Aspek OrganisasiKesehatan kerja

Manajemen Stres Pekerja

Stress adalah istilah menarik, kompleks, dan sangat sering disebut ketika ditemukan kondisi dimana ada situasi yang tidak sesuai antara kemampuan seseorang atau keinginan seseorang dalam menjalani hidupnya. Kondisi yang disebut stres oleh kebanyakan orang ketika mengalami hasil pendefinisian terhadap stres di atas adalah kondisi psikologis.

Walaupun begitu, tak hanya kondisi psikologis saja yang termasuk dalam kategori stres, stres fisik pun dapat terjadi dan merupakan jenis stres pula. Hingga saat ini terdapat dua jenis stres yang cukup mudah untuk dikenali, yaitu stres mental dan stres fisik. Umumnya, stres mental diakibatkan oleh kondisi psikososial seperti pekerjaan, sebuah hubungan, kondisi keuangan, keluarga, dan gangguan psikologis yang khas. Sedangkan stres fisik berasal dari kondisi kesehatan tubuh seperti adanya racun dan alergi dalam tubuh, penyakit kronis maupun akut, konsumsi obat-obatan yang berlebihan, serta kelelahan.

Kedua hal tersebut, menurut Staal (2004), didukung oleh teori tentang stres dari Welford (1973) dan Hammond (2000) bahwa stres terjadi karena adanya pelanggaran kondisi alamiah antara kognisi atau pola pikir dengan lingkungan, dalam konteks lingkungan fisik, mental, sosial, budaya tertentu, maupun beban yang dialami seseorang.

Stress tak mesti bersifat negatif, ada juga stress yang bersifat positif. Misalnya, ada teman kita yang dikejar oleh Anjing, dia pasti akan langsung mengalami stress namun stress itu justru akan membuat dia dapat berlari lebih kencang, justru kalau tidak stress dia pasti akan mendapatkan masalah besar.

Secara dampak, stres dibagi menjadi 2:

  • Distress yaitu hasil dari respon terhadap stress yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif(bersifat merusak).
  • Eustress yaitu hasil dari respon terhadap stress yang bersifat sehat, positif, dan

Konstruktif ( bersifat membangun)

Dalam tulisan ini, kita berfokus hanya kepada distress saja.

Untuk mengelola stres ketika kita mengalami kondisi yang seringkali tiba-tiba datang, kita perlu mencermati kiranya apa kebutuhan dan tolak ukur diri sendiri dalam berbagai aspeknya sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi. Apakah yang kita butuhkan adalah perlindungan? Apakah yang kita butuhkan adalah kenyamanan? Ataupun ada hal lain yang benar-benar dibutuhkan? Hal-hal yang benar-benar kita butuhkan kadangkala kita temukan setelah melalui proses panjang. Proses-proses tersebut dapat diawali dengan identifikasi kondisi relasional lingkungan tempat kita berada dengan sumber-sumber penyebab stres bagi diri kita.

Stress berdasarkan sumbernya setidaknya dibagi menjadi 2, yaitu:

  1. Job Content, adalah stress yang berasal dari pekerjaan itu sendiri seperti beban kerja, lama kerja, jenis pekerjaan, kondisi lingkungan.
  2. Job Context, adalah stress yang berasal dari hubungan pekerjaan seperti hubungan dengan rekan kerja, jenjang jabatan ataupun hubungan dengan keluarga di rumah.
A stressed business woman looks tired she answer telephones in her office

Sumber: https://www.fivestaroccmed.com/2016/01/managing-work-related-stress/

Setelah mengetahui hal tersebut, proses selanjutnya pun tidak selalu mudah ketika diri kita belum menerima kondisi-kondisi di atas sebagai sesuatu yang telah tercipta dan benar-benar nyata. Seringkali ada proses denial atau penolakan, yang disadari maupun tidak, dapat memperlambat diri kita saat menuju proses hidup kita selanjutnya.

Prinsip manajemen stres menurut Cox, 1993, terdiri dari tiga hal, antara lain sebagai berikut:

  1. Pencegahan

Melalukan kontrol terhadap potensi bahaya dan pajanan potensi bahaya dengan melakukan desain dan pelatihan pada pekerja untuk mereduksi kemungkinan pekerja terkena stres.

  1. Reaksi

Melakukan pemecahan masalah berdasarkan manajemen dan kelompok, untuk meningkatkan kemampuan rekognisi dan pengendalian masalah saat masalah muncul.

