemilikian, informasi keselamatan dan kesehatan serta pelabelan.

Perencanaan kejadian gawat darurat harus memperhatikan penyebab kejadian gawat darurat dan jenis-jenis kejadian gawat darurat dan pengendalian yang diperlukan. Perencanaan kejadian gawat darurat harus mencakup semua bagian dari laboratorium termasuk penyimpanan dan servis. Referensi detail untuk kejadian gawat darurat ada pada Panduan ICheme.

Contoh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia

Di Amerika Serikat, OSHA telah memberikan standard 29 CFR 1910.1450 untuk menghadapi pajanan kimia berbahaya di laboratorium. Tujuan dari standard laboratorium ini adalah untuk memastikan pekerja dalam laboratorium non produksi diinformasikan tentang bahaya kimia pada tempat kerjanya dan dilindungi dari pajanan kimia yang melebihi nilai ambang batas paparan. Standard laboratorium mencapai perlindungan yang diinginkan dengan chemical hygiene plan (CHP). Standard laboratorium kimia terdiri dari 5 elemen utama:

  • Identifikasi bahaya: Setiap laboratorium harus mengidentifikasi zat kimia yang dipakai oleh pekerjanya. Semua tempat zat kimia harus diberikan label yang sesuai dan Material Safety Data Sheet (MSDS) yang sesuai. Penggunaan logo globally harmonized system (GHS) juga akan memberikan kontribusi terhadap pemahaman pekerja tentang bahaya zat kimia dengan lebih mudah.
  • Chemical Hygiene Plan (CHP)/ Rencana Higiene Kimia: Tujuan dari CHP ini adalah untuk memberikan panduan yang tepat dan prosedur untuk penggunaan zat kimia dalam laboratorium. Standard laboratorium meminta CHP untuk memasukkan prosedur, peralatan, APD, dan praktik pekerjaan yang mampu untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan yang muncul dari pemakaian zat kimia dalam laboratorium.
  • Informasi dan pelatihan: Pekerja laboratorium harus diberikan informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan bahaya kimia di laboratorium. Pelatihan harus diberikan pada saat pekerja baru masuk ke laboratorium dan saat adanya zat kimia baru yang berbahaya. Selain itu, pelatihan-pelatiha itu juga harus diulang secara periodik untuk menjamin bahwa pekerja selalu mengingat prinsip-prinsip keselamatan di laboratorium.
  • Pengukuran pajanan: OSHA telah membuat permissible exposure limits (PELs), seperti telah tercantum di 29 CFR 1910, subpart Z, untuk ratusan zat kimia. PEL adalah adalah nilai konsentrasi spesifik zat kimia di udara yang dipercaya tidak akan menimbulkan dampak buruk pada pekerja. Perusahaan harus menjamin bahwa pekerja-pekerja mendapatkan pajanan dibawah angka yang sudah ditentukan OSHA. Perusahaan harus melaksanakan monitoring pajanan melalui sampling udara jika memang ada risiko pekerja terpapar pajanan melebihi batas aman. Monitoring pajanan secara periodik harus dilakukan sesuai dengan standard dengan pemberitahuan hasilnya kepada pekerja.
  • Konsultasi Medis: Perusahaan harus menyediakan pengukuran kesehatan bagi pekerja terkait dengan efek yang ditimbulkan oleh pajanan kimia. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara periodik atau insidental misalnya terdapat zat kimia baru ataupun ada kasus kebocoran zat kimia

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Biologi

Pekerja di laboratorium biologi terpapar oleh beragam bahaya biologi seperti darah dan cairan tubuh, specimen kultur, jaringan tubuh, binatang percobaan dan bahaya biologi dari laboran lain. Beberapa bahaya biologi yang diidentifikasi oleh OSHA adalah anthraks, flu burung, botulisme (keracunan dari bakteri), penyakit menular dari makanan, hantavirus (virus dari kotoran kering,urin, ludah dari tikus), penyakit legionella, jamur, plague, ricin, SARS, cacar, tularemia (demam kelinci), viral hemorrhagic fevers (VHFs), dan flu pandemik.

