Aspek OrganisasiDasar K3Uniknya K3

Efektivitas Kampanye K3: Dari Pemberian Hukuman Hingga Poster

Banyak asumsi menyatakan bahwa motivasi yang kurang atau rendahnya perhatian keselamatan kerja memiliki kontribusi besar terhadap kejadian kecelakaan sehingga banyak perusahaan membuat kampanye Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sebuah kampanye k3 bisa didefinisikan sebagai sebuah program yang ditunjukan untuk mempengaruhi pekerja atau manusia untuk berfikir atau bertindak secara aman. Program-program tersebut didesai untuk mempengaruhi perilaku dengan memberikan penghargaan, hukuman atau ancaman. Kita juga bisa menyediakan informasi spesifik seperti yang dilakukan dalam pelatihan K3.

Sedikitnya terdapat 3 bentuk berbeda untuk kampanye motivasi yaitu poster, fill dan skema insentif.

Jenis poster K3 dibagai menjadi 4 jenis:

  1. Poster yang memberikan kesadaran isu K3
  2. Poster yang berisi peringatan atau informasi tentang bahaya spesifik
  3. Poster yang menyediakan inforrmasi umum seperti persyaratan dan regulasi
  4. Poster yang berisi ancaman

Karl-Lagerfeld-safety-vest

Gambar 1. Poster K3

Sumber: http://www.luxpresso.com/news-lifestyle/karl-lagerfeld-stars-in-road-safety-campaign/2705

Film atau video menjangkau ara yang sama dengan poster. Film ini biasanya berdurasi pendek ( tidak lebih dari 30 menit) dan biasanya digunakan dalam pelatihan. Catatan instruktur biasanya ditambahkan dengan material audio visual.

Banyak perusahaan memberikan hadiah yang diberikan dalam kompetisi antar departemen atau pencapaian target dalam sebuah pabrik. Target-target tersebut bisa berupa inspeksi, audit dan jam kerja bebas kecelakaan,

Efektivitas dari kampanye K3 adalah sebuah hal yang kadang sulit dijawab. Misalnya, kampanye bebas kecelakaan kerja justru dapat mengurangi keinginan dari tenaga kerja untuk melaporkan kecelakan karena mereka tidak ingin merusak angka bebas kecelakaan kerja yang sudah ada. Hal ini disebut under reporting yang dapat menyembunyikan bahaya-bahaya besar.

Sebuah cara tidak langsung untuk mengevaluasi efektivitas dari kampanye K3 adalah dengan melihat indikator kinerja yang terlihat seperti penggunaan dari Alat Pelindung Diri (APD). Banyak kampanye ditargetkan untuk menggunakan berbagai macam tipe APD. Hasil dari monitoring tipe kampanye seperti itu dilakukan dengan diawali pembuatan angka penggunaan awal sebelum diberikan kampanye dan setelah diberikan kampanye setelah beberapa bulan.

Sebuah penelitian dari Pirani dan Reynolds menunjukkan efek dari berbagai macam kampanye K3. Kemudian, mereka membandingkan efektifitas 2 minggu setelah kampanye dan 4 bulan sesudah pemberian kampanye K3. Tabel dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat di sini:

Safety Campaign Table

Tabel di atas menunjukkan seberapa efektif sebuah promosi K3 dapat bertahan. Data tabel tersebut juga sudah diverifikasi oleh peneliti lain. Dari tabel tersebut, poster yang berisi ancama tidak seefektif poster K3 yang bersifat umum. Hal ini dikarenakan material tersebut hanya mempengaruhi perhatian pekerja tetapi masih memliki efek yang beraneka ragam terhadap perilaku. Beberapa riset menemukan bahwa beberapa poster hanya dilihat sebagai sesuatu yang mengancam oleh pekerja namun pesan dari poster tersebut tidak dapat diingat.

Terdapat beberapa pengecualian terhadap komentar di atas. Secara umum, poster yang menakutkan dapat saja mengganti perilaku individu jika mereka dapat melakukan sesuatu yang lain untuk mengambil pengendalian dari situasi. Sebagai contoh, dalam studi yang lain, poster yang mengancam bahaya jatuh dari tangga yang ditempatkan tepat di tangga, akan menjadikan orang langsung memegang hand rail tangga.

Secara umum, lebih baik untuk menyediakan instruksi sederhana untuk meningkatkan perilaku ketimbang harus mengancam orang untuk berperilaku lebih aman. Sebagai pilihan lain adalah untuk menghubungkan kompetensi dan perilaku aman secara bersamaan dalam pikiran pekerja. Contoh dari penghubungan adalah seperti di industri minya di mana helm dan sepatu safety dicitrakan sebagai simbol dari profesional.

Tabel di atas menunjukkan kampanye K3 paling sukses untuk mendorong pemakaian APD adalah keterlibatan pekerja dalam bermain peran (role playing). Caranya dari bermain peran adalah para pekerja diminta untuk melakukan peran yang berbeda dari perilaku mereka biasanya. Pekerja yang normalnya tidak mengguanakan APD dapat diajak diskusi untuk mendukung pemakaian APD. Permainan pera ini dapat diefektif berdasarkan 2 alasan. Pertama, pekerja akan familiar dengan pandangan berlawanan. Kedua, yang paling penting, manusia butuh untuk mendapatkan alasan kenapa mereka melakukan sesuatu, dalam kasus ini, berperan sebagai posisi yang berlawanan dapat menjelaskan alasan kenapa mereka berada dalam posisi tertentu.

Tabel di atas tidak memasukan referensi dari efektifitas dari pemberian hadiah. Meski banyak laporan menunjukan bahwa terdapat peningkatan yang spektakuler dalam penurunan angka kecelakaan, bukti yang diterima masih belum cukup karena pemberian hadiah merupakan bagian dari sistem manajemen K3 secara umum. Menjadikan pemberian hadiah sebagai sebuah program yang sukses sendirian adalah harga yang kurang tepat.

Kesimpulan yang dapat diambil dari kampanye motivasi K3 adalah:

Kampanye yang sukses lebih terlihat dalam kampanye yang langsung dan spesifik daripada kampanye yang terlalu umum dan menyebar. Propaganda yang dibuat juga harus relevan terhadap tenaga kerja terhadap tempat kerja mereka yang biasa agar lebih diterima mereka.

  • Poster bahaya spesifik berguna sebagai peningkat memori jangka pendek jika ditunjukan untuk topic yang spesifik dan ditujukan di posisi yang cocok. Poster yang berisi ancaman dan kecemasan harus digunakan dengan hati-hati. Poster yang berisi informasi umum telah dibuktikan tidak efektif.
  • Kampanye K3 tidak boleh hanya sekali karena efek yang diterima hanya singkat saja yaitu hanya sekitar 6 bulan. Ini membuat kampanye K3 kadang mahal karena harus jangka panjang.
  • Kampanye motivasi adalah sebuah cara untuk mengendalikan pelanggaran rutin (routine violation). Kampanye tersebut tidak berlaku untuk kesalahan manusia (human errors) yang disebabkan oleh kesalahan desain dan kesalahan harmonisasi antara manusia dengan tugas.

Referensi

Center for Chemical Process Safety. (1994). Guideline For Preventing Human Error in Process Safety. New York: American Institute of Chemical Engineers.

 

 

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Health and Safety Manager di Perusahaan Multinasional, Master Degree di Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Indonesia. Selalu senang untuk berdiskusi terkait dengan K3

Komentar Anda?

Back to top button
Close