Budaya Selamat (Safety Culture)Opini Ahli

Behavior Based Safety dan Total Quality Management

Meningkatkan BBS dengan TQM

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang mulai menerapkan Observasi Perilaku atau yang dikenal dengan Behaviour Based Safety (BBS) kepada semua anggota atau karyawan perusahaan-perusahaan tersebut.

Hiruk pikuk penerapan BBS sangat luar biasa dan bahkan terkadang terkesan menutup semua program K3 lainnya. Para CEO atau Presdir mendengung-dengungkan penerapan BBS ini dihadapan para pejabat pemerintah, pelanggan, dan bahkan pada masyarakat sekitarnya. Tidak ada yg salah dengan apa yang dilakukan oleh Top Management tersebut.

behavior based safety dan TQM konstruksi

BBS yang efektif sangat berguna untuk meningkatkan keselamatan pekerja

Namun, banyak perusahaan aktifitas BBS ini berjalan seolah-olah tanpa ruh dan yang paling kritikal adalah ternyata aktifitas BBS ini tidak mampu meredam laju kekerapan insiden atau yg dikenal dengan istilah LTIFR. Kondisi ini menyebabkan pertanyaan banyak pihak, semisal : kenapa BBS yg katanya sanggup mencegah terjadi insiden kok malah memberikan kontribusi kepada terjadinya insiden, adakah yang tidak berjalan dengan semestinya dari BBS ini, atau BBS ini ternyata buang-buang waktu saja buktinya ada atau tidak ada BBS jumlah kecelakaan kerja masih sama atau bahkan merangkak meningkat jumlah kecelakaan kerja tersebut.

Perlu untuk diingatkan bahwa BBS itu hanyalah tool atau Metode saja. BBS ini tidak akan mampu berbuat banyak ketika BBS tidak diperlakukan dengan cara luar biasa atau tidak diperlakukan mengikuti pola manajemen umum yang ada.

Melakukan sengatan ulang pada BBS merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh agar kedigdayaan BBS tetap sesuai dengan fitrahnya. Dan salah satu cara menyengat BBS adalah dengan mengkawinkan tools-tools atau metode-metode TQM ( delapan langkah tujuh alat- delta) ke dalam kegiatan BBS.

1. Analisis faktor temuan perilaku tertinggi

Setiap BBS yg dilakukan selalu mencatat/merecord berbagai temuan perilaku karyawan yang berpotensi untuk memunculkan terjadinya insiden. Temuan perilaku tersebuat selanjutnya diterjemahkan ke dalam angka dan selanjutnya di stratifikasikan dari yang terbanyak hingga yang paling sedikit atau istilah dalam TQM di pareto kan.

Saya sangat surprise karena begitu banyak perusahaan yang melakukan ini namun yang gagal ditangkap maksud dari langkah pertama TQM ini pada BBS adalah mengamati kecenderungan. Analisis faktor temuan tidak akan ada artinya tanpa mengamati kecenderungan perilaku yg tercatat dalam observasi perilaku. Kegagalan mengamati kecenderungan maka juga dapat dikategorikan kegagalan dalam menerapkan BBS itu sendiri.

2. Intervensi perilaku berbasis akar masalah

Konsep TQM selalu berbasis analisis akar masalah. Setiap deviasi yang tampak dianggap puncak gunung es dari segenap masalah yang ada dibawahnya. Dengan menggunakan tool atau metode mencari akar masalah yg sederhana (semisal Diagram Tulang Ikan) maka deviasi yg berada dipuncak gunung tersebut dibongkar sedetil-detilnya untuk mencari sumber deviasi yang paling berkontribusi pada deviasi tersebut.

Hal yang sama dapat juga diterapkan kepada hasil-hasil pengamatan terhadap perilaku karyawan. Penyimpangan perilaku karyawa dapat diperlakukan mirip dengan penyimpangan dalam kualitas. Ini artinya penyimpangan perilaku juga merupakan puncak gunung es yang perlu dibongkar dengan menggunakan metode mencari akar masalah dengan cara diagram ikan tulang.

Membongkar deviasi perilaku dengan metode akar masalah tersebut tentunya akan dicari akar-akar masalah yang signifikan menyebabkan penyimpangan perilaku. Berbasis akar masalah signifikan yang ditemukan inilah mulai dilakukan intervensi pada karyawan yang tercatat banyak melakukan penyimpangan perilaku untuk bekerja secara selamat dan sehat.

3. Membandingkan sebelum dan sesudah langkah perbaikan (langkah intervensi)

Setiap hasil intervensi yang telah dilakukan wajib untuk diperbandingkan dengan perilaku sebelum intervensi. Bahkan jika perlu dibandingkan dalam waktu-waktu lama dimana perilaku itu pada mulanya berkembang. Perbandingan ini akan memberikan gambaran kepada perusahaan utamanya top manajemen tentang efektifitas intervensi yang telah dilakukan. Jika ternyata tidak ada perubahan setelah intervensi dilakukan maka dapat dipastikan sumber masalah yang ditemukan dan dijadikan dasar sebagai langkah intervensi dapat dianggap tidak kredible dan perlu dilakukan review terhadap analisis akar masalah yang telah dilakukan.

Menggabungkan konsep TQM dalam penerapan BBS pada akhirnya akan mengembalikan ruh BBS itu sendiri sebagai metode atau tool untuk menurunkan terjadinya kecelakaan kerja.

ilustrasi pekerja

Ilustrasi berbagai macam pekerjaan

Referensi :
1. Krause, Thomas; The Behaviour Based Safety Process
2. Cooper, Dominic; Behavioral Safety – The Framework for Success
3. Geller, Scott E; The Handbook of Psychology Safety
4. Deming, Edward; The Introduction to Total Quality Management

(Jakarta, 2 Agustus 2016)

Roslinormansyah Ridwan

Senior Praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Indonesia. Memiliki pengalaman sebagai Country HSE Manager Haliburton Indonesia

Komentar Anda?

Back to top button
Close