Kompetensi K3

Bagaimana Rasanya Kuliah K3 di Inggris dan Amerika Serikat?

Banyak di antara anak muda Indonesia yang memiliki cita-cita atau keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saya dalam tulisan ini hanya akan membahas pengalaman pribadi selama mengenyam kuliah K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) di Inggris dan Amerika Serikat.

kuliah k3
ilustrasi buku k3

Jujur saja, setelah kembali ke Indonesia selepas menamatkan S2 di University of Birmingham-Inggris Raya, saya sudah bertekad untuk tidak mengglorifikasi pencapaian yang saya dapatkan selama kuliah di luar negeri tersebut. Sebab, menurut saya pribadi, pilihan untuk melanjutkan kuliah atau tidak, kuliah ke luar negeri atau tidak, benar-benar tergantung pada tujuan karier kita ke depannya. Jika memang dirasa perlu untuk melanjutkan kuliah dan penting bagi kamu untuk kuliah ke luar negeri, maka kejarlah. Namun, jika dirasa melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan kuliah di luar negeri tidak berpengaruh begitu banyak terhadap karier dan tujuan hidupmu, maka tidak perlu merasa tertinggal dengan rekan-rekan atau orang lain yang sedang atau sudah menamatkan pendidikan S2 atau S3 sekalipun.

Kuliah K3 di University of Birmingham Inggris

Bidang keilmuan K3 di University of Birmingham untuk jenjang S2 saat saya mengenyam pendidikan disana pada tahun 2015 lalu bernama ‘The science of Occupational Health, Safety, and Environment’ dan berada dibawah naungan ‘School of Geography, Earth, and Environmental Science’ (jika di Indonesia, ini diibaratkan dengan fakultas). Saat ini, jurusan ini bernama ‘Health, Safety, and Environment Management’ dan berada dibawah fakultas yang sama. Jurusan K3 di University of Birmingham ini diakreditasi oleh Institution of Occupational Safety and Health yang merupakan salah satu organisasi terkemuka di dunia dalam bidang K3.

Mungkin sebagian besar orang bertanya-tanya mengapa jurusan K3 ini tidak berada dibawah fakultas kesehatan masyarakat seperti di Indonesia? Hal ini dikarenakan kuliah K3 di Birmingham ini terbilang cukup unik karena dirancang untuk menyesuaikan tujuan dan karier mahasiswa. Sebab tidak semua mahasiswa yang lulus S2 ingin melanjutkan ke jenjang PhD, banyak pula yang ingin menjadi praktisi. Oleh karena itu, program yang ditawarkan di Birmingham merupakan kombinasi antara teori dan praktik di lapangan. Modul-modul yang ditawarkan yaitu Environmental Protection and Climate Change, Safety Technology, Risk and Safety Management, Occupational Health and Hygiene, Chemical and Biological Incident Management, serta Research Methods and Dissertation.

University of Birmingham

University of Birmingham.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Periode kuliah di Inggris rata-rata hanya berlangsung selama satu tahun untuk jenjang pendidikan S2 sehingga jadwal belajar dan tugas yang diberikan cukup intens. Saat saya berkuliah disana, hampir setiap minggu selalu ada tugas dan kami diwajibkan untuk membaca cukup banyak jurnal-jurnal ilmiah. Adapun dari segi prakteknya, pada setiap mata kuliah selalu ada kunjungan lapangan dimana mahasiswa dituntut untuk mempraktekkan teori yang sudah diajarkan di kelas.

Tidak hanya itu, ekpektasi terhadap hasil belajar mahasiswa pun cukup tinggi sehingga wajib untuk belajar manajemen waktu secara efektif agar tugas-tugas dapat diselesaikan dengan baik. Bagi saya pribadi, kesulitan utama saat kuliah di Inggris adalah menyesuaikan dengan aksen Bahasa Inggris yang digunakan oleh para dosen serta teman-teman sekelas. Saat itu, saya mengalami kesulitan di dua minggu pertama kuliah untuk mendengar dan memahami apa yang disampaikan oleh dosen sebab logat yang digunakan oleh dosen di Inggris pada umumnya adalah british accent yang begitu cepat dan berbeda dengan aksen Bahasa Inggris pada umumnya. Teman-teman sekelas saya saat itu kebanyakan international students atau mahasiswa yang datang dari berbagai belahan dunia dan hanya ada dua orang Inggris asli di kelas saat itu.

