Aspek OrganisasiBudaya Selamat (Safety Culture)

Identifikasi Tingkat Budaya K3 (Safety Culture) Menggunakan Kurva Bradley

Perilaku manusia memainkan peranan mayoritas pada terjadinya kecelakaaan kerja. Menurut Heinrich (1931), sang penemu Teori Domino, 88% kecelakaan terjadi karena perilaku tidak aman (unsafe acts). Sementara itu, kondisi tidak aman (Unsafe condition) hanya memiliki porsi 10% dalam terjadinya kecelakaan dan sisanya, sebanyak 2%, murni disebabkan oleh kehendak Tuhan.

 

porsi kecelakaanGambar 1. Porsi Penyebab Kecelakaan

Besarnya porsi kecelakaan yang diakibatkan oleh perilaku tidak aman membuat para profesional mengembangkan berbagai macam alat (tools) untuk menangani masalah perilaku tidak aman tersebut. Salah satu alat yang dikembangkan oleh para professional adalah konsep Budaya k3. Menurut DuPont, Budaya k3 adalah sebuah hasil dari nilai-nilai, persepsi, perhatian, kompetensi dan pola-pola perilaku individu dan grup yang menunjukkan komitmen, cara, dan kemampuan dari sebuah manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dari sebuah organisasi. Singkatnya, budaya k3 ini mencerminkan tingkat keselamatan kerja seseorang ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Budaya k3 dari suatu perusahaan pastinya memiliki perbedaan dengan perusahaan lain. Untuk mengamati tingkat budaya k3 dalam setiap perusahaan yang berbeda, DuPont melakukan sebuah penelitian dengan menggunakan safety perception survey yang terdiri dari 24 pertanyaan dengan pilihan berganda.

Survey Budaya k3 dari DuPont ini disebarkan kepada 88.000 responden pada 21 perusahaan dengan lebih dari 1000 lokasi. Lebih dari 25.000 survey dilakukan di utara Amerika sementara 5000 dari Kanada. Survey tersebut dilakukan dari 2002 sampai 2008. Industri-industri yang disurvey meliputi industri Pembuatan Pesawat terbang, proses kimia, listrik, rekayasa konstruksi, makanan, tambang, pemurnian oli, kertas, baja, dan transportasi.

88.000 responden survey mewakili sepertiga dari total jumlah Survey yang sebenarnya dilakukan oleh DuPont Safety Perception Survey. Jumlah yang hanya sepertiga ini dikarenakan oleh tidaknya adanya data pembanding dalam OSHA Total Recordable Injury Rates dan banyak perusahaan di luar Amerika Serikat tidak mencatat ukuruan ini. OSHA Total Recordable Injury Rates (TRIR) adalah jumlah kejadian kecelakaan kerja yang masuk dalam definisi dari OSHA (Occupational Safety & Health Agency).

Hasil dari survey tersebut adalah Tingkat Budaya K3 relatif (Overall Relative Culture Strength) dari masing-masing tempat kerja. Tingkat tersebut kemudian dibandingkan dengan TRIR selama 3 tahun dan hasilnya bisa dilihat dalam tabel dan grafik di bawah ini:

tabel hasilGambar 2. Tabel Hasil DuPont Safety Perception Survey

 

Kurva hasil Gambar 3. Kurva TRIR vs Tingkat Budaya K3

Dalam gambar-gambar di atas, kita bisa melihat bahwa semakin tinggi nilai dari Tingkat budaya K3 relatif (Overall Relative Culture Strength) maka semakin rendah angka TRIR dalam 3 tahun. Semakin rendah tingkat budaya relatif maka akan semakin tinggi nilai kecelakaan. Nilai budaya k3 adalah berbanding terbalik dengan jumlah kecelakaan yang terjadi di tempat kerja.

Untuk memudahkan kita dalam memahami konsep Budaya K3, DuPont telah membuat DuPont Bradley Curve.

Bradley Cuve Gambar 4. Kurva Budaya K3 DuPont Bradley

Dalam kurva tersebut, DuPont telah membagi tingkatan Budaya K3 ke dalam 4 tahap yang meliputi:
1. Reactive. Perusahaan ini menangani Isu K3 hanya bermodalkan “insting alam” saja. Mereka hanya berfokus kepada kepatuhan (compliance) daripada budaya K3 yang kuat. Tanggung jawab dari K3 hanya berfokus kepada Manager K3 dan mereka memiliki komitmen yang sangat rendah mengenai isu K3.
2. Dependen. Ketika sudah ada komitmen manajemen dari perusahaan, supervisor umumnya akan bertanggung jawab untuk menetapkan tujuan dan mengawasi penerapan K3 terhadap masing-masing dari bawahannya. Perhatian kepada K3 telah dikondisikan kepada karyawannya tetapi lebih dengan menekankan ketakutan dan disiplin terhadap peraturan dan prosedur. Perusahaan-perusahaan tersebut sudah memberikan karyawannya pelatihan terkait dengan K3.
3. Independen. Perusahaan dalam tahap ini sudah menekankan pengetahuan individu terkait dengan Isu K3, metode K3, komitmen K3 serta standar K3. Manajemen K3 ditekankan dan diinternalisasi melalui nilai-nilai personal serta peduli terhadap diri sendiri. Perusahaan dalam tahap ini akan terlibat aktif dalam penerapan, pembiasaan, pengakuan terhadap K3 dari masing-masing individu.
4. Interdependen. Perusahaan dalam tahap ini terlibat aktif dalam membantu orang lain untuk melaksanakan K3. Lebih cocoknya, mereka menjadi “Penjaga Orang Lain” (Others keepers) karena mereka telah bisa menjaga diri sendiri. Mereka berkontribusi kepada jaringan K3 dan memiliki kebanggaan kuat terhadap usaha K3 yang mereka lakukan

Sebagai Profesional K3, konsep Budaya K3 ini sangat penting untuk dipahami karena dengan konsep ini kita bisa menaikkan level K3 kita. Dari sebelumnya mungkin semua pekerjaan K3 hanya ada di Departemen K3, dengan adanya kurva ini, kita bisa mencoba untuk menjadikan K3 sebagai kebanggaan bersama. K3 tidak hanya sebatas emblem di baju, slogan, atau hanya sebagai alat untuk menaikkan kesejahteraan kita saja, lebih jauh daripada itu, K3 bisa menjadi sebab keluarga kita tetap lengkap karena kepala keluarganya bekerja dengan aman dan sehat.

Nah, di mana tingkat Budaya K3 perusahaan Anda?

Referensi
Hewitt, M. (2009). Relative Culture Strength : A Key to Sustainable World Class Safety Performance. Wilmington: DuPont.
Krzywicki, R. S., & Keesey, M. B. (2011). Using Safety Perception Survey to assess your organization’s Safety Culture. DuPont.

Tampilan Penuh

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Health and Safety Manager di Perusahaan Multinasional, Master Degree di Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia. Selalu senang untuk berdiskusi terkait dengan K3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close