ETTO: Antara Tindakan Cepat dan Tindakan Teliti

Pada dini hari di 27 Desember 1991, sebuah penerbangan dari maskapai SAS dimulai dengan rute Stockholm-Kopenhagen-Warsawa. Setelah 25 detik penerbangan, kru pesawat menyadari adanya suara dan getaran yang tidak wajar. 39 detik kemudian, masalah yang sama terjadi di mesin yang lain dengan ketinggian pesawat sudah mencapai 3000 kaki. Kedua mesin yang mati ini membuat pesawat kehilangan tenaga untuk mengudara sehingga memaksa pilot melakukan pendaratan darurat. Pesawat menabrak beberapa pohon, sayap kanan pesawat patah, dan terbelah…

"ETTO: Antara Tindakan Cepat dan Tindakan Teliti"

Manusia : Sebagai Penyebab atau Pencegah Kecelakaan?

Manusia adalah pusat dalam sebuah system kerja. Manusia lah yang membuat unit-unit kerja, merangkainya dengan unit kerja lain yang memiliki berbagai macam fungsi dan tujuan kemudian dengan itu manusia membangun sebuah system kerja. Tanpa adanya manusia, tidak mungkin sebuah sistem kerja dapat berjalan.

Secara teori, manusia memang menjadi pusat dan paling berharga dalam sistem kerja. Namun, pada implementasinya, manusia kadang diumpakan seperti mesin atau bahkan tidak lebih berharga dibandingkan mesin.

Secara sederhana, manusia kadang mengorbankan orang lain untuk menciptakan sebuah sistem kerja. Misalnya, proses pembuatan sebuah gedung di mana pekerjanya tidak dilengkapi dengan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang baik. Asalkan gedung yang dibangun itu bisa diresmikan tepat waktu, maka semua kaidah-kaidah keselamatan kerja bisa ditabrak.

Gambar 1. Pekerjaan Berbahaya di Konstruksi

Dalam tingkat yang lebih rumit, sistem kerja kadang hanya memiliki fokus kepada bisnis dan proses produksi. Manusia “hanya” dianggap sejajar dengan elemen realibilitas mesin yang lain dalam tahap pembuatan instalasi mesin. Artinya, nyawa manusia tidaklah lebih penting dari rusaknya sebuah instalasi.

The Fallible Machine : Mesin yang Dapat Berbuat Salah

Pernyataan “manusia diperlakukan seperti mesin” telah dibahas dalam Buku “Safety I dan Safety II: The Past and Future of Safety Management” yang ditulis oleh Errik Holnagel. Dalam bukunya, Hollnagel menjelaskan bahwa manusia diharuskan untuk menyesuaikan semua aktivitas dalam pekerjaan seperti apa yang ditulis di dalam prosedur dan manusia tidak diizinkan untuk melakukan variasi performa (performance variability) dari prosedur yang ada karena pembuat prosedur percaya bahwa prosedur yang ia buat adalah yang paling benar, sementara yang lain salah.

Gambar 2. Ilustrasi Manusia

Sumber: http://www.industryweek.com/leadership/conscious-leaders-are-fallible-humans-too-give-them-break-when-they-fail

Lebih lanjut, Hollnagel memberikan istilah kepada manusia sebagai The Fallible Machine (Mesin yang Dapat Berbuat Salah). Manusia memang kadang diperlakukan seperti mesin, ia harus menuruti semua bahasa program mesin yang disebut “prosedur/panduan”, mengerjakan apa sesuai dengan apa yang diminta oleh pembuat mesin yang bernama “bos”, dan penyimpangan apapun dari desain yang diminta dianggap sebagai sebuah kesalahan yang bernama human error.

Anggapan di atas sangat jelas digambarkan dalam referensi-referensi keselamatan kerja pada awal perkembangan keselamatan kerja. Heinrich, dalam bukunya berjudul “Industrial Accident Prevention”, menempatkan unsafe acts (perilaku tidak aman) sebagai penyumbang terbesar kecelakaan sebanyak 88%. Pendapat lebih ekstrim dikeluarkan dari Du Pont di tahun 1986 yang menyebutkan bahwa 96% penyebab kecelakaan adalah dari unsafe acts.

