Aspek OrganisasiBudaya Selamat (Safety Culture)

Kunci Meningkatkan Budaya K3: Keterlibatan Aktif Seluruh Pekerja

“Beritahu saya, maka saya akan lupa

Tunjukkan kepada saya, maka saya akan ingat

Libatkan saya, maka saya akan mengerti”

Paragraf di atas adalah sebuah pepatah dari China yang sangat pas diterapkan dalam membangun budaya Keselamatan dan kesehatan Kerja di perusahaan.

Budaya keselamatan dan kesehatan kerja di suatu tempat merupakan hasil dari persepsi bersama yang berdasarkan dari nilai dan membentuk sebuah kebiasaaan keselamatan kerja yang terus menerus. Dengan budaya K3 yang tinggi, para karyawan pasti akan menggunakan Alat Pelindung diri dan mematuhi semua prosedur keselamatan bahkan tanpa harus ada yang mengawasi. Mereka sudah terbiasa dan yakin bahwa K3 adalah untuk keselamatan mereka sendiri.

Budaya K3 inilah tantangan terbesar seorang ahli K3, karena mereka harus mengubah kebiasaan banyak orang. Kadang malah jauh lebih mudah mengubah fungsi seperangkat mesin daripada mengubah kebiasaan banyak orang karena mesin tidak bisa memilih diantara pilihan, manusialah yang mengatur agar mesin dapat memilih. Sementara manusia tentunya bisa memilih banyak perilaku, apakah itu perilaku aman atau tidak aman atau justru memilih perilaku aman hanya ketika ada bos dan kalau tidak ada bos mereka kembali ke perilaku sebenarnya.

Jika inspeksi harian seorang ahli K3 tidak menghilangkan perilaku tidak aman atau jika media-media promosi selalu dihiraukan oleh pekerja, atau tool box meeting kita hanya dianggap formalitas, maka Anda harus mulai berpikir untuk lebih melibatkan pekerja.

involvingSumber Gambar:  http://safetybuiltin.com/wp-content/uploads/2013/06/safety-meeting3.jpg&imgrefurl=http://safetybuiltin.com/2013/06/23/building-safety-ownership-in-front-line-employees-part-2/

Ada 5 langkah sederhana yang bisa diterapkan untuk melibatkan pekerja dalam membangun budaya K3:

  1. Berhenti Berfikir Keselamatan Kerja adalah Tanggung Jawab Departemen K3

Seringkali di banyak pabrik, semua hal terkait dengan K3 akan dilakukan oleh departemen K3. Hal ini juga berlaku jika ada kecelakaan kerja, maka departemen K3 bisa jadi akan dikambinghitamkan. Padahal, seharusnya keselamatan kerja adalah tanggung jawab semua orang terutama para top manajemen di masing-masing area karena keselamatan kerja akan bermanfaat langsung kepada operasional semua departemen. Maka, semua departemen harus berhenti meng-subkontrak keselamatan kerja di wilayah mereka kepada departemen K3. Namun, departemen K3 tetap harus bertanggung jawab untuk mengkordinir seluruh aktivitas K3 di perusahaan

  1. Bangun Program Spesifik.

Setiap tingkatan manajemen pasti memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Oleh karena itu, kita kadang harus menciptakan semua program peningkatan budaya K3 yang sesuai dengan tingkatan manejemen. Untuk tingkatan operator dan staff misalnya kita bisa buat program ide perbaikan keselamatan kerja dan untuk tingkatan Top Manajemen kita bisa buat program inspeksi manajemen rutin per bulan. Program peningkatan budaya k3 ada juga yang bersifat umum seperti Pembuatan HIRADC/ Analisis Bahaya dan Resiko Keselamatan Kerja yang mana program tersebut harus mempertimbangkan seluruh masukan dari setiap orang di departemen terkait.

  1. Sepakati Target Bersama

Program yang kita buat harus memiliki target jumlah pelaksanaan yang jelas. Target-target tersebut harus disepakati oleh semua pihak termasuk Direktur Utama. Jauh lebih baik lagi jika target-target ini tidak hanya menjadi target departemen safety, target ini harus menjadi target bersama semua departemen. Misalnya, angka inspeksi manajemen departemen masing-masing per bulan atau angka ide perbaikan yang harus dikumpulkan per bulan.

Saya pernah melakukan sebuah riset kecil terhadap program budaya K3. Hasil riset saya menunjukkan bahwa keterlibatan aktif departemen terhadao target k3 yang diberikan mampu menaikkan jumlah pelaksanaan program K3 hingga 20 kali lipat dalam 1 tahun.

  1. Lakukan pengawasan target

Setelah target telah disusun dengan baik, maka target tersebut harus selalu diawasi trend per bulannya. Kita bisa melihat dari trend tersebut mana departemen yang belum memenuhi target yang telah disepakati. Trend-trend tersebut juga bisa dikirim atau dipresentasikan ke para Manajemen untuk member gambaran sejauh mana mereka terlibat dalam upaya keselamatan dan kesehatan kerja

  1. Jalankan konsekuensi dari target

Jangan sampai target yang telah dibuat menjadi sia-sia hanya karena orang-orang yang dibebankan target tersebut tidak melaksanakannya. Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah mekanisme konsekuensi baik bagi yang mencapai target atau yang tidak mencapai target. Sebuah meeting Manajemen dapat menjadi cara ampuh untuk “mengadili” orang-orang yang tidak mencapai target yang telah disepakati. Peniadaan bonus juga dapat menjadi alternatif untuk menjadi konsekuensi dari absennya orang tersebut terhadap target yang telah disepakati.

 

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Saya berharap Anda selalu selamat

Komentar Anda?

Close
Close