Kesehatan kerja

Kesehatan Kerja : Pengertian, Sejarah dan Dasar Hukum

Kesehatan kerja menjadi semakin populer belakangan ini terutama karena adanya wabah COVID-19 yang juga mengancam para kesehatan para pekerja di tempat kerja. Tulisan ini akan fokus membahas tentang kesehatan di tempat kerja yang mencakup pengertian, sejarah, dasar hukum dan upaya.

Pengertian Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja adalah upaya untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan pada derajat tertinggi baik secara fisik, mental, maupun kesejahteraan sosial bagi para pekerja di semua pekerjaan; pencegahan terhadap gangguan kesehatan di antara pekerja yang disebabkan oleh kondisi mereka; perlindungan terhadap faktor risiko yang berdampak pada kesehatan; penempatan dan pemeliharaan pekerja di lingkungan kerja dengan menyesuaikan peralatan fisiologisnya; sebagai kesimpulan yaitu penyesuaian antara pekerjaan kepada manusia dan manusia kepada pekerjaannya (Committee 1995, ILO dan WHO). Kesehatan di tempat kerja berkaitan dengan semua aspek K3 di tempat kerja yang memiliki fokus utama pada pencegahan terhadap bahaya.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 1, kesehatan merupakan keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial setiap orang yang memungkinkan untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Di tempat kerja, baik sektor formal maupun informal tentu kita menjumpai hazard atau bahaya. Banyak proses kerja yang mengharuskan kita untuk berinteraksi dengan hazard tersebut, seperti kita menghampiri hazard atau sebaliknya bahkan keduanya saling menghampiri. Dengan demikian pekerja berisiko tinggi terpapar dengan hazard tersebut.

Apa yang dimaksud dengan hazard dan risiko?

Hazard merupakan sumber energi yang dapat berpotensi menimbulkan kerugian atau kerusakan. Sedangkan, risiko adalah kemungkinan di mana kerusakan atau kerugian dapat terjadi apabila sudah terjadi kontak antara hazard dengan individu. Secara singkat, risiko itu adalah kemungkinan untuk terjadinya kerugian.

Keilmuan kesehatan di tempat kerja sangat berguna untuk mendalami masalah keterkaitan antara pekerjaan dengan kesehatan seperti efek suatu hazard tertentu di tempat kerja, status kesehatan, dan kapasitas pekerja untuk melakukan tugas. Dengan begitu, kita dapat mengarahkan ke tindakan yang lebih efektif dalam pembuatan program di tempat kerja, yaitu dengan fokus pada pencegahan daripada pengobatan.

Pencegahan ini dapat berupa promosi dan pemeliharaan fisik, mental, maupun sosial pekerja pada jabatan apapun. (Kurniawidjaja,2016)

Sejarah Kesehatan Kerja

Pada mulanya, kesehatan di tempat kerja berkembang dari kesadaran bahwa bekerja dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja. Berikut adalah poin-poin sejarah Kesehatan kerja yang dikutip dari Kurniawidjaja (2007):

  • Pada jaman pra-sejarah, orang Mesir telah mengenal manfaat cadar bagi perlindungan respirasi saat menambang cinabar (red mercury oxide)
  • di Arabia ada catatan tentang efek sinar matahari pada pekerja di tambang raja Solomon. Pada abad pertengahan sebelum abad ke-19
  • Georgius Agricola (1494-1555) dari Bohemia menemukan pekerja tambang dengan gejala silikosis. Untuk mencegah penyakit tersebut, Dia menganjurkan tentang pentingnya kebersihan udara di lingkungan kerja, dan menulis buku Of Things Metallic; Theophrastus Bombastus van Hohenheim
  • Paracelsus (1493-1541) dari Austria, menyadari hubungan dosis-respons antara kejadian penyakit pada pekerja pengecoran logam dan beratnya penyakit. Hal tersebut telah menjadi dasar perkembangan disiplin ilmu toksikologi.
  • Bernardino Ramazini (1633-1714), seorang professor di Modena, menulis buku yang berjudul A Diatribe on Diseases of Workers yang membahas penyakit yang terdapat di kalangan pekerja. Kepada para dokter ia menekankan agar selalu bertanya kepada pasien tentang pekerjaan mereka. Dia dikenal sebagai ‘Bapak Kesehatan Kerja’ karena prestasi dan jasanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan para pekerja.
  • Pada jaman revolusi industri, Percivall Pott (1766) menyatakan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan, yaitu kanker skrotum yang banyak ditemukan pada pembersih cerobong asap batubara. Sekarang diketahui bahwa penyebabnya adalah senyawa PAHs/polinuklear aromatik hidrokarbon yang terdapat dalam jelaga cerobong.

Banyak upaya kesehatan kerja yang telah dirintis dan tercatat dalam sejarah:

  • Di Eropa, pada abad ke-19, Anthony Ashley Cooper, 7th Earl of Shaftesbury (1801-1885) menurunkan jam kerja dan meningkatkan kondisi kerja bagi pekerja anak dan wanita di tambang, pabrik dan di tempat kerja lainnya;
  • Dr. Thomas Percival (1740-1804) melaporkan tentang pekerja anak di pabrik tekstil;
  • Robert Owen (1771-1858) memberlakukan kondisi kerja yang baik di pabrik tekstilnya.
  • Legislasi di pabrik dimulai oleh Sir Robert Peel Sr. (1788- 1850); tercatat pula Sadler (1780-1835) yang mendukung perubahan pada parlemen.
  • Dr Thomas Legge (1863-1932) adalah inspektor pabrik yang pertama di Inggris dan penulis buku Industrial Maladies (1934).
  •  Beberapa nama yang juga tercatat banyak berperan di bidang kesehatan di tempat kerja di negeri mereka antara lain Erisman (1842-1915) di Rusia; dan Hamilton (1869-1970) di Amerika yang banyak meneliti tentang keracunan timah hitam.