Gambar 3. Penyebab Kecelakaan Versi Dupont

Gambar 4. Penyebab Kecelakaan Versi Heinrich

Anggapan unsafe act sebagai penyebab utama dari kecelakaan sama saja dengan menganggap manusia sebagai sumber masalah yang besar. Karena manusia dianggap sebagai sumber masalah, maka perlu diberlakukannya aturan-aturan yang ketat sehingga manusia dapat berjalan sebagaimana mesin yang tunduk terhadap peratura serta tidak diizinkan untuk memiliki variasi performa. Semua variasi performa yang ada kemudian dianggap sebagai sebuah tindakan unsafe act.

Blunt End vs Sharp End

Manusia sebagai the fallible machine muncul karena 2 penyebab, yaitu adanya work as imagined dan work as done.

Work as imagined adalah sebuah pekerjaan yang “seharusnya” dikerjakan. Work as imagined ini ada di dalam pikiran pihak manajemen sebagai pemberi kerja yang memiliki keinginan tertentu pada pekerjanya. Sementara, work as done adalah pekerjaan yang secara “nyata” dikerjakan oleh para pekerja. Work as done ini dapat berbeda dengan work as imagined karena adanya variasi dalam pelaksanaan sehingga muncul lah variasi performa.

Hollnagel juga memberikan analogi blunt end (sisi tumpul) dan sharp end (ujung tajam) seperti di pensil. Blunt end adalah sisi di mana orang-orang yang membuat work as imagined berada. Mereka tidak terjun langsung ke lapangan kerja namun dapat mengendalikan semua pekerjaan. Sharp end adalah sisi di mana orang-orang yang memiliki work as done bekerja. Seperti ujung pensil, mereka langsung bersentuhan dengan kertas, harus diraut untuk memudahkan menulis, dan berkotor-kotor dengan dirinya sendiri.

Gambar 5. Blunt end VS Sharp End

Adanya jurang antara blunt end dan sharp end membuat manusia sebagai hal yang paling penting bergeser menjadi The Fallible Machine. Terkadang, orang-orang yang di blunt end tidak memahami secara menyeluruh pekerjaan yang dilaksanakan di sharp end. Blunt end akan mendesain pekerjaan yang sebenarnya tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya sharp end sehingga orang-orang sharp end akan terpaksa melakukan penyesuaian performa.

Terkadang, penyesuaian performa pada sharp end berujung pada terjadinya kecelakaan. Meskipun, peluang sukses pada sharp end lebih besar daripada peluang terjadinya kecelakaan, namun sebagian besar orang masih tetap lebih melihat ke peluang terjadinya kecelakaan.

Manusia harusnya dilihat sebagai pembuat keselamatan bukan sebagai penyebab utama kecelakaan. Seperti gambar di atas, 9999 kesuksesan harusnya lebih dilihat daripada 1 kegagalan yang menyebabkan kecelakaan. Model di atas membuat sebuah ironi bahwa meski banyaknya kesuksesan yang manusia buat, tapi manusia tetap dilihat sebagai penyebab kecelakaan.

Gambar 6. Kegagalan vs Kesuksesan

Kritik pada porsi penyebab kecelakaan dari Heinrich dan Du Pont muncul dari berbagai pihak. Salah satunya adalah dari National Safety Council yang mengajukan angka 87% untuk unsafe act dan 78% untuk mechanical hazard. National Safety Council memberikan angka penyebab kecelakaan yang komprehensif, melihat kecelakaan dari perspektif multiple cause dan tidak terlalu menyalahkan manusia sebagai penyebab kecelakaan.

Gambar 7. Penyebab Kecelakaan versi National Safety Council

Solusi

Solusi yang ditawarkan dibagi menjadi 4: pemberi kerja, pekerja, pemerintah, dan akademisi.

  • Pemberi Kerja

Tugas terberat pemberi kerja di posisi blunt end adalah membangun value bahwa keselamatan pekerja adalah hal yang sangat penting di tempat kerja. Pemberi kerja harus memperlihatkan value ini dengan menempatkan keselamatan pekerja sebagai prioritas meski dibandingkan dengan banyak hal lain.

Pemberi kerja juga harus menjembatani kesenjangan antara blunt end dengan sharp end dengan lebih melibatkan pekerja untuk membuat peraturan atau panduan dan menyepakati berbagai macam variasi performa yang diizinkan.

