Housekeeping dan Personal Hygiene di Tempat Kerja

Oleh : M. Ricky Pratama, S.K.M. ( IH & Compliance Advisor PT Mc Dermott Indonesia)

Permasalahan housekeeping (kerapihan) merupakan masalah klasik dalam penerapan K3 di hampir semua jenis tempat kerja. Kondisi kerja yang rapi dan resik adalah kondisi ideal yang pastinya didambakan setiap personel K3 di tempat kerjanya. Housekeeping yang baik memang menunjang terwujudnya kondisi kerja yang aman dan juga bersih sehingga potensi bahaya keselamatan maupun kesehatan dapat diminimalisasi. Namun, bagaimana jika kondisi yang serba rapi ini justru tidak ditemukan pada pekerjanya? Dapatkah housekeeping dilakukan dengan maksimal jika personal pekerjanya saja bermasalah dalam hal kerapian dan kebersihan?

1Gambar 1. Contoh tempat kerja dengan housekeeping yang buruk

(sumber: www.compliance.safetysmart.com)

Membicarakan housekeeping tidak akan bisa dilepaskan dari peran serta pekerjanya itu sendiri. Hal ini semata karena dibutuhkan konsistensi dari para pekerja agar kondisi yang rapi dan resik dapat terus terjaga. Hal ini tentu sulit tercapai jika dalam tataran pribadi saja pekerja sudah enggan membuat dirinya rapi dan bersih. Oleh karena itu, sangat penting bagi tempat kerja untuk mensosialisasikan manfaat personal hygiene. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk pekerja, tetapi juga untuk menunjang kondisi kerja yang aman dan sehat.

Raterman dalam Plog & Quinlan (2002) memasukkan aspek personal hygiene (kebersihan diri) ke dalam kontrol secara administrasi dalam keseluruhan metode pengendalian dalam penanggulangan bahaya higiene industri. Beberapa penelitian seperti Lestari & Utomo (2007) dan Cahyawati & Budiono (2011) juga membuktikan adanya hubungan antara aspek personal hygiene dengan kejadian dermatitis di tempat kerja. Personal hygiene juga menjadi bagian yang terpisahkan pada kontrol untuk bahaya akibat penggunaan produk kimia berbasis solvent (Fulton dalam Plog & Quinlan, 2002) dan juga temperature panas (Bernard dalam dalam Plog & Quinlan, 2002).

Personal hygiene yang terjaga tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan. Personal hygiene juga menunjang kepercayaan diri pada pekerja dan hubungan sosialnya dengan orang lain. Tentu saja hal ini akan sangat mempengaruhi aspek psikososial di tempat kerja yang pada gilirannya juga akan berdampak pada implementasi K3. Akan sangat sulit membayangkan seorang Safety Officer yang memiliki bau badan kurang sedap sehingga pekerja enggan didekati ketika ia hendak melakukan intervensi. Atau yang lebih parah jika seorang supervisor yang memiliki kebiasaan higiene yang buruk sehingga ia akan menjadi contoh yang kurang baik bagi anggotanya.

Berbicara personal hygiene, tak akan dapat dilakukan jika kita tidak merinci bagian pada tubuh kita yang perlu mendapat perhatian lebih. Berikut contoh-contoh masalah personal hygiene yang mungkin saja timbul pada area spesifik di tubuh kita:

  • Rambut: rambut yang berminyak, ketombe, kutu rambut, rambut rontok.
  • Telinga: kotoran telinga, infeksi telinga.
  • Mata: Conjunctivitis.
  • Kulit: jerawat, eksim, dan inflamasi kulit lainnya,
  • Gigi dan Mulut: bau mulut, rongga pada gigi, sariawan, radang gusi.
  • Kaki, tangan, dan jari: athlete’s foot, infeksi jamur, dan bau kaki.
  • Alat Kelamin: infeksi bakteri, infeksi saluran kencing, higiene menstruasi, penyakit menular seksual.