Bersamaan dengan perkembangan modernisasi dan industri secara pesat, terjadi perubahan pola penyakit pada populasi umum dan populasi pekerja. Perubahan tersebut terjadi dari penyakit-penyakit infeksi menjadi penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat, terutama adalah penyakit pembuluh darah (misalnya penyakit jantung koroner dan stroke), keganasan, penyakit metabolisme dan penyakit degeneratif otot dan tulang rangka.

kesehatan kerja untuk pemetik bunga
Posisi membungkuk dapat mengakibatkan gangguan tulang dan rangka

Beberapa “penyakit modern” yang berhubungan sangat erat dengan gaya hidup tidak sehat tersebut banyak menyerang pekerja, terutama yang bekerja di perkantoran yang kurang aktivitas fisik.

Dengan demikian, selain kecelakaan dan penyakit terkait kerja yang menimbulkan kerugian dan menurunkan produktivitas, ternyata penyakit kardiovaskular juga menimbulkan kerugian yang jauh melampaui kerugian yang ditimbulkan oleh KAK/PAK.

Gabungan tersebut diperkirakan telah menyebabkan kerugian sebesar 20% GDP global. Di Indonesia, Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 menemukan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama di Indonesia (24,5%), lebih tinggi daripada penyakit infeksi (22,5%).

Hal serupa ditemukan pula pada populasi pekerja di beberapa perusahaan besar seperti di Pertamina dan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.7,8 Oleh sebab itu, pada dekade terakhir ini, upaya kesehatan di tempat kerja selain berupaya melindungi pekerja agar tidak mengalami KAK dan PAK, juga melakukan upaya memelihara dan meningkatkan derajat Kesehatan pekerja dan kapasitas kerja dengan melakukan promosi kesehatan terutama perilaku hidup

Dasar hukum kesehatan kerja

Kesehatan Kerja di Indonesia, telah diatur dalam UU No.36 Tahun 2009 Bab XII tentang Kesehatan Kerja dari Pasal 164 sampai 166 dan PP No. 88 tahun 2019 yang berisikan upaya untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan, serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan.

Siapa yang bertanggung jawab atas kesehatan di tempat kerja?

UU No. 36 Tahun 2009 menyebutkan bahwa:

  • Upaya kesehatan di tempat kerja meliputi pekerja di sektor formal dan informal
  • Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan di tempat kerja dan menjamin lingkungan kerja yang sehat
  • Pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja
  • Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja
  • Pengelola tempat kerja wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja.
Uap las berbahaya untuk kesehatan pengelas

Upaya kesehatan di tempat kerja

PP No. 88 Tahun 2019 menyebutkan upaya kesehatan kerja meliputi:

Upaya Pencegahan PenyakitIdentifikasi, penilaian, dan pengendalian potensi bahaya kesehatan, Pemenuhan persyaratan kesehatan lingkungan kerja, Perlindungan kesehatan reproduksi, Pemeriksaan kesehatan, Penilaian kelaikan bekerja, Pemberian imunisasi dan/atau profilaksis bagi pekerja berisiko tinggi, Pelaksanaan kewaspadaan standar, Surveilans kesehatan di tempat kerja
Upaya Peningkatan KesehatanPeningkatan pengetahuan kesehatan, Pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat, Membudayakan keselamatan dan kesehatan tempat kerja, Penerapan gizi kerja, Peningkatan kesehatan fisik dan mental
Upaya Penanganan PenyakitPertolongan pertama pada cedera dan sakit yang terjadi di tempat kerja, Diagnosis dan tata laksana penyakit (hasil penilaian kecacatan pada diagnosis dan tata laksana penyakit digunakan untuk mendapatkan jaminan kecelakaan kerja), Penanganan kasus kegawatdaruratan medik dan/atau rujukan
Upaya Pemulihan KesehatanPemulihan medis → dilaksanakan sesuai kebutuhan medis
Pemulihan kerja → dilaksanakan melalui program kembali bekerja

Referensi:

Ilo.org. 2011. [online] Available at: <https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—americas/—ro-lima/—sro-port_of_spain/documents/presentation/wcms_250188.pdf> [Accessed 1 April 2021].

Jdih.kemenkeu.go.id. n.d. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. [online] Available at: <https://jdih.kemenkeu.go.id/fullText/2009/36TAHUN2009UU.htm> [Accessed 30 Maret 2021].

Jdih.kemnaker.go.id. 2019. [online] Available at: <https://jdih.kemnaker.go.id/data_puu/PP_Nomor_88_Tahun_2019.pdf> [Accessed 30 Maret 2021].

Kurniawidjaja, M. (2007). Filosofi dan Konsep Dasar Kesehatan Kerja Serta Perkembangannya dalam Praktik. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 243-251.

Tampilan Penuh

Dina Zuliana

Mahasiswa K3 UI Angkatan 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button