Belajar dari tempat kerja penulis, pemberi kerja juga bisa membuat pertemuan 1 hari penuh bersama pekerja guna memberikan kesempatan pada pekerja membuat peraturan keselamatannya sendiri berdasarkan pengalaman mereka di lapangan. Peraturan yang dibuat cukup 15 kalimat saja, namun terus dimonitor oleh pekerja dan rekan-rekannya sendiri. Pemberi kerja hanya sebagai inisiator dan fasilitator saja.

  • Pekerja

Peran pekerja yang paling penting adalah bersifat terbuka untuk kerjasama dan senantiasa memberikan masukan untuk peningkatan keselamatan kerja. Pekerja harus bersifat terbuka terhadap program-program untuk keselamatan kerja dengan bentuk partisipasi aktif mereka dalam program tersebut. Pekerja juga harus memberikan saran atau krtik membangun terhadap program keselamatan kerja yang dinilai memang harus ditingkatkan.

Pada akhirnya, pekerja dituntut untuk tidak melepaskan keselamatan kerja sebagai value dan juga memperhatikan keselamatan kerja dirinya dan rekannya. Pekerja diharapkan mampu menempatkan value keselamatan kerja ini setara atau bahkan lebih tinggi daripada upah yang mereka tuntut untuk meningkat setiap tahunnya.

  • Pemerintah

Pemerintah memegang posisi penting sebagai regulator dan pengawas keselamatan kerja. Sebagai regulator, pemerintah sangat dimungkinkan untuk membuat peraturan guna menciptakan keselamatan kerja yang lebih baik. Pemerintah juga bisa berperan sebagai pengawas keselamatan kerja untuk memastikan penegakkan peraturan keselamatan kerja.

Pemerintah juga bisa memberikan kampanye-kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan di tempat kerja. Program-program kampanye yang sekarang sudah ada sebaiknya terus ditingkatkan dan tidak hanya berada di bulan K3 saja mengingat para pekerja dan pemberi kerja tidak hanya terpapar resiko keselamatan di Bulan K3 saja melainkan di semua bulan di sepanjang tahun.

  • Akademisi

Akademisi berperan strategis dalam meningkatkan keilmuan keselamatan kerja. Para akademisi diharapkan mampu menciptakan karya intelektual yang menyentuh pemberi kerja dan pekerja terkait dengan cita-cita untuk membuat keselamatan kerja sebagai value.

Para akademisi juga bertugas untuk mematahkan mitos-mitos terkait dengan keselamatan kerja. Banyaknya mitos di bidang keselamatan kerja, seperti manusia adalah sumber kecelakaan, harus diluruskan oleh para akademisi agar tidak menjadi hambatan dalam peningkatan keselamatan kerja.

Referensi

Hollnagel,Errik, Safety-I and Safety-II The Past and Future of Safety Management. Cetakan Ke-3. Burlington: Ashgate. 2014.

Howe, Jim, Warning! Behavior-Based Safety Can Be Hazardous to Your Health and Safety Program!. UAW. 2001.

Pardy, Wayne, Heinrich Deconstructed (and Reconstructed): A Safety Revolution in Progress. Banff: Quality Plus Inc. 2013.

Pidato Keselamatan Kerja Terbaik Abad 20 oleh CEO Alcoa

Sebuah pidato keselamatan atau pidato safety yang baik tidaklah dengan cara memberitahu ke pekerja tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan keselamatan, melainkan pidato yang baik harusnya memotivasi pekerja untuk bersama meraih keselamatan kerja

Seperti yang dilakukan oleh Paul O’Neill, CEO Alcoa, pada hari yang berangin di bulan Oktober 1987. Dia memberikan pidato pertamanya ke para pemegang saham. Kebanyakan CEO akan menggunakan saat pidato pemegang saham untuk membuat mereka tertarik sehingga mereka akan menanamkan saham lebih banyak. Tetapi, O’Neill tidak melakukan hal seperti itu.

image0016Gambar. CEO Alcoa

“Saya ingin berbicara kepada Anda tentang keselamatan untuk pekerja.” katanya di awal. Seketika saja, semua pemegang saham bertanya kenapa O’neill tidak berbicara tentang meningkatkan keuntungan.

“Setiap tahun, banyak pekerja Alcoa yang luka sangat parah sehingga ia melewatkan hari pekerjaannya. Jejak keselamatan kerja kita memang lebih baik daripada perusahaan lain, terlebih jika mempertimbangkan bahwa pekerja kita bekerja dengan metal yang bersuhu 1500 derajat dan kita juga memiliki mesin yang dapat mencabut tangan dari tubuh pekerja. Tapi itu tidaklah cukup, saya ingin membuat Alcoa menjadi perusahaan paling aman di Amerika Serikat. Saya bermaksud untuk menjadikan Alcoa nihil kecelakaan kerja.”