Beberapa prinsip untuk keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium biologi antara lain:

  • Material Safety Data Sheets (MSDS)/ Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) untuk agen infeksius: Meskipun MSDS untuk produk kimia telah tersedia di Amerika Serikat dan negara lain, namun hanya Kanada yang mengembangkan MSDS untuk agen infeksius. MSDS untuk agen infeksius termasuk dosis, viabilitas, informasi medis, bahaya di laboratorium, pencegahan yang direkomendasi, prosedur tumpahan dan pemakaian. Pemerintah Kanada menyebutnya sebagai pathogen safety data sheet (PSDS) yang tersedia di https://www.canada.ca/en/public-health/services/laboratory-biosafety-biosecurity/pathogen-safety-data-sheets-risk-assessment.html
  • Patogen menular dari darah: Di Amerika, OSHA memperkirakan terdapat 5.6 juta pekerja di industri pelayanan kesehatan dan pekerjaan terkait memiliki risiko penularan pathogen dari darah seperti HIV, hepatitis B, Hepatitis C dan yang lain. OSHA memberikan panduan untuk mengendalikan pathogen menular dari darah dalam panduan 29 CFR 1910.1030.
  • Binatang Percobaan: Semua prosedur terkait dengan binatang percobaan harus dilakukan oleh personel yang telah ditraining secara sesuai. Dengan menggunakan praktek dan APD yang sesuai, yaitu 29 CFR 1910.132(a), pekerja dapat mengurangi kemungkinan mereka akan tergigit, tergores atau terpapar oleh badan binatang, cairan binatang dan jaringan binatang.

Referensi:

Center for Chemical Process Safety, 2016. Process Safety Beacon – October 2016 – English. [Online]
Available at: https://www.aiche.org/ccps/resources/process-safety-beacon/201610/english
[Accessed 14 November 2017].

Department of Labor USA, 2011. Laboratory Safety Guidance. [Online]
Available at: https://www.osha.gov/Publications/laboratory/OSHA3404laboratory-safety-guidance.pdf
[Accessed 15 Nov 2017].

Mannan, S., 2014. Lees’ Process Safety Essentials. 1st ed. Oxford: Elsevier Inc.

7 Langkah Pengalaman Persiapan Audit SMK3

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau disingkat SMK3 adalah bagian  dari sistem  manajemen  perusahaan  secara  keseluruhan dalam  rangka  pengendalian  risiko  yang  berkaitan dengan kegiatan  kerja  guna  terciptanya  tempat  kerja yang aman, efisien dan produktif. SMK3 diamanahkan oleh Undang-undang 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang SMK3.

Pasal 87 ayat 1 UU 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa:

“Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.”

Pasal 5 ayat 1 PP 50 Tahun 2012 menyebutkan bahwa:

“Setiap  perusahaan  wajib  menerapkan SMK3  di perusahaannya.”

Seiring dengan perkembangan zaman, jumlah perusahaan yang mendapatkan SMK3 semakin banyak. Hal ini didorong oleh berbagai faktor seperti dorongan penerapan regulasi oleh pemerintah, permintaan dari customer, nota pengawasan dari dinas tenaga kerja, serta ada pula yang menerapkan karena kesadaran pribadi.

Alhamdulillah, perusahaan tempat saya bekerja telah mendapatkan SMK3 untuk 166 elemen pada tingkat lanjutan (tingkat tertinggi) dengan tingkat pemenuhan lebih dari 92%. Alhamdulillah, bendera emas SMK3 pun diberikan oleh Menteri pada saat malam penganugerahan SMK3. Sebagai gambaran, perusahaan tempat saya bekerja ini telah mendapatkan OHSAS 18001 serta telah diaudit setiap tahunnya oleh kantor pusat di Prancis.

bendera emas setelah audit smk3

Saya ingin sharing tentang pengalaman saya mendapatkan sertifikasi SMK3. Berikut ini adalah 7 tahap yang dilakukan untuk mendapatkan sertifikasi SMK3:

Self assessment Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Self assessment elemen SMK3 merupakan penilaian independen yang dilakukan oleh profesional K3 di tempat kerja. Untuk melaksanakan self assessment ini, kita dapat menggunakan ceklis pemeriksaan SMK3 per kriteria yang Anda dapat unduh di sini

Dengan melakukan self assessment, kita bisa mengetahui tingkat pemenuhan SMK3 sehingga kita bisa menentukan tingkat pemenuhan SMK3 yang meliputi tingkat awal, tingkat transisi ataupun tingkat lanjutan. Kita juga dapat mempersiapkan action plan dengan lebih awal.

