Aspek Personal

Tidur dan Produktivitas Kerja

Tahun 2013 lalu, sempat terdengar berita kematian seorang karyawati akibat dari 30 jam tak tidur. Berbicara soal tidur dan produktivitas, keduanya dapat saling berhubungan. Orang yang dapat menggunakan waktu tidurnya dengan baik, akan berdampak positif terhadap produktivitasnya. Bahkan, terdapat sebuah artikel yang menyebutkan bahwa ketidakhadiran seorang karyawan akibat sakit, berhubungan dengan kelainan tidur yang dialami karyawan tersebut.

Penelitian ini dilakukan oleh Amy C. Reynolds, et al pada tahun 2017. Hasil dari penelitian itu adalah, ketidakhadiran karyawan akibat sakit memiliki hubungan yang sangat kuat dengan comorbid insomnia dan Obstructive Sleep Apnea (OSA). Sehingga dapat dipahami, mengapa tidur dan produktivitas dapat dikatakan saling berhubungan.

Tentu saja, ketidakhadiran karyawan dapat berdampak langsung terhadap kelangsungan bisnis pada perusahaan. Oleh karena itu, perlu strategi khusus, bagaimana perusahaan harus bisa menyampaikan kepada karyawan tentang pentingnya kuantitas dan kualitas tidur. Agar perusahaan dapat terhindar dari kerugian akibat hilangnya produktivitas karyawan.

kurang-tidur

Gambar Ilustrasi Karyawan Kurang Tidur

Sumber : https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2016/10/kurang-tidur.jpg?x54339

Akibat dari ketidakhadiran ini akan berdampak luas terhadap perusahaan. Dengan ketidakhadiran karyawan, dalam satu tim tentu akan sangat merugikan. Bahkan, bisa jadi hal ini dapat berdampak kelelahan kerja bagi teman satu tim karyawan yang tidak hadir ini. Secara keseluruhan, tentu akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas produksi perusahaan itu sendiri.

Tidur tidak bisa dianggap sepele. Tubuh kita selama 8 jam beraktivitas di tempat kerja, akan membutuhkan waktu istirahat. Tidur dapat menjaga tubuh kita tetap bugar. Bahkan di Amerika, terdapat sebuah badan yang memiliki perhatian khusus terhadap kesehatan tidur bagi manusia yaitu National Sleep Foundation (NSF).

National Sleep Foundation (NSF) mengatakan bahwa tidur adalah indikator vital kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Hal ini dapat dibenarkan mengingat hal yang telah dijelaskan diatas. Lalu, seberapa banyak kita membutuhkan tidur dalam sehari? Hal ini dijawab oleh NSF melalui penelitian yang mereka lakukan selama 2 tahun.

Berikut ini rekomendasi waktu tidur dari NSF :

1. Bayi baru lahir (0-3 bulan) : durasi tidur 14 hingga 17 jam per hari
2. Bayi usia 4-11 bulan : 12 hingga 15 jam per hari
3. Balita usia 1-2 tahun : 11 hingga 14 jam per hari
4. Prasekolah 3-5 tahun : 10 hingga 13 jam per hari
5. Usia sekolah (6-13 tahun) : 9 hingga 11 jam per hari
6. Remaja (14-17 tahun) : 8 hingga 10 jam per hari
7. Pasca Remaja (18-25 tahun) : 7 hingga 9 jam per hari
8. Dewasa (26-64 tahun) : 7 hingga 9 jam per hari
9. Usia lanjut (65 tahun ke atas): 7 hingga 8 jam per hari

Pembahasan tidur dan produktivitas ini perlu kita sampaikan kepada karyawan melalui metode yang tepat. Agar kesehatan karyawan dapat terjaga, angka ketidakhadiran karyawan sakit menurun dan produktivitas meningkat. Semoga bermanfaat !

Penulis : Permana Eka Satria

REFERENSI

  • Hirshkowitz, Max. 2014. National Sleep Foundation’s sleep time duration recommendations: methodology and results summary. http://dx.doi.org/10.1016/j.sleh.2014.12.010
  • National Sleep Foundation. How Much Sleep Do We Really Needed? Diakses dari https://sleepfoundation.org/how-sleep-works/how-much-sleep-do-we-really-need
  • Prawira, A.E. 2013. 30 Jam Tak Tidur, Mita Diran si Gadis Copywriter Meninggal Dunia. Diakses dari https://www.liputan6.com/health/read/775867/30-jam-tak-tidur-mita-diran-si-gadis-copywriter-meninggal-dunia
  • Reynolds AC, et al, Sickness absenteeism is associated with sleep problems independent of sleep disorders: results
    of the 2016 Sleep Health Foundation…, Sleep Health (2017), http://dx.doi.org/10.1016/j.sleh.2017.06.003

Permana Eka Satria

I might be not an expert but I learn from the experts.

Komentar Anda?

Close
Close