Seperti dikutip dalam buku Power of Habits oleh Charles Duhigg, para pemegang saham kebingungan, Kenapa O’neill membuat mereka menjadi bingung? Bagaimana caranya mereka menghasilkan uang dengan berfokus pada keselamatan kerja?

Ternyata, seseorang dari pemegang saham langsung mengacungkan tangannya dan bertanya tentang barang-barang di divisi aerospace. Sedangkan pertanyaan lain muncul dari orang lain tentang rasio bunga perusahaan.

O’Neill berdiri tegap dan melanjutkan pidatonya, “Saya tidak yakin Anda mendengarkan saya. Jika Anda ingin mengerti Apa Yang Alco lakukan, Anda harus melihat ke penerapan keselamatan kerja di Alcoa.

“Jika kami membuat tingkat kecelakaan semakin rendah, itu tidak akan disebabkan oleh dorongan atau bahkan omong kosong yang kadang kali Anda dengar dari CEO lain. Itu disebabkan oleh kesepakatan bersama dari anggota individu di perusahaan yang setuju untuk menjadi bagian dari sesuatu yang penting: Mereka memilih diri mereka sendiri untuk membentuk budaya yang unggul.

Keselamatan kerja akan menjadi sebuah indikator bahwa kita sedang membuat peningkatan dalam mengganti budaya kita di seluruh institusi. Dengan cara itulah, kita harus dinilai”

Setelah pidatonya berakhir, para pemegang saham lari ke pintu secapat mungkin yang ia bisa. Semuanya sangat panik mendengar pidato O’neill yang tidak menyinggung masalah keuntungan. Mereka ingin menjual saham di Alcoa secapat mungkin yang mereka bisa.

Ternyata, mereka yang tetap memegang saham Alcoa memperoleh keuntungan yang sangat besar. Setahun setelah pidato O’Neill, keuntungan Alcoa mencatatkan rekor tertingginya. Di tahun 2000, ketika O’Neill pension, Saham Alcoa menjadi 5 kali lebih besar daripada tahun 1987.

alcoaGambar. Logo Alcoa

Sumber: http://steelguru.com/metal/alcoa-financial-performance/429472

Jadi apa yang membuat Pidato Keselamatan O’Neill menjadi salah satu yang terbaik di Abad 20?

O’Neill memulai dengan “kenapa?”. Seperti Simon Sinek berkata di bukunya yang brilian berjudul “Mulailah dengan Kenapa?”, pemimpin yang baik berkomunikasi dari dalam ke luar. Dia memulai dengan “kenapa?” yang sangat kuat. Pidatonya pasti mendapatkan perhatian dari para hadirin. Setelah ini dia bergerak ke kata “bagaimana?” mereka akan meningkatkan keselamatan kerja dan dilanjutkan dengan “Apa?”. Sedangkan, pemimpin yang lain cenderung berkomunikasi dengan “apa”, “bagaimana” dan “kenapa”.

Dengan cara itu, pemimpin lain mungkin akan berbicara dengan mudah untuk hanya berbicara tentang meningkatkan penjualan dan mengurangi biaya (apa) dan dilanjutkan dengan “bagaimana melakukannya?”. Ini akan membuat para pemegang saham senang. Namun, O’neill tidak melakukanya, dia memilih untuk berbicara tentang keselamatan kerja dan menjadi juara di hati para pekerja Alcoa.

Budaya Berubah

Seperti dikutip oleh buku The Power of Habits, O’Neill berkata. “Anda tidak akan bisa memerintah orang untuk berubah, itu bukanlah cara otak bekerja. Jadi, saya memutuskan untuk memulai dengan fokus ke 1 hal. Jika saya dapat mengubah kebiasaan akan sesuatu, itu akan menyebar ke seluruh perusahaan. “

Dia memilih untuk meningkatkan keselamatan kerja sebagai kebiasaan kunci untuk membawa seluruh perusahaan bersama berubah. Dia memilih kebiasaan yang akan membuat semua orang dalam satu barisan baik dari serikat ataupun dari manajer. Itu berarti akan ada perubahan total dalam hal operasional.