Membentuk kesepakatan dengan manajemen untuk SMK3

Setelah kita mengetahui posisi tempat kerja kita terhadap kriteria-kriteria di SMK3, maka kita harus men-sosialisasikannya kepada para pengurus atau manajemen perusahaan. Tujuan utama dari tahap ini adalah mendapat persetujuan dari pengurus baik dalam bentuk komitmen ataupun finansial.

Untuk mendapatkan persetujuan dari manajemen, kita dapat membuat rapat yang dihadiri oleh direktur perusahaan dan jajaran manajer. Kita sebaiknya mempresentasikan keuntungan dari penerapan SMK3, posisi SMK3 di perusahaan serta jumlah anggaran yang dibutuhkan.

Pembagian tugas sertifikasi SMK3

Bagi saya, SMK3 lebih detail dan banyak kriterianya daripada sistem keselamatan kerja berdasarkan OHSAS 18001. Hal ini membuat waktu yang dibutuhkan untuk penyusunan dokumen SMK3 dan jumlah orang yang dilibatkan akan lebih banyak daripada OHSAS 18001.

Sebagai contoh, kriteria SMK3 5.1.1 yang menyebutkan bahwa:

“Terdapat prosedur yang terdokumentasi yang dapat menjamin bahwa spesifikasi teknik dan informasi  lain  yang  relevan  dengan  K3  telah diperiksa sebelum keputusan untuk membeli.”

Kriteria tersebut mengharuskan kita untuk berkordinasi dengan tim pembelian ataupun tim keuangan.

Persiapan dokumen SMK3

Dokumen untuk SMK3 yang harus disiapkan antara lain adalah prosedur kerja, foto-foto kegiatan, izin-izin dari instansi pemerintahan, bukti kehadiran rapat dan kegiatan serta dokumen-dokumen lain yang memang dipersyaratkan oleh SMK3. Dokumen-dokumen ini tidak hanya dikumpulkan dari departemen K3 tapi juga dari luar departemen K3.

Dokumen-dokumen tersebut sebaiknya diatur dalam folder-folder kertas tersendiri yang disusun per elemen SMK3. Hal ini akan sangat membantu mengingat pada saat audit nanti auditor dihadapkan dengan pengecekan kriteria yang sangat banyak namun dengan waktu yang terbatas. Bagi auditee, ini juga akan menguntungkan karena audit akan terfokus pada binder-binder yang disiapkan sehingga kita tidak perlu mencari-cari dokumen pendukung lain.

Pre-Audit SMK3

Pre-audit merupakan audit persiapan sebelum audit sertifikasi yang dilakukan oleh badan audit. Beberapa badan audit yang dapat melakukan pre audit ataupun audit SMK3 adalah Surveyor Indonesia, Sucofindo, Biro Klasifikasi Indonesia, Tuv Nord, SAI Global, Alkon, dan lain-lain. Pre-audit dilakukan untuk mengidentifikasi gap perusahaan terhadap pemenuhan SMK3 dari mata auditor SMK3. Pre-audit ini dapat dilakukan biasanya hanya 4 mandays, namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan dan penilaian auditor.

Pre-audit bukanlah sebuah kewajiban, namun pre-audit ini sangat berguna terutama bagi perusahaan yang baru pertama kali sertifikasi SMK3. Setelah melakukan audit, kita harus memonitor action plan dan finding dari pre-audit tersebut.

Pelaksanaan Audit SMK3

Sebelum hari-H audit, sebaiknya kita meminta agenda audit sehingga kita bisa mempersiapkan person in charge yang tepat untuk setiap agenda audit. Kita juga harus mempersiapkan alat pelindung diri yang dibutuhkan untuk auditor, konsumsi, serta peralatan untuk auditor dapat bekerja.

