Uniknya K3

7 Tekhnologi Matahari untuk Masa Depan Indonesia

Indonesia tengah menghadapi perubahan iklim yang membahayakan. Pada Oktober 2015, ketika Riau, Jambi dan Sumatera Selatan sedang menghadapi musim kemarau berkepanjangan yang membuat asap kebakaran hutan sampai hingga Filipina dan Malaysia, justru daerah Aceh dan Medan sedang menghadapi curah hujan tinggi sehingga membuat banjir setinggi 2 meter. Sementara itu di Ibukota, saat ini kita merasakan musim kemarau yang kaya akan hujan dan sebelumnya telah merasakan musim hujan yang sedikit curah hujannya.

Salah satu penyebab perubahan iklim adalah efek rumah kaca yang dipicu dari pembuangan gas karbon dioksida. Produksi gas karbon dioksida ini sebagian besar berasal dari aktivitas manusia seperti penggunaan energi fosil dan transportasi.

Berdasarkan Indonesia Second National Communication under the UNFCCC, emisi karbon dioksida (CO2) dari sektor energi meningkat tajam dari tahun 2000 hingga 2005. Di tahun 2000, sektor energi menghasilkan sekitar 200,000 gG CO2 yang mencapai 300.000 gG in 2005 di tahun 2005. Ini berarti bahwa emisi karbon doksida meningkat sekitar 50% hanya dalam kurun waktu lima tahun.

Kita harus memulai langkah untuk mengatasi masalah ini sebelum bertambah buruk ke depannya. Sebuah langkah alternatif energi yang ramah lingkungan, terbarukan, serta tersedia dalam jumlah banyak mutlak diperlukan. Salah satu energi yang sesuai dengan kriteria energi alternatif tersebut adalah energi dari sinar matahari.

Berikut adalah 7 pemanfaatan energi matahari untuk teknologi masa depan:

  1. Mobil Surya

Toyota menjadi salah satu penggagas untuk mobil yang menggunakan tenaga surya. Lewat Toyota Prius  di tahun 2011, Toyota telah memulai penggunaan tenaga surya melalui panel surya yang dipasang di atap yang digunakan sebagai pendingin kabin mobil ketika cuaca terik. Toyota Prius bahkan telah mendapatkan 2 kali penghargaan sebagai “Car Of The Year Japan”.

Ke depannya, Toyota Prius sangat layak dikembangkan di Indonesia karena ketersediaan sinar matahari sepanjang tahun. Belum lagi, sudah ada penelitian yang menghasilkan panel surya yang bisa mengkonversi listrik dari rintik hujan yang turun sehingga semua kondisi cuaca bisa menghasilkan energi bagi mobil.

Gambar 1. Toyota Prius

  1. Pembangkit listrik tenaga surya

Sebagai negara tropis, Indonesia tentunya dianugerahi cahaya matahari yang sangat banyak. Namun, cahaya matahari ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Padahal Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 Giga Wp, namun yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 Mega Wp.

Angka 10 Mega Wp di atas sesungguhnya masih bisa ditingkatkan lebih jauh lagi. Berdasarkan riset, 6 dari 10 negara konsumen energi surya terbesar justru berasal dari negara 4 musim dengan cahaya matahari sedikit dan luas wilayah kurang dari Indonesia. Korea Selatan misalnya menghasilkan 2398 Megawatt dari panel surya, Belgia sudah menghasilkan 3156 Megawatt sementara Jerman menghasilkan 38.250 Megawatt.

Gambar 2. Panel Surya di Jalur Kereta Belgia

  1. Pengolah Limbah Tenaga Surya

Sebuah inovasi ramah lingkungan telah dilakukan oleh Loreal Manufacturing Indonesia yang berlokasi di Cikarang. Perusahaan tersebut membangun sebuah rumah kaca untuk mengelola limbah lumpurnya (sludge). Panas matahari yang terperangkap di dalam rumah kaca tersebut digunakan untuk mengeringkan limbah sebagai hasil samping produksi. Hasilnya, 50-80% air bisa dipisahkan dari lumpur, sehingga diperoleh limbah murni berupa pasir yang jauh lebih ringan daripada limbah lumpur sekaligus bisa menjadi bahan bakar alternatif.

Inovasi ini tentunya bisa diimplementasikan juga di perusahaan lain karena inovasi ini selain ramah lingkungan, bisa juga menghemat pengeluaran untuk pengelolaan limbah ataupun juga bisa sebagai bahan bakar alternatif.

Gambar 3. Pabrik Loreal

  1. Kulkas bertenaga surya

Salah satu masalah dari sinar matahari adalah radiasi panas yang membuat suhu meningkat sehingga sebagian orang tidak menyukai berjalan di siang terik. Namun, kini sudah muncul teknologi yang mengubah terik matahari menjadi dingin yang membeku.

Adalah Sun Frost, sebuah perusahaan di Amerika, telah memproduksi kulkas yang menggunakan energi matahari. Kulkas ini mampu mendinginkan hingga membeku dengan efisiensi hingga 80% dan pemakaian energi hanya 15 kwh. Kulkas dari energi matahari ini bisa menjadi solusi bagi distribusi vaksin di Afrika atau di negara yang kaya cahaya matahari namun terbatas dalam listrik lainnya di masa depan.