Manusia hanya akan dapat belajar dan mengingat informasi sekali. Semakin banyak informasi yang Anda berikan kepada manusia, semakin besar kemungkinan orang itu akan kebingungan. Menurut Chip dan Dan Heath dari “Made To Stick” membuat pesan yang mudah diingat adalah dengan melepaskan sebuah ide dari intinya

O’Neill melakukan ini dengan sangat brilian ketika dia memfokuskan pekerja ke satu aspek: keselamatan kerja. Dia juga sangat diingat dengan tagline nya yaitu “Nihil Kecelakaan Kerja”

Kekuatan Kelompok

Selain hal di atas, dia juga dengan cerdas berhasil mendorong budaya kelompok. Dia mendorong pekerja Alcoa untuk menyadari keselamatan kerja untuk kelompok ketimbang hanya untuk mereka sendiri. Dia berlari bersama para pekerja untuk mencapai tujuan yang satu

Manusia secara naluriah memang melihat dirinya sebagai bagian dari orang lain atau kelompok. Evolusi telah mengajarkan kita bahwa lebih banyak keuntungan

O’neill menambatkan kebutuhan kuat manusia terhadap identitas kelompok untuk membangun organisasi yang sukses. Trik menggunakan identitas grup ketika menginginkan perubahan perubahan pada pakerja untuk mencapai tujuan yang baru adalah dengan mengutarakan kata-kata perubahannya sehingga mereka akan membuat keputusan sesuai dengan apa yang terbaik pada kelompok. Menghidupkan pengawasan dari rekan kerja adalah cara yang efektif untuk mengajak rekan kerja yang lain guna bertingkah laku sesuai dengan apa yang diinginkan

skynews.img.1200.745Gambar. Pekerja Alcoa

Sumber: http://www.skynews.com.au/business/business/market/2015/03/09/thousands-of-alcoa-jobs-at-risk-in-wa.html

Anda juga akan memperhatikan bahwa O’neill tidak pernah menggunakan kata “Saya” dalam lanjutan pidatonya karena menyelamtkan nyawa tidaklah tentang dia selalu. Menyelamatkan nyawa adalah tentang grup, itu adalah tentang seluruh pekerja Alcoa

Dia secara cerdas juga menggunakan rapat pemegang saham untuk menjadikan para pekerjanya tahu bahwa itu dia tidaklah di sana untuk meningkatkan pendapatan pemegang saham. Dia berada di sana untuk meningkatkan kualitas hidup, untuk memastikan mereka akan sampai ke rumah dengan aman pada saat pulang. Dengan pidato pertamanya tersebut ke peserta dari luar, dia secara kuat berkomunikasi kepada pekerja seberapa besar dia berkomitmen untuk meningkatkan tempat kerja para pekerja. Lantas pekerja memutuskan bahwa O’Neill dapat dipercaya, O’Neill ada di sisi mereka

Dia bahkan menindaklanjuti pidatonya lebih jauh. Menurut Tim O’Bryan, dalam artikel yang berjudul “Analytical Decision and the Alcoa Transformation”, O’Neill memberlakukan kebijakan perusahaan baru . Kebijakan itu berisi kapanpun seseorang luka, Direktur unit harus melaporkan ke O’Neill dalam waktu 24 jam dan harus membuat rencana untuk memastikan hal seperti itu tidak terulang lagi

Kebijakan tersebut memulai aliran komunikasi. Pekerja memberitahu manager mereka, kemudian manager memberitahu wakil Direktur tentang kecelakaan, dan juga meningkatkan kewaspadaan ketika mereka melihat problem potensial lain. Sebagai contoh, terdapat kotak saran yang diiisi dengan ide solusi terkait dengan keselamatan kerja, jadi ketika wakil presiden meminta rencana pencegahaan, pengumpulan saran-saran dari rencana pencegahan tersebut dapat dimulai

Jadikan Keselamatan Sebagai Prioritas

O’Neill percaya bahwa cara untuk menjaga pekerja adalah dengan menemukan penyebab terjadinya luka sebagai prioritas.

