Kompetensi K3

Kisah Memilih K3 FKM UI

Saya menjadi tertawa sendiri sekaligus terharu ketika saya mengingat kembali proses bagaimana saya memilh Fakultas Kesehatan Masyarakat sebagai pilihan pertama saya ketika Ujian Masuk Bersama (UMB) tahun 2008. Saya pernah menyampaikan kisah ini kepada teman-teman satu angkatan saya, hampir semuanya tertawa dan bertepuk tangan ketika saya selesai menceritakan kisah saya. Berikut adalah kisah saya.

Saat itu saya kelas 3 SMA dan mengikuti bimbingan belajar di Nurul Fikri (NF). Pada mulanya ,saya tidak begitu antusias mengikuti bimbingan belajar di NF karena selain menyita waktu, tempatnya pun sangat jauh dari rumah saya dan membutuhkan 45 menit untuk sampai ke sana. Satu-satunya alasan saya dapat bertahan di NF : orang tua.

Orang tua saya beralasan bahwa jika saya tidak masuk bimbel maka uang yang telah mereka bayar ke bimbel itu akan menjadi sia-sia. Sangat matrealistis sepertinya,tapi tak apalah. Dalam benak hati saya, saya takut dikutuk menjadi batu atau menjadi makhluk lain seperti dalam Majalah Hidayah apabila saya tidak menuruti kemauan mereka.

Versi video tulisan ini bisa diakses di

Mengikuti Bimbel

Anyway, saya tetap belajar di NF dengan keterpaksaan. Hasil keterpaksaan itu ialah nilai-nilai try out yang sangat jelek yaitu sekitar 400. Dengan nilai itu, untuk masuk UNSYIAH Aceh saja susah apalagi untuk masuk IPB yang menjadi PTN idaman saya saat itu.

Pernah suatu saat saya melihat seseorang di dalam bimbel memakai jaket yang bertuliskan “Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia”. Saya langsung beranggap bahwa dia adalah salah satu mahasiswa FKM UI. Di situlah awal saya mengetahui bahwa ada sebuah fakultas yang bernama Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Minggu demi minggu saya lalui dengan mengikuti bimbel di NF, kali ini saya mencoba mengubah persepsi saya tentang konsep keterpaksaan karena orang tua yang menjadi alasan saya ikut bimbel menjadi keterpaksaan karena ingin meraih masa depan yang lebih cemerlang dan ingin membahagiakan seorang ayah yang berkerja sebagai satpam serta seorang ibu yang membuka warung sambil menyusui bayi 1 tahun demi pendidikan saya.

Nilai-nilai try out saya pun semakin tinggi sampai akhirnya menyentuh angka 700 di beberapa try out menjelang UMB. Nilai itu membuat saya senang sekaligus bingung menentukan pilihan antara Teknik metalurgi atau kesehatan masyarakat. Jika saya menjadikan teknik metalurgi yang passing grade-nya 712, saya takut tidak bisa diterima di sisi lain jika saya diterima maka saya akan masuk salah satu jurusan favorit saya di UI. Jika saya menjadikan kesehatan masyarakat yang passing grade-nya 670, kemungkinan besar saya dapat masuk, namun saya saat itu merasa FKM UI tidak bonafit dan tidak memiliki prospek kerja yang jelas.

“Bingung!!!” adalah satu kata yang paling banyak melintas di pikiran saya waktu itu. Saya tak boleh mengambil keputusan yang salah saat itu karena pilihan ini sangat besar pengaruhnya pada masa depan saya. Akhirnya, saya memutuskan agar Allah saja yang memutuskannya. “Salat istikharah mungkin pilihan yang tepat” saya berbisik dalam hati saat itu. Pada akhir salat istikharah, saya tak lupa berdoa agar Allah memilih pilihan yang tepat.

Pertolongan Allah pun datang (lagi). Allah memberikan pertolongan itu saat pagi hari di jalan yang biasa saya lalui untuk berangkat sekolah. Di jalan itu saya melihat seseorang laki-laki bersepeda motor menggunakan jaket bertuliskan faculty of public health. Kebetulan yang sangat aneh dan menginspirasi. Saya dengan mantap memutuskan untuk menjadikan FKM UI sebagai pilihan saya.

Memilih Peminatan K3

Pada tahun 2008-2009, Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia masihlah berstatus “Peminatan” yang berarti kita bisa memilih masuk K3 langsung tanpa harus mengikuti tes lagi. Sehingga, saya bisa langsung masuk Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada saat itu.

memilih K3 FKM UI
Salah satu kegiatan K3 FKM UI

Saya masuk Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan pertimbangan bahwa K3 sesuai dengan keilmuan yang kuasai dan juga kondisi tempat tinggal saya di Bekasi yang banyak industri sehingga saya bisa melamar pekerjaan di Bekasi.

Belakangan, K3 menjadi salah satu “Jurusan” di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di mana kita harus memilihnya saat seleksi masuk universitas.

Baca Tulisan

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Health and Safety Manager di Perusahaan Multinasional, Master Degree di Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia. Selalu senang untuk berdiskusi terkait dengan K3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button