  1. Rehabilitasi

Memberikan dukungan (termasuk konseling) untuk membantu pekerja mengatasi masalah yang muncul dan memulihkan diri dari masalah tersebut. Sementara itu Kurniawidjaja, 2013, mengemukakan bahwa pengelolaan stres kerja sama halnya seperti mengelola risiko dan potensi bahaya kesehatan kerja, manajemen stres di tempat kerja mengikuti siklus manajemen risiko yaitu antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian stres kerja. Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menurunkan risiko stres akibat kerja yaitu dengan mengembangkan pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja yang kondusif bagi kesehatan kerja. Upaya pengembangan pengorganisasian pekerjaan antara lain sebagai berikut (Kurniawidjaja, 2013):

  1. Menerapkan prinsip partisipasi

Melakukan prinsip partisipasi sejak awal misalnya pada perencanaan program, penetapan standar evaluasi dan penetapan kebijakan dengan melibatkan wakil pekerja dalam tim. Tujuannya pendekatan partisipasi adalah agar keputusan yang diambil dapat diterima oleh semua pihak, pekerja turut merasakan kepemilikan program dan merasa dihargai, bertanggung jawab penuh dan termotivasi bekerja giat.

  1. Menerapkan prinsip desentralisasi dan otonomi

Dalam manajemen desentralisasi atau otonomi, cabang atau bagian atau individu diberi

ruang gerak untuk memutuskan sendiri tentang perencanaan dan tingkat hasil yang ingin dicapainya yang sesuai dengan kondisi di lapangan, yang cocok dengan bakat, minat, kebutuhan dan potensi diri masing-masing individu; namun otonomi tetap dalam suatu sistem yang terkendali, yaitu tetap di bawah pengawasan dan usulan yang diajukan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari atasannya yang diberi tanggung jawab untuk itu, tujuannya agar masih terintegrasi dengan perencanaan tingkat di atasnya di dalam situasi yang khusus, dan terjadu keseimbangan yang sinergis antara strategi perencanaan pusat dan individu/kelompok.

  1. Menerapkan konsep tugas penuh.

Konsep tugas penuh diterapkan pada pekerjaan yang dapat dikerjakan secara mandiri. Kelompok atau individu diberi wewenang tertentu yang dapat diterima oleh kedua belah pihak (manajemen dan pekerja), dalam rangka menumbuhkan rasa kepemilikan dan demikian pekerja menjadi termotivasi untuk melaksanakan dan menyempurnakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Sementara itu upaya pengembangan budaya kerja di bidang kesehatan kerja bertujuan agar setiap anggota menampilkan perilaku aman dan sehat. Pada tempat kerja, budaya kerja kolektif dikembangkan antara lain melalui langkah – langka sebagai berikut (Kurniawidjaja, 2013):

  1. Penetapan komitmen dari pimpinan puncak;
  2. Penetapan nilai organisasi dan standar perilaku yang merefleksikan visi dan misi dari perusahaan;
  3. Penetapan sistem pemantauan dan sistem pengendalian;
  4. Penetapan sistem pelaporan dalam struktur organisasi;
  5. Penetapan hierarki kekuasaan;
  6. Penetapan simbol dan semboyan yang menjadi kebanggan seluruh anggota organisasi;
  7. Penetapan sangsi dan penghargaan;
  8. Pelaksanaan pertemuan dan diskusi rutin, serta sistem pelaporan.

Strategi yang tepat dapat ditentukan dan dilakukan berdasarkan dari teori-teori, hasil diskusi tentang pengalaman-pengalaman, hingga professional judgement. Satu hal yang paling mendasar dari tahapan-tahapan manajemen stres adalah: nikmati perjalanan hidupmu dan bersyukur. Selamat mengatasi stres!

Ditulis Oleh : Atthina Ayu Mustika, Mahasiswi Strata 1 Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakata

REFERENSI

Cox, Tom. 1993. Stress Research And Stress Management : Putting theory to Work. European Agency for Safety and Health at Work. Retrieved From : http://www.hse.gov.uk/research/crr_pdf/1993/crr93061.pdf

Hyman, Mark. 2006. Ultra Metabolism: The Simple Plan for Automatic Weight Loss. New York: Scribner

Kurniawidjaja, Meily. (2010). Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Staal, Mark A. 2004. Stress, Cognition, and Human Performance: A Literature Review and Conceptual Framework. California: Ames Research Center.

Agung Supriyadi, M.K.K.K.

Saya berharap Anda selalu selamat

Komentar Anda?

Back to top button
Close