Ini dilakukan dengan mempelajari apa yang salah dalam proses produksi. Pekerja memperoleh pelatihan tentang Pengendalian Kualitas dan bagaimana bekerja dengan lebih efisien. Dengan memastikan hal tersebut, pekerja dapat membangun kebiasaan untuk mengerjakan hal yang tepat sebagai prioritas sekaligus dapat membuat pekerjaannya lebih aman

Dimulai dari pidato pertamanya, Paul O’Neill merubah Alcoa menjadi perusahaan yang efisien, menjalankan komunikasi terbuka di tempat kerja, dan menjadi perusahaan alumunium paling aman di Bumi ini. Dengan mengubah keselamatan kerja menjadi kebiasaan sehari-hari, O’Neill meningkatkan efisiensi dan penjualan.

By taking care of the “why”, he took care of the “how” and “what”.

REFERENSI

Benton, J. (2012, September 25). One of the Best Safety Speeches Ever By Alcoa CEO. Retrieved Agustus 4, 2015, from EHS Safety News America: http://ehssafetynewsamerica.com/2012/09/25/one-of-the-best-safety-speeches-ever-by-a-ceo/

Life Saving Rule (LSR): 18 Peraturan untuk Mengeleminasi Kecelakaan Kerja Fatal

Pada tahun 2013 lalu, Iinternational Association of Oil and Gas Producers (IOGP) telah menerbitkan satu set peraturan yang disebut Life Saving Rule (LSR). Peraturan ini bertujuan agar Industri minyak dan gas dapat memitigasi resiko dan mengurangi kecelakaan. Setiap Life Saving Rule terdiri dari ikon sederhana dan teks deksriptif yang jelas, sederhana dan memberikan komunikasi yang konsisten tentang resiko di tempat kerja

Peraturan ini dikembangkan dengan menggunakan data kecelakaan fatal dan kecelakaan dengan potensi luka serius dari tahun 1991 ke 2010. Data tersebut diambil dari Laporan Indikator Performa Keselamatan Kerja tahunan dari IOGP untuk mengidentifikasi kejadian dan aktivitas yang merupakan resiko tertinggi sehingga dapat menghasilkan petunjuk yang jelas untuk mengendalikan resiko yang ada.

Data kecelakaan terakhir dari tahun 2014 menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 78% kecelakaan fatal yang dapat diatasi dengan penerapan Life Saving rule. Life Saving rule sendiri terdiri dari 8”nilai inti” (core values) dan 10 “peraturan pelengkap” (supplementary rule)

All LSRGambar. 18 Peraturan LSR

Berikut adalah 8 Life Saving rule inti yang paling banyak digunakan dalam industri minyak dan gas. Setelahnya, terdapa 10 Life Saving Rule tambahan yang banyak perusahaan gunakan sesuai dengan resiko yang ada di tempat mereka.

Core ValueGambar. Peraturan Inti LSR

Supplementary Rule Gambar. Peraturan Tambahan LSR

PERSYARATAN DASAR LSR

Jika diputuskan untuk diterapkan, LSR sangat penting untuk dikomunikasi kepada semua pekerja seperti dalam Safety induction pekerja, kampanye Safety, Penilaian resiko sebelum bekerja, dll. Namun, sebelum diterapkan terdapat persyaratan di mana organisasi harus harus memastikan penerapan efektif dari OGP Life Saving Rule sebagai berikut:

  • Pekerjaan tidak akan dilakukan sebelum adanya Penilaian Resiko Pekerjaan dan diskusi Safety seperti Toolbox Meeting yang sesuai dengan tingkat resiko
  • Semua personel harus dilatih dan memiliki kompetensi sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan
  • Alat pelindung diri akan disediakan dan dipakai sesuai dengan persyaratan yang telah diidentifikasi dalam Penilaian resiko dan Kebijakan perusahaan
  • Rencana respons darurat dikembangkan dari review skenario potensi darurat yang cukup dan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki. Rencana ini dibuat sebelum pekerjaan dimulai
  • Semua orang berhak untuk memberhentikan pekerjaan jika mereka ragu terkait dengan keselamatan kerja dalam aktivitas yang mereka lakukan atau orang lain lakukan.
  • Intervensi rekan kerja harus digalakkan dan dikembangkan untuk memenuhi pemenuhan terhadap Life Saving Rule

Penegakkan Disiplin dan Tanggung Jawab

Pengalaman dari perusahaan anggota IOGP membuktikan bahwa penerapan Life Saving Rule sukses jika pasti ada tanggung jawab untuk pemenuhan berupa konsekuensi hukuman untuk siapapun di semua level jabatan yang melanggar Life Saving rule. Sangatlah penting bagi pemimpin untuk memandu 100% pemenuhan Life Saving Rule.