Perusahaan tentu saja tidak bisa menjangkau terlalu jauh untuk mengintervensi seluruh aspek personal hygiene pekerja seperti yang disebutkan di atas. Hal ini terkait juga dengan gaya hidup yang sehari-hari dijalani oleh pekerja, khususnya di luar tempat kerja. Belum lagi jika aspek lingkungan tempat tinggal pekerja juga dinilai. Perusahaan akan sulit menjangkau hingga titik tersbut. Namun setidaknya ada beberapa hal yang bisa perusahaan lakukan seperti berikut:

  • Fasilitas MCK yang memadai

Perusahaan perlu memastikan tersedianya fasilitas mandi (opsional), cuci, dan kakus yang standar dan proporsional. Standar dalam arti memenuhi prasyarat umum fasilitas MCK. Proporsional dalam hal rasio jumlah pekerja, jenis kelamin, dan juga kebutuhan khusus lainnya. Kedua hal ini bisa merujuk pada peraturan pemerintah yakni Permenkes No 70 tahun 2016 Standar Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.

  • Fasilitas Cuci Tangan

Perusahaan juga harus memastikan adanya akses keran air yang mengalir (pilihan air dingin dan hangat lebih baik), sabun pencuci tangan, lengkap dengan kertas pembersih atau hair dryer sebagai alternatif. Penambahan poster yang berisi metode cuci tangan yang tepat juga dapat ditambahkan. Perusahaan juga idealnya memastikan mutu terkait air yang dikonsumsi dengan adanya pengujian berkala. Pengujian ini dapat mengacu pada standar lokal Permenkes no.416/1990. Terlebih jika perusahaan memakai berbagai jenis bahan kimia, ketersediaan fasilitas cuci tangan yang lengkap dengan pembersih kimia khusus menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

2

Gambar 2. Contoh fasilitas cuci tangan (sumber: www.education.govt.nz)

  • Promosi Personal Hygiene

Program yang sudah ada seperti tool box talk, induksi keselamatan, buletin HSE, ataupun Mading K3 dapat dimanfaatkan untuk kampanye personal hygiene. Pesan sederhana yang disampaikan seperti pentingnya cuci tangan, mandi dua kali sehari, dan menjaga kebersihan diri menjadi topik yang akan selalu hangat untuk disajikan. Meskipun pesan yang disampaikan merupakan hal yang sudah sepatutnya diketahui karyawan, penyampaian pesan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan sangat menekankan pentingnya isu ini.

  • Program Jumat Bersih

Perusahaan bisa menerapkan program Jumat Bersih yang bisa dirancang seminggu sekali selama 15-30 menit sebelum dimulainya shift kerja. Pemilihan waktu dan hari tentunya tentatif dan disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Program ini menekankan area housekeeping pada tempat kerja yang biasa ditempati oleh pekerja. Program ini juga bisa diperluas seperti membersihkan parit atau memungut sampah di halaman perusahaan.

3Gambar 3. Ilustrasi program Jumat Bersih (sumber: www.hsse.jgc.com)

Sumber:

Cahyawati, Imma Nur, Irwan Budiono. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis pada Nelayan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Universitas Negeri Semarang. 2011.

Ferdian, Riska. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja Pembuat Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2012. Skripsi: UIN Syarif Hidayatullah. 2011.

Kurniawidjaja, L. Meily. Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. UI Press. Jakarta: 2010.

Lestari, Fatma, Utomo HS. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja di PT. Inti Pantja Press Industri. Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. FKM UI. 2007.

Nur Salamah, Agustina. Dermatitis Kontak pada Pekerja Konstruksi PT Waskita Karya Proyek World Class University di Universitas Indonesia tahun 2012. Skripsi: Universitas Indonesia. 2012.

Plog, Barbara A, Patricia J. Quinlan. Fundamentals of Industrial Hygiene 5th Edition. National Safety Council. USA: 2002.

Leave a Reply