Kesehatan kerja

Penggunaan Masker di Masyarakat, Amankah?

Pagi ini, saya dikejutkan oleh berita tentang gugatan studi yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan kepada seorang pemenang nobel bidang kimia tentang penggunaan masker di masa pandemi Covid-19. Gugatan tersebut dilakukan karena sekelompok ilmuwan tersebut merasa bahwa narasi penggunaan masker bisa menurunkan awareness masyarakat mengenai physical distancing. Gugatan tersebut menyebutkan bahwa para ahli khawatir masyarakat akan tetap berkerumun asal telah menggunakan “masker”. Masyarakat merasa aman karena telah menggunakan pelindung pernafasan tersebut.

WHO (2020) telah menyatakan bahwa Corona Virus akan cepat menyebar dengan kategori 3C, yaitu crowd (kerumunan), closed Space (area tertutup), dan close Contact (kontak dekat). Kerumunan/keramaian merupakan salah satu faktor tinggi yang dapat menyebabkan Corona Virus cepat menyebar.

Tetap menggunakan masker di tempat umum

Corona Virus dapat dikategorikan sebagai bahaya biologi, meskipun ada beberapa ahli yang masih memperdebatkan status “kehidupan” virus. Virus adalah peralihan antara benda mati dan makhluk hidup. Virus memerlukan “inang” untuk dapat hidup dan bereproduksi. Dalam hal ini, inang tersebut adalah manusia atau bisa dikatakan juga bahwa manusia adalah korban (bagi yang tidak terinfeksi) sekaligus sumber hazard (bagi yang sudah terinfeksi).

Pengendalian Virus Corona

CDC (2020) menyatakan bahwa bahaya dapat dikendalikan dengan menerapkan prinsip hirarki kontrol yang terdiri dari eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan penggunaan APD. CDC (2020) juga menyatakan bahwa semakin ke belakang, efektivitas dari suatu pengendalian tersebut semakin berkurang.

Penggunaan desinfektan dalam berbagai hal merupakan contoh implementasi eliminasi karena fokus utama pengendalian ini adalah membunuh virus. Berbagai macam studi telah menyatakan bahwa penggunaan desinfektan memang dapat membunuh virus, akan tetapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Desinfektan dapat mengiritasi dan meracuni manusia apabila salah digunakan. WHO (2020) bahkan pernah mengeluarkan larangan untuk menggunakan bilik desinfektan karena prinsip penggunaan bilik desinfektan memungkinkan bahan kimia tersebut kontak langsung terhadap tubuh manusia.

Penerapan Work from Home (WFH) dapat dikategorikan sebagai implementasi substitusi. WFH mengganti metode kerja yang dulu harus dikerjakan secara konvensional menjadi cara yang lebih baru. Tujuannya tentu saja untuk meminimalisir exposure terhadap virus yang bisa saja berada dalam tubuh rekan kerja.

Penerapan physical distancing merupakan implementasi dari engineering control yang kurang lebih berfokus bahwa bahaya harus di “isolasi”. Manusia yang berperan ganda sebagai “sumber hazard” dan “korban” harus dipisahkan sehingga si virus tidak bisa menemukan “inang” baru.

Kebijakan pemerintah yang mulai membuka ruang publik dengan alasan ekonomi, membuat beberapa konsekuensi. Salah satu contoh konsekuensi tersebut adalah pembukaan secara serentak menjadikan KRL di Jabodetabek yang notabene merupakan alat transportasi masal utama menjadi penuh sesak. Physcial distancing mustahil untuk dilakukan dalam hal ini. Kebijakan penerapan Flexible Working Hour (FWH) merupakan salah satu contoh implementasi penerapan administrative control untuk mengatasi mobilitas penduduk secara bersamaan di waktu yang bersamaan.

Penggunaan masker tentu saja merupakan contoh implementasi APD (Alat Pelindung Diri). Virus yang berukuran sangat kecil membutuhkan sistem pelindung pernafasan khusus yang dapat mencegah virus tersebut masuk menuju tubuh manusia. Respiratory system tersebut idealnya memiliki beberapa lapis filter yang dapat “menangkap” virus.

penggunaan masker
Penggunaan masker penanggulangan corona

Masker yang banyak beredar di masyarakat terbuat dari kain yang terdiri dari serat-serat. Jika dipikirkan, virus yang berukuran sangat kecil tentu masih sangat mungkin untuk “menembus” sela-sela tersebut. Jika kita tinjau menurut hirarki pengendalian, penggunaan masker (APD) tidak efektif jika dibandingkan dengan penerapan physical distancing (engineering control) dengan caa menghindari keramaian (crowd). Kita dapat menyimpulkan bahwa penggunaan masker di masyarakat hanya memberikan rasa aman “palsu”, apalagi jika masyarakat tetap berpergian ke tempat ramai dan tertutup, berkerumun, dan melakukan kontak langsung.

Seyogyanya promosi kesehatan yang harus dilakukan berfokus dan menitikberatkan terhadap kebijakan pembatasan kontak antar individu (physical distancing) daripada penggunaan masker. Penggunaan masker adalah langkah terakhir dan paling tidak efektif untuk mencegah pajanan terhadap virus corona.

REFERENSI

WHO. 2020. Advice on the use of masks the community, during home care and in health care settings in the context of the novel coronavirus (2019-nCoV) outbreak

CDC. 2020. Hierarchy of Controls. Available from: https://www.cdc.gov/niosh/topics/hierarchy/default.html (Accessed 17 June 2020)

Tampilan Penuh

Fandita Maharani

Dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di UPN Veteran Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close