LSR ilustrationGambar. Ilustrasi LSR

Sumber Gambar: http://www.drillingcontractor.org/small-scale-focus-yields-big-value-for-shells-rig-operational-performance-32317

Tidak ada pedoman tertentu dari IOGP terkait dengan jenis hukuman atau tindakan dalam penegakan disiplin dan tanggung jawab. IOGP hanya memberikan poin kunci yang harus dipertimbangkan sebagai berikut:

  • Life Saving Rule untuk Semua orang

Tujuan untuk menjaga setiap orang aman dapat tercapai dengan memastikan semua orang mengikut Life Saving Rule yang sama. Oleh karenanya, pesan kuat yang wajib disampaikan kepada semua pekerja seharusnya adalah “Jika Anda memutuskan untuk melanggar Life Saving Rule, anda memutuskan untuk tidak bekerja di sini” ( if you choose to break the life-saving rule, you choose not to work here)

  • Hindari persepsi bahwa perusahaan mencari kesalahan untuk memecat pekerja

Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan dalam penerapan LSR adalah: “Apakah tidak berlebihan untuk memecat orang yang melanggar Life Saving Rule?” Jawaban dari kami adalah komitmen untuk menerapkan life saving rule adalah untuk melindungi pekerja. Perusahaan dapat melakukan investasi banyak untuk memastikan semua orang tahu peraturannya. Lebih baik melakukan tindakan disiplin daripada membiarkan orang lain mengambil resiko yang dapat membuat mereka melukai atau membunuh diri mereka sendiri dan orang lain

  • Ambil tindakan kapanpun Life Saving Rule dilanggar

Tindakan disiplin harus diberikan jika investigasi telah membuktikan bahwa life saving rule telah dilanggar, pada saat kapanpun tidak hanya ketika kecelakaan terjadi. Tindakan disiplin harus diberikan sesuai dengan hukum lokal dari perusahaan tersebut. Tujuannya adalah untuk menerapkan tindakan disipilin yang konsisten dan sesuai dengan tiap situasi.

  • Mendorong pelaporan dari setiap orang

Tekankan kepada setiap orang bahwa dengan tidak melaporkan pelanggaran yang terjadi, mereka memilih untuk membuat tempat kerja berbahaya untuk mereka, rekan kerja dan orang lain. Responlah secara positif ketika ada pelaporan dan respon secara pantas ketika ada kasus dimana pelanggaran justru tidak dilaporkan.

Untuk dokumen asli dari IOGP tentang Life Saving rule bisa dilihat di sini

Peran Life saving rule lebih jelas untuk mengeliminasi kecelakaan sangatlah penting seperti terlihat dalam chart berikut:

Chart Fatal LSRDengan life saving rule, semua pekerja jelas diberi pesan yang kuat bahwa “if you choose to break the life-saving rule, you choose not to work here”. Pesan ini bukanlah sebagai ancaman, justru pesan ini sangat bermanfaat untuk mengingatkan mereka bahwa mereka harus bekerja dengan selamat untuk dapat kembali ke orang yang mereka cintai.

Perusahaan lain selain oil and gas tentunya bisa membuat peraturan sendiri dengan prinsip yang sama dengan LSR ini namun harus sesuai dengan trend kecelakaan di tempat kerja mereka.

REFERENSI

International Oil and Gas Producers. (2013, April). Our Library. Retrieved July 20, 2015, from IOGP: http://www.ogp.org.uk/pubs/459.pdf

International Oil and Gas Producers. (2013, April). Our Library. Retrieved July 21, 2015, from IOGP: http://www.ogp.org.uk/pubs/459_4.pdf

International Oil and Gas Producers. (2015, June). Our Library. Retrieved July 2015, 2015, from IOGP: http://www.iogp.org/pubs/2014s.pdf

 

5 Elemen Pembentuk Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang Kuat

Sebuah budaya k3 yang positif adalah ketika keselamatan dan kesehatan kerja(K3) memainkan peran yang sangat penting dan menjadi inti nilai dari mereka yang bekerja di sebuah tempat kerja. Sementara, budaya k3 yang negative terjadi apabila keselamatan kerja dipandang sebagai sebuah hal yang marginal atau menjadi beban dari unit kerja Di dalam sebuah budaya k3 positif yang kuat, setiap orang bertanggung jawab terhadap keselamatan kerja dan menerapkan k3 dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang akan melakukan yang…

