Artikel Tamu K3Aspek Organisasi

Safety Culture untuk Produktivitas Kerja Lebih Baik

Oleh: Alda Erfian

Sekretaris P2K3 PT PLN Sektor Pembangkitan Asam Asam

Pemenang Sayembara One Safety One Article

Dewasa ini banyak perusahaan besar yang sudah menerapkan atau mengimplementasikan safety culture demi menjaga keberlangsungan proses produksi. Sebenarnya apakah ada pengaruh langsung antara Safety Culture / budaya keselamatan dengan proses produksi suatu kegiatan usaha? Jawabannya adalah budaya keselamatan merupakan faktor penting penentu kontinuitas produksi. Pertanyaan selanjutnya adalah Apa itu Safety Culture? Bagaimanakah cara membangun Safety Culture dalam suatu kegiatan usaha? Mari kita telaah baik-baik dalam artikel ini.

Safety Culture merupakan produk dari value individu atau sekelompok orang, attitude, persepsi, kompetensi, dan pola tingkah laku yang memperlihatkan komitmen dan bentuk implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Istilah safety culture sendiri sudah lama digunakan sejak kejadian ledakan pembangkit tenaga nuklir Chernobyl yang merenggut banyak korban jiwa serta kerugian berupa material dan non material dampak radiasi nuklir tersebut. Terlepas dari force majeur atau faktor alam, dari kejadian tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terdapat kekurangan dalam pembentukan safety culture dalam beberapa level struktural maupun fungsional perusahaan.

Setiap perusahaan selalu mendeklarasikan proses operasi sesuai dengan kaidah keselamatan, namun tantangan sebenarnya adalah untuk mengubah deklarasi tersebut dalam setiap aktivitas pekerjaan sehari-hari. Peraturan tertulis, Standart Operating Procedure (SOP), Instruksi Kerja memang memiliki peran besar namun di dalam pembentukan budaya keselamatan itu tidak cukup.

Suatu perusahaan harus mengembangkan budaya keselamatan dimana nilai-nilai atau unsur keselamatan kerja diterapkan di setiap tingkatan jabatan. Safety culture diawali dari pucuk pimpinan suatu perusahaan. Mungkin hal ini terdengar cukup kontroversial mengingat K3 merupakan tanggung jawab semua pihak baik internal perusahaan maupun eksternal. Namun terdapat alasan kuat atas pernyataan tersebut.

Dalam suatu perusahaan, garis kewenangan dimulai dari puncak pimpinan. Berbeda orangnya akan berbeda juga cara kepemimpinannya. Hal yang demikian akan melahirkan suatu budaya dan pada akhirnya budaya akan mempengaruhi perilaku pegawai-pegawainya. Suatu rantai kepemimpinan inilah yang berpengaruh langsung pada proses terbentuknya safety culture. Lantas seperti apakah keterkaitan safety culture terhadap produktivitas perusahaan?

a-culture-of-safetySumber Gambar:http://www.hskosovo.org/?p=34

Seperti inilah rantai hubungan sebab akibat yang mendasari keterkaitan tersebut. Pada dasarnya kecelakaan mengakibatkan berbagai kerugian baik yang nampak maupun tersembunyi bagai gunung es di mana kerugian terbesar bukanlah dari kerugian yang terlihat. Dari berbagai kerugian tersebut salah satunya adalah penundaan atau berhentinya proses produksi yang secara langsung mengurangi performance perusahaan.

Dengan demikian prioritas utama sebenarnya adalah menjamin budaya keselamatan demi berlangsungnya kontinuitas proses produksi. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara membangun safety culture di suatu perusahaan? Dalam membangun budaya keselamatan, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah :

  1. Komitmen manajemen terhadap K3
  2. Keterlibatan seluruh elemen pegawai
  3. Asumsi, kepercayaan, dan norma pegawai terhadap pentingnya K3
  4. Peraturan perusahaan dan SOP
  5. Prioritas pengawas K3
  6. Tanggung jawab dan akuntabilitas
  7. Kepedulian untuk mengevaluasi dan menindaklanjuti temuan unsafe action dan unsafe condition

Safety culture tidak dapat diciptakan secara instan, dibutuhkan waktu dan proses yang kompleks untuk mengubah perilaku keselamatan terhadap semua orang yang terlibat dalam setiap lini perusahaan. Seiring berjalannya waktu dengan komitmen penuh akan K3, safety culture akan senantiasa terbentuk bahkan akan terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan yang tentunya akan semakin mendukung kinerja produksi suatu perusahaan.

Referensi:

  1. Shaping safety culture through safety leadership, October 2013. International Association of Oil & Gas Producer
  2. ACSNI Human Factors Study Group : Third report – Organising for safety HSE Books, 1993

Tampilan Penuh

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Health and Safety Manager di Perusahaan Multinasional, Master Degree di Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia. Selalu senang untuk berdiskusi terkait dengan K3

Komentar Anda?

Back to top button
Close