Gambar 4. Kulkas SunFrost

  1. Kompor surya

Sebagian besar wilayah Indonesia masih menggunakan energi fosil berupa LPG atau minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak. Penggunaan energi fosil ini masih menyisakan masalah berupa emisi karbon dioksida yang dihasilkan sebagai pembakaran energi fosil.

Sebuah kompor dari energi matahari, bernama Go Sun, bisa menjadi jawaban dari permasalahan di atas. Go Sun merupakan kompor yang mengandalkan sepenuhnya energi dari cahaya matahari. Go Sun sangat praktis karena bentuknya yang kecil, dapat di bawa (portable), dan bahkan dapat digunakan ketika matahari di musim dingin. Go Sun ini telah mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak seperti PBB, BBC media dan National Geoghraphic.

Gambar 5. Kompor Go Sun

  1. Desalinator Tenaga Surya

Salah satu permasalahan utama untuk masyarakat pantai adalah ketersediaan air tawar bersih. Mereka mungkin memiliki banyak air dari laut tapi air laut tidak bisa dikonsumsi secara langsung sehingga butuh untuk disuling.

Sebuah start up di Inggris bernama telah membuat adalat penyuling air yang bernama Desolenator. Alat ini menggunakan membrane khusus untuk menyaring partikel yang berbahaya dari air kemudian menggunakan tenaga matahari sepenuhnya untuk memanaskan tabung air sehingga akan muncul uap-uap air. Uap air inilah yang kemudian ditangkap untuk menjadi air bersih. Alat ini mampu untuk menghasilkan 15 liter air setiap harinya

Gambar 6. Desalinator tenaga Surya

  1. Produksi Air Tenaga Surya

Di gurun, ketersediaan air sangat sedikit namun keberadaan cahaya matahari sangat banyak. Salah satu tekhnologi yang sedang dikembangkan untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan Solar Still (alat untuk memproduksi air tenaga surya).

Prinsip kerja solar still mirip seperti Desalinator yaitu dengan menguapkan air yang ada di kelembaban tanah kemudian mendinginkan uap air tersebut sehingga terjadi tetesan embun yang dikumpulkan dalam wadah. Air yang dikumpulkan ini merupakan air bersih yang siap diminum.

Gambar 7. Prinsip Kerja Solar Still

Energi matahari merupakan energi yang sudah lama ada namun belum dimanfaatkan sepenuhnya. Energi  matahari ini merupakan energi yang murah, ramah lingkungan dan besar sehingga layak untuk dikembangkan di masa depan. Pengembangan energi matahari ini harus juga memperhatikan aspek ekonomi sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang di Indonesia di masa depan.

Tulisan blog ini ditujukan untuk mengikuti lomba blog Imajinesia. Dapatkan hadiah berupa merchandise dari Toyota Motor Manufacturing Indonesia dengan hanya vote tulisan ini dengan klik di sini.

 

Referensi:

BBC, 2015. Kabut asap membuat pemerintah Indonesia ‘terpojok’. [Online] Available at: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151008_indonesia_pemerintah_terpojok
[Accessed 12 July 2016].

ESDM, n.d. Matahari untuk PLTS Indonesia. [Online] Available at: http://esdm.go.id/berita/56-artikel/5797-matahari-untuk-plts-di-indonesia-.html?tmpl=component&print=1&page=
[Accessed 12 Jul 2016].

Go Sun, 2016. Go Sun Stove. [Online] Available at: http://www.gosunstove.com/
[Accessed 12 July 2016].

Harrington, R., 2016. These 10 countries are leading the world in solar energy. [Online] Available at: http://www.techinsider.io/best-solar-power-countries-2016-3
[Accessed 12 Jul 2016].

Lavars, N., 2016. Desolenator churns out clean drinking water using solar power. [Online] Available at: http://www.gizmag.com/desolenator-clean-drinking-water-power-sun/35299/
[Accessed 18 December 2014].

Rogers, J., 2016. Electric rain? Solar panel turns raindrops into power. [Online] Available at: http://www.foxnews.com/tech/2016/04/11/electric-rain-solar-panel-turns-raindrops-into-power.html
[Accessed 12 July 2016].

Sekertariat RAN-GRK, 2012. Energi Profil Indonesia. [Online] Available at: http://ranradgrk.bappenas.go.id/rangrk/informasi-sektoral/energii
[Accessed 12 Jul 2016].

serambinews.com & Wiguna, R., 2015. http://aceh.tribunnews.com/2015/10/19/banjir-di-medan-selayang-mencapai-atap-rumah. [Online] Available at: http://aceh.tribunnews.com/2015/10/19/banjir-di-medan-selayang-mencapai-atap-rumah
[Accessed 12 July 2016].

Sunfrost, n.d. Sunfrost. [Online] Available at: http://www.sunfrost.com/Sunfrost_refrigerators.pdf
[Accessed 12 July 2016].

Wahyuni, T., 2015. Limbah Produk Kecantikan Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif. [Online] Available at: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150930193635-277-81958/limbah-produk-kecantikan-bisa-jadi-bahan-bakar-alternatif/
[Accessed 12 July 2016].

Wikipedia, 2016. Solar Still. [Online] Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_still
[Accessed 12 July 2016].

Wikipedia, 2016. Toyota Prius. [Online] Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Toyota_Prius
[Accessed 12 July 2016].

 

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Health and Safety Manager di Perusahaan Multinasional, Master Degree di Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia. Selalu senang untuk berdiskusi terkait dengan K3

Komentar Anda?

Back to top button
Close