Hygiene IndustriKesehatan kerja

Bagaimana Cara Menghadapi Stress Kerja di tengah Pandemi Covid-19?

Sebagian besar tempat kerja perlahan-lahan mulai beroperasi secara normal dan tentunya para pekerja sudah banyak yang bekerja tidak lagi dari rumah, namun dari kantor seperti sedia kala. Bekerja dari rumah maupun dari kantor di tengah pandemi seperti ini tentunya banyak mengubah cara kita bekerja dan tentunya berpengaruh pula pada pilihan mode transportasi yang kita gunakan untuk sampai di tempat kerja untuk meminimalisir risiko terpapar virus SARS Cov-2 ini. Tentu hal ini bisa menimbulkan stress, rasa takut, dan kegelisahan yang begitu besar untuk para pekerja.

Dilansir dari laman Forbes, Dr.Richard Citrin yang merupakan seorang psikolog organisasi, menyatakan bahwa stress itu hampir tidak mungkin untuk diatur sebab stress adalah reaksi tubuh kita terhadap lingkungan. Namun, kita harus menyadari saat diri kita mengalami stress dan belajar bagaimana menghadapinya.

Sebagai pekerja, kita juga harus mengetahui bahwa stress akibat kerja dapat menyebabkan burn-out. Apakah burn-out itu? Menurut WHO, burn-out merupakan fenomena psikologis terkait pekerjaan namun tidak diklasifikasikan sebagai kondisi medis tertentu. Dalam International Classification of Disease (ICD-11), burn-out didefinisikan sebagai sindrom sebagai akibat dari stress kronis di tempat kerja yang belum berhasil untuk diatasi oleh pekerja itu sendiri. Burn-out ditandai dengan tiga hal, yaitu merasa begitu lelah dan kehabisan energi, merasa negatif terhadap pekerjaan diri sendiri dan orang lain, serta berkurangnya profesionalisme. Hal ini begitu membahayakan, bukan? Oleh karena itu, mari kita kenali apa saja gejala stress akibat kerja dan bagaimana cara mengatasinya.

stress kerjaSource: The New York Times, 2020.

Menurut CDC dalam pedoman yang dirilis baru-baru ini,  gejala-gejala stress pada umumnya yaitu adanya perasaan marah, denial, tidak yakin, gugup, gelisah, berkurangnya motivasi, merasa sangat lelah, sedih atau depresi, mengalami masalah dengan jam tidur, serta kesulitan berkonsentrasi.

Adapun hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan menambah risiko stress kerja di tengah pandemi ini diantaranya rasa takut akan risiko terpapar virus saat di tempat kerja, harus merawat dan memenuhi kebutuhan keluarga saat harus bekerja dari rumah, mengatur beban kerja yang berbeda dari biasanya, kurangnya akses dan fasilitas yang memadai untuk menyelesaikan pekerjaan, misalnya koneksi internet yang buruk dari rumah, merasa bahwa diri kita tidak berkontribusi banyak terhadap pekerjaan, keharusan untuk mempelajari berbagai sarana komunikasi yang baru dan menghadapi kendala-kendala teknis yang menganggu kelancaran komunikasi saat harus bekerja dari rumah, serta beradaptasi dengan jadwal kerja yang tidak menentu dengan ruang kerja yang tidak begitu memadai dari rumah.

Nah, bagaimana cara menghadapi stress kerja di tengah pandemi ini? CDC merekomendasikan bahwa pekerja dapat mengkomunikasikan apa yang dialami pada atasan, supervisor, maupun kepada rekan kerja dengan tetap menjaga jarak (6 feet atau sekitar 2 meter) jika harus bertemu secara langsung.

Kemudian, identifikasi apa saja hal-hal yang membuat stress selama pandemi ini dan komunikasikan secara jelas dan jujur kepada atasan dan tanyakan apakah ada akses ke fasilitas-fasilitas yang menunjang kesehatan mental dari perusahaan. Identifikasi apa saja hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dan fokus saja pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, berusaha untuk konsisten dengan jadwal yang kita miliki sejak sebelum pandemi, misalnya mengikuti jadwal tidur seperti sedia kala, berolahraga dan menyempatkan diri untuk menikmati udara luar sambal tetap menggunakan masker dan menjaga jarak iika harus bertemu dengan teman atau kolega. Jika masih bekerja dari rumah, ada baiknya jika memiliki jadwal rutin seperti jadwal bekerja dari kantor dan yang tidak kalah penting yaitu sempatkan diri untuk melakukan hal-hal yang disukai pada saat di luar jam kerja.

perempuan stress kerjailustrasi stress kerja

Selain itu, ada baiknya kita pun membatasi diri dari terlalu banyak menonton, membaca, dan mendengar berita-berita dari sosial media. Mendengar berita mengenai pandemi secara berulang-ulang dan terus menerus akan sangat melelahkan. Walaupun akses terhadap sosial media dibatasi, kita harus tetap siaga dan update informasi mengenai fakta-fakta yang terjadi mengenai COVID-19. Alangkah baiknya jika ingin membagikan informasi kepada orang-orang terdekat, dipastikan terlebih dahulu apakah informasinya akurat atau tidak. Kemudian, sangat disarankan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang saat ini sedang menghadapi situasi sulit. Oleh karena itu, saling mengecek kondisi rekan kerja melalui telepon, email, pesan singkat, atau video-call bisa menjadi alternatif untuk mengurangi stress akibat kerja di tengah pandemi.

REFERENSI

CDC. 2020. Employees: How to Cope with Job Stress and Build Resilience During the COVID-19 Pandemic. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/mental-health-non-healthcare.html (Accessed: July 6, 2020).

Goldbaum, Christina. 2020. Returning to Work on the Subway? Here’s What You Need to Know. Available from: https://www.nytimes.com/2020/06/08/nyregion/mta-subway-riding-health-coronavirus.html?auth=login-facebook (Accessed: July 6, 2020).

Ryan, Robin. 2020. How to Manage Workplace Stress Dealing with Coronavirus Pandemic. Available from: https://www.forbes.com/sites/robinryan/2020/03/17/how-to-manage-workplace-stress-dealing-with-the-coronavirus-pandemic/#631ac59564d6 (Accessed: July 6, 2020).

WHO. 2019. Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. Available from: https://www.who.int/mental_health/evidence/burn-out/en/ (Accessed: July 6, 2020).

Tampilan Penuh

Cynthia Maharani

Doctoral degree in public health at the University of Iowa. Lecturer and researcher at Binawan University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close