"5 Elemen Pembentuk Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang Kuat"

Paradigma Piramida Kecelakaan Kerja yang Baru

Para profesional Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasti sudah tidak asing lagi dengan Piramida Kecelakaan berikut yang dipopulerkan oleh Heinrich: Dalam piramida tersebut dijelaskan bahwa, dalam setiap 1 kali kasus kecelakaan kerja yang berakibat kematian terdapat 29 kasus luka ringan dan 300 kasus hampir celaka. Untuk dapat menghindari kasus kematian tersebut, maka kita harus memulai dari eliminasi kasus-kasus hampir celaka di tempat kerja kita Namun, seorang Thomas R. Krause telah memunculkan sebuah ide yang menyebutkan bahwa…

"Paradigma Piramida Kecelakaan Kerja yang Baru"

Kunci Meningkatkan Budaya K3: Keterlibatan Aktif Seluruh Pekerja

“Beritahu saya, maka saya akan lupa Tunjukkan kepada saya, maka saya akan ingat Libatkan saya, maka saya akan mengerti” Paragraf di atas adalah sebuah pepatah dari China yang sangat pas diterapkan dalam membangun budaya Keselamatan dan kesehatan Kerja di perusahaan. Budaya keselamatan dan kesehatan kerja di suatu tempat merupakan hasil dari persepsi bersama yang berdasarkan dari nilai dan membentuk sebuah kebiasaaan keselamatan kerja yang terus menerus. Dengan budaya K3 yang tinggi, para karyawan pasti akan…

"Kunci Meningkatkan Budaya K3: Keterlibatan Aktif Seluruh Pekerja"

Indikator Akhir dan Indikator Awal (Lagging and Leading Indicator) dalam Keselamatan Kerja

Pada umumnya, penerapan keselamatan kerja di Indonesia diukur melalui seberapa banyak kecelakaan kerja yang terjadi dalam satu tahun. Para professional K3 akan melakukan tindakan semaksimal mungkin agar indikator kecelakaan tersebut selalu dalam posisi 0. Namun, indikator kecelakaan tersebut tidak mencerminkan seberapa baik aktivitas pencegahan kecelakaan kerja yang kita lakukan, indikator tersebut hanya memberi tahu kita seberapa banyak orang yang luka dan seberapa parah. Dalam ilmu keselamatan kerja modern, indikator keselamatan kerja seperti incident rate, lost…

"Indikator Akhir dan Indikator Awal (Lagging and Leading Indicator) dalam Keselamatan Kerja"

Mengetahui Iklim Keselamatan Kerja dengan NOSACQ-50

Iklim Keselamatan Kerja (Safety Climate) adalah sebuah persepsi bersama dalam sebuah kelompok kerja terkait dengan keselamatan kerja dari kelompok pekerja tersebut, kebijakan keselamatan kerja, prosedur dan praktek di lapangan. Iklim keselamatan kerja yang tinggi menggambarkan bahwa kelompok pekerja tersebut memiliki persepsi bahwa keselamatan kerja adalah suatu hal yang sangat penting sehingga setiap dari mereka meletakkan keselamatan kerja dalam setiap prioritas mereka. Safety briefing (sumber:http://www.estegra.com/home/index.php/company/management/safety-awarness-program) Dalam dunia keselamatan kerja saat ini, iklim keselamatan kerja yang baik…

"Mengetahui Iklim Keselamatan Kerja dengan NOSACQ-50"

HSOPSC Survey : Alat untuk Mengukur Tingkat Budaya K3 Pasien (Patient Safety Culture) di Rumah Sakit

Alhamdulillah anak saya yang pertama berhasil lahir dengan normal di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Selama proses persalinan dan pasca persalinan, pelayanan rumah sakit sangatlah memuaskan baik dari segi harga, tenaga medis, ataupun dari desain rumah sakit sendiri yang artistik. Namun ada satu hal mengganjal bagi saya di rumah sakit ini, yaitu mengenai keselamatan pasien (patient safety) Banyak area keselamatan kerja yang perlu ditingkatkan pada rumah sakit tersebut. Semua tabung oksigen besar di rumah…

"HSOPSC Survey : Alat untuk Mengukur Tingkat Budaya K3 Pasien (Patient Safety Culture) di Rumah Sakit"