Selepas menamatkan kuliah di Inggris, saya masih berkomunikasi dengan sangat baik dengan dosen-dosen dan pembimbing saya dulu. Bahkan, mereka membantu saya memberikan kritik dan saran saat saya menyusun proposal untuk melanjutkan ke jenjang PhD.

Melanjutkan kuliah K3 di Amerika Serikat

Singkat cerita, tiga tahun setelah saya menyelesaikan studi S2, saya saat ini tengah menjadi mahasiswa PhD di University of Iowa di Amerika Serikat. Saat saya menulis ini, saya baru akan memulai tahun kedua saya di jenjang ini pada bulan September 2020 nanti.

Untuk jenjang S3 di Amerika Serikat, rata-rata setiap jurusan sama, yaitu membutuhkan sekitar 5 tahun untuk selesai. Pada semester 1 sampai semester 5 nanti, saya masih harus mengambil mata kuliah selayaknya mahasiswa S2. Tidak seperti di Inggris, umumnya mahasiswa S3 bisa langsung melakukan riset sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jenjang studi S3 pun terlampau lebih cepat, yaitu 3 tahun.

Sebelum saya ke Amerika, saya pun sempat bertanya-tanya mengapa saya harus mengambil mata kuliah lagi yang kedengarannya materi-materinya sudah pernah saya dapatkan sebelumnya. Namun, ternyata saya salah besar. Banyak sekali hal-hal baru yang saya pelajari selama tahun pertama saya disini. Jika diibaratkan, kuliah di Inggris tahun 2015 silam itu saya seperti belajar berenang di permukaan, namun di Amerika saat ini saya seperti sedang belajar menyelam sampai ke dasar laut. Ekspektasi dan beban kuliah serta tugas yang diberikan memang jauh lebih banyak di Amerika dibandingkan saat saya kuliah di Inggris dulu. Jurnal-jurnal yang harus dibaca pun jauh lebih banyak.

Biasanya setelah saya menceritakan hal ini, beberapa kawan mengatakan mungkin karena jenjang studi saat ini adalah S3 sehingga tentu lebih menantang ketimbang saat S2 dahulu. Hal ini tidak sepenuhnya benar karena selama mengambil mata kuliah sejak semester 1 lalu, teman-teman sekelas saya adalah mahasiswa-mahasiswa PhD dan juga mahasiswa-mahasiswa S2.

University of IOWA

University of Iowa

Sumber: https://admissions.uiowa.edu/visit-campus

Berdasarkan hal tersebut, saya berasumsi bahwa kewajiban untuk mengambil mata kuliah dan tidak langsung terjun ke lapangan untuk melakukan penelitian bagi mahasiswa PhD di Amerika bertujuan agar mahasiswa, khususnya international student, dapat beradaptasi dengan iklim belajar serta materi-materi yang diberikan di Amerika. Menurut saya pribadi, materi-materi kuliah yang diberikan memang notabene jauh lebih mendalam dan rinci dibandingkan dengan materi kuliah saya di Inggris dahulu.

Selain itu, ada beberapa ujian yang harus dilalui selama menjadi mahasiswa S3 di Amerika, ujian yang pertama yaitu preliminary examination dimana mahasiswa diuji dan dinilai layak atau tidak untuk menjadi PhD candidate. Biasanya ujian ini dilakukan sebelum semester 3 berakhir. Setelah itu, ujian yang kedua bernama comprehensive examination dimana mahasiswa melakukan ujian tertulis dan juga lisan untuk mengkritisi jurnal-jurnal ilmiah. Menurut saya, ujian ini paling tricky karena pengetahun mahasiswa terhadap metode ilmiah benar-benar akan diuji dan dianalisa. Biasanya ujian ini harus dilaksanakan sebelum semester kelima selesai.

Nah, ujian yang ketiga yaitu proposal defense dimana rencana penelitian mahasiswa dipresentasikan di depan dosen pembimbing dan penguji. Lalu yang terakhir yaitu dissertation defense dimana penelitian sudah selesai dilakukan dan mahasiswa memaparkan hasil. Jika mahasiswa tidak lulus pada salah satu ujian tersebut, maka tidak dapat melanjutkan studi. Selain itu, pada jenjang S3 di Amerika pada umumnya mahasiswa diharuskan mempublikasikan minimal 3 artikel ilmiah setelah dissertation defense dilakukan.

Doakan ya semoga saya bisa lulus seluruh ujian-ujian tersebut!

Salam hangat dari Amerika,

Cynthia Maharani

 

Tampilan Penuh

Cynthia Maharani

Doctoral degree in public health at the University of Iowa. Lecturer and researcher at Binawan University

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close