Kesehatan kerja

Mengenal Dosis, Toksikokinetik dan Toksikodinamik

Dosis dari suatu zat kimia yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi respons yang tejadi di dalam tubuh. Jenis zat kimia yang masuk juga akan mempengaruhi respons yang terjadi.

Dalam pembentukan Nilai Ambang Batas kimia, beberapa istilah respons terhadap dosis telah dikenal. No observed adverse exposure level (NOAEL) menunjukkan titik di mana jumlah dosis tidak memiliki efek buruh terhadap kesehatan apapun. Sedangkan, lowest observed adverse exposure level (LOAEL) menunjukkan jumlah titik di mana jumlah dosis menunjukkan efek terendah yang dapat diamati.

Gambar 1 Kurva hubungan dosis-response. Kurva kiri menunjukkan titik dengan NOAEL dan LOAEL sedangkan kurba kanan tidak menunjukkan adanya ambang batas (threshold) (Schenk 2011)

Dosis zat kimia yang masuk ke dalam tubuh sangat mempengaruhi dampak yang terjadi pada manusia. Dosis yang masuk ke dalam tubuh dipengaruhi oleh toksikokinetik dan toksikodinamik dari masing-masing zat kimia.

Toksikokinetik adalah studi kuantitatif dari pergerakan sebuah zat kimia yang dimulai dari masuknya zat kimia ke dalam tubuh, pendistribusiannya ke organ dan jaringan melalui sirkulasi darah dan disposisi terakhir dengan biotransformasi serta eksresi. Konsep dari toksikokinetik adalah absorpsi, distribusi, metabolsime dan eksresi (ADME) (Klaassen 2008).

  • Absorpsi

Sebelum zat kimia membuat dampak kesehatan kepada tubuh manusia, zat kimia tersebut harus masuk ke dalam tubuh. Peristiwa masuknya zat kimia ke dalam tubuh disebut dengan absorpsi. Secara umum, rute masuk zat kimia dalam absorpsi terdiri dari 3 rute yaitu inhalasi, dermal dan ingesti. Inhalasi merupakan jalur utama dari pajanan di tempat kerja karena banyak zat kimia yang dapat masuk langsung ke paru-paru melalui jalur inhalasi seperti debu, asap, uap, kabut dan gas. Zat kimia tersebut masuk ke dalam paru yang memiliki luas sekitar 140 m2 sehingga memudahkan untuk absorpsi.

Kontak kulit adalah rute kedua yang terpenting dalam absorpsi. Kulit memiliki total luas sekitar 2 m2 dengan kemampuan untuk mengabsorpsi zat kimia terutama yang berbentuk cairan seperti KOH ataupun aerosol seperti pestisida. Meskipun sedikit, jalur ingesti juga dapat menjadi jalur masuk zat kimia yang berbahaya (Klaassen 2008). Jalur ingesti merupakan jalur pencenaan yang dimulai dari mulut, kerongkongan, dan lambung. Zat kimia yang masuk dalam jalur ini biasanya terjadi karena ketidaksengajaan seperti dalam kasus keracunan.

  • Distribusi

Ketika zat kimia diabsopsi ke dalam aliran darah, maka zat kimia tersebut dapat diangkut ke seluruh tubuh. Proses ini disebut “distribusi” yang merupakan proses reversibel yaitu zat kimia dapat masuk ke dalam sel dari darah ataupun bisa masuk ke darah dari sel. Pengiriman zat kimia ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aliran darah, permeabilitas kapiler, kekuatan dari pengikatan dari zat kimia ke darah ataupun jaringan protein dan solubilitas relative dari molekul zat kimia (Terms n.d.).

  • Metabolisme

Untuk mempermudah eksresi, zat kimia harus melalui proses metabolisme terlebih dahulu. Proses metabolisme bisa berlangsung di hati atau ginjal baik dengan perubahan struktur zat kimia ataupun dengan perubahan kimiawi dari zat kimia.

Metabolisme dari zat kimia dapat bervariasi antar grup populasi. Genetik menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi enzim untuk memproses zat kimia. Umur menjadi faktor lain yang mempengaruhi karena semakin tua seseorang makan semakin kecil toleransinya terhadap zat kimia(Terms n.d.).

  • Eksresi

Pengeluaran secara keseluruhan zat kimia dari dalam tubuh disebut dengan eksresi (Terms n.d.). Ginjal dan organ pencernaan menjadi bagian penting dalam proses eksresi ini. Selain itu, air susu ibu,keringat, rambut, kuku dan air ludah juga dapat menjadi organ yang melakukan proses eksresi (Trush 2008)

Gambar 2. Ilustrasi Lambang Bahan Beracun

Selain toksikokinetik, di dalam konsep dosis, terdapat juga toksiko dinamik. Menurut Trush (2008), tokisiko dinamik berarti dampak molekuler, biokimia dan fisiologis dari toksikan atau metabolitnya dalam sistem biologik. Dampak ini terjadi sebagai hasil dari interaksi antara dosis yang efektif secara biologis dari bentuk terakhir toksikan di dalam target molekulernya.

Dalam konsep toksikodinamik, seseorang bisa menjadi sakit dimulai dari perubahan di dalam molekulernya yang berlanjut hingga respons dari organismenya. Perubahan ini dapat berubah kembali ke kondisi awal baik dengan perbaikan ataupun tidak. Namun, tidak semua perubahan organisme dapat berubah kembali ke kondisi awal.

Gambar 3 Skema toksikodinamik (Trush 2008)

Referensi

Schenk, L., 2011. Setting occupational exposure limits Practices and outcomes of toxicological risk assessment, Stockholm.

Terms, K.E.Y., Pharmacokinetics : The Absorption , Distribution , and Excretion of Drugs. , pp.27–40.

Trush, M.A., 2008. Absorption, Distribution, and Excretion. John Hopkins Bloomberg School of Public Health. Available at: http://ocw.jhsph.edu/courses/publichealthtoxicology/PDFs/Lecture1_Trush.pdf.

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Saya berharap Anda selalu selamat

Komentar Anda?

Close
Close