Audit SMK3 biasanya dilakukan dengan waktu 6 mandays. Kita harus transparan dan proaktif selama Audit SMK3 agar sistem kita bisa di ­improve. Audit SMK3 ini hanya diwajibkan 1 kali dalam 3 tahun.

Logo audit SMK3

Sumber gambar: http://infotrainingkonsultan.com/konsultan-smk3-2/

Pasca Audit SMK3

Ketika audit selesai, kita harus kembali memonitor temuan-temuan audit yang nanti kemungkinan akan ditanyakan lagi dalam waktu 3 tahun. Kita dapat meminta sertifikat audit dari Badan Audit sekitar 1 bulan setelah audit namun untuk bendera SMK3 dan sertifikat SMK3 dari Menteri biasanya akan diserahkan ketika malam penganugerahan K3 yang hanya ada 1 kali setiap tahunnya.

Saya harus tekankan di sini, SMK3 bukanlah sebuah tujuan. SMK3 hanya sebuah alat untuk mencapai tujuan kita yang sesungguhnya yaitu mencapai keselamatan dan kesehatan bagi seluruh pekerja. Jangan puas dan tetaplah waspada meskipun kita telah mendapatkan SMK3.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 38 Tahun 2017 tentang Pemeriksaan Keselamatan Pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peraturan baru yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 38 Tahun 2017 tentang Pemeriksaan Keselamatan pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi. Peraturan ini mengatur tentang pemeriksaan rangkaian peralatan dalam khusus untuk usaha minyak dan gas bumi yang melingkupi penelaahan desain, inspeksi dan pemeriksaan keselamatan, analisis risiko, dan perpanjangan sisa umur layan.

Peraturan ini sekaligus menggantikan Peraturan Menteri Pertambangan Nomor 05/P/PERTAMB/1977 tentang Kewajiban Memiliki Sertifikat Kelayakan Konstruksi untuk Platform Minyak dan Gas Bumi di Daerah Lepas Pantai, Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 06/P/0746/M.PE/1991 dan semua penetapan tentang pelaksanakaann Tera dan Tera Ulang, Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya yang dipergunakan dalam operasi pertambangan Minyak dan Gas Bumi yang telah ada sebelum berlakunya peraturan ini.

Silakan unduh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 38 Tahun 2017 tentang Pemeriksaan Keselamatan pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi di sini

 

Selamat Hari K3 Dunia 2017 : Optimasi Pengumpulan dan Penggunaan Data K3

Tanggal 28 April merupakan hari K3 dunia yang telah dirayakan oleh International Labor Organization (ILO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2003. Tahun 2017, ILO merayakan hari K3 dunia dengan membawa tema “OPTIMIZE THE COLLECTION AND USE OF OSH DATA “ (Optimasisasi Pengumpulan dan Penggunaan data K3).

ILO memperkirakan terdapat data 2.3 juta kematian dan 300 juta kecelakaan yang menyebabkan luka terjadi di seluruh tempat kerja selama setahun. Perkiraan ini tidak sepenuhnya menggambarkan besaran masalah yang ada dan juga tidak menggambarkan dampak tidak langsung kecelakaan terhadap pekerja, keluarga, dan ekonomi. Data kecelakaan secara nasional yang lebih baik dibutuhkan agar kita dapat mengerti dimensi dan konsekuensi dari kecelakaan, luka dan penyakit sehingga kita dapat membuat program kebijakan yang efektif dan strategi untuk tempat kerja yang sehat dan selamat.

Negara dengan data K3 yang baik akan dapat lebih mudah untuk memenuhi komitmen penerapan dan pelaporan terhadap rencana global untuk mengurangi kemiskinan, melindungi planet dan menjamin kesejahteraan sesuai dengan Sustainable Development Goal 2017 dalam tujuan ke-8 yaitu: “Inclusive and sustainable economic growth, full and productive employment and decent work for all ” yang berfokus pada perlindungan terhadap hak pekerja dan promosi terhadap lingkungan kerja yang Selamat dan aman.

Poster Hari K3 se-Dunia tahun 2017 bisa diunduh di sini, presentasi bisa diunduh di sini, materi toolbox bisa diunduh di sini, dan factsheet bisa diakses ke sini.

Selamat Hari K3 Dunia! Semoga Indonesia bisa lebih